

Sejak sore, ia sudah duduk di kursi kayu ruang patung studioku. Ia duduk tegap tepat di bawah sorot lampu neon, tubuh jenjangnya ditopang punggung yang bersandar pada sandaran kursi sehingga menciptakan sikap tegas dan elegan.
Perlu kuakui, ia begitu cantik dan manis. Mengenakan blus berbahan kombinasi satin dan katun dengan corak polkadot yang dipadukan dengan high heels berwarna kuning, tak berlebihan jika dalam pandanganku ia tampak mirip bintang iklan yang sering kulihat di televisi.
Sebelumnya, kami hanya menjalin hubungan lewat dating app, lalu aku memutuskan mengajaknya berkencan untuk pertama kali sore itu.
Aku mengajaknya ke studio, sebab ada yang ingin kuabadikan. Aku ingin menjadikan ia sebagai model untuk karya seni terbaruku, sebuah patung berbahan dasar soapstone. Sebagai pematung, sayang jika perempuan secantik dirinya tak kuabadikan dalam sebuah karya seni.
Menjelang Magrib, aku mulai merupa soapstone menjadi patung dengan menggunakan pahat, palu, dan sedikit bantuan bor listrik. Denting jam bertautan dengan rintik hujan yang mengetuk atap studioku.
Hujan sore di bulan September menciptakan nuansa syahdu antara aku dan dirinya yang sejak tadi masih duduk di kursi kayu di bawah sorotan lampu. Memang, sebelumnya aku telah mengatur posisi duduknya agar ia berada di sana, supaya ketika aku mulai memahat, aku mendapat sudut yang pas.
Semuanya berjalan lancar tanpa hambatan. Kupikir, ia benar-benar model yang berbakat, tak ada satu pun gerakan yang mengubah posisi duduknya.
“Sungguh, luar biasa sekali dirimu, tak menyusahkan pacarmu yang hanya sekadar seniman patung ini.”
Di tiap gores pahatan, aku selalu memerhatikan tiap goresan sedetail mungkin. Takut, jika akhirnya patungku tidak semirip modelku. Namun, bergelut dengan pahat dan soapstone selama satu jam cukup mengundang rasa lelah.
Punggungku terasa pegal, tanganku kesemutan. Segera aku menyimpan pahat yang kugunakan dan meninggalkan soapstone yang sudah hampir merupa kekasihku. Aku pergi ke ruang belakang meninggalkan patung yang tinggal 60% menuju selesai untuk membuat secangkir kopi.
Sebelum aku memutuskan membuat kopi, aku menoleh dan bertanya apakah dia mau kubuatkan kopi,
Ia tidak menjawab.
“Atau teh?”
Masih seperti di awal, ia diam membisu. Hanya denting jam yang seakan menjawab pertanyaanku.
“Sayang … ?”
Tetap saja, yang kudengar hanyalah tautan denting jam dan rintik hujan yang mengetuk genteng. Kulihat dia sama sekali tak berubah, tetap memertahankan posisi duduknya.
Aku tersenyum, tanpa berpikir panjang dan tanpa kutanya lagi, dengan inisiatif aku membuatkannya kopi hitam tanpa gula seperti kopi yang kubuat untuk diriku sendiri. Kupikir, ia akan menyukainya, sebab aku teringat ucapannya saat kami asyik chatting di dating app,
“Aku suka teh, juga suka kopi. Tapi, aku lebih menyukai kopi, juga dirimu.” katanya waktu itu.
Setelah menyeduh kopi kemasan di ruang belakang, aku kembali ke ruang patung sambil membawa dua cangkir kopi; satu untuk diriku, dan satu lagi untuknya. Kusimpan kopi milikku di sebuah meja kecil yang tak jauh dari soapstone yang sedang kugarap menjadi patung, sedangkan kopi miliknya kuserahkan padanya.
“Kopimu, sebagaimana katamu waktu itu, di samping kau menyukaiku, kau juga menyukai kopi, kan?” ucapku sambil menyerahkan secangkir kopi yang masih beruap itu padanya.
Ia seperti kursi yang didudukinya, diam tak bergerak, apalagi berbicara.
Aku mulai kesal, sebab pertama, dia tak berbicara dari tadi. Kedua, dia terlalu totalitas menjadi model sehingga kupikir ia tak ubah seperti patung.
“Baik, aku tak akan memaksa agar ia menerima secangkir kopi kemasan buatanku itu.”
Jadi, dengan bijak kuambil sebuah meja kayu kecil berwarna merah jambu dan kusimpan meja kayu itu di sampingnya. Lalu, kusimpan secangkir kopi di atas meja berwarna merah jambu sambil bilang,
“Jika kau ingin, jangan sungkan.”
Hujan turun semakin deras, denting jam menjadi tak terdengar sejak air yang turun menjatuhi genteng mencipta suara gaduh tak karuan. Di dalam studio, hanya ada dua insan: aku dan dirinya, yang ditemani sorot lampu neon, uap kopi panas yang memenuhi ruangan, serta suara pahatan dan sesekali suara bor listrik yang menggores soapstone.
Menuju malam, hujan mereda dan patungku hampir selesai. Aku adalah pematung yang biasanya selalu dari tubuh bagian bawah, dan terakhir baru memahat kepala. Namun jujur, yang paling sulit bagiku adalah ketika memahat leher, sebab rentan patah.
Benar saja, ketika aku memahat bagian leher, soapstone itu patah. Sial! Aku melihat dirinya yang masih duduk di kursi kayu tak menghiraukanku yang sedang gelagapan menghadapi realita bahwa patungku patah tanpa kepala.
Untuk meredam kepanikan, aku menyesap sisa kopi milikku yang sudah dingin dan hambar. Dedaknya kurasa ikut terminum olehku. Setelah menjernihkan pikir, aku menatap patung tanpa kepala di hadapanku, lalu melihat pada modelku, cintaku, dan pacarku yang tetap tak berubah duduk di kursi kayu. Dalam sekejap aku berkata “Hei, ini tidak buruk. Justru ini begitu mirip dengannya yang duduk di sana.” aku tersenyum.
Dalam keadaan tenang, baru kusadari ternyata patung tanpa kepala itu tidaklah buruk, sehingga aku memutuskan untuk menyelesaikannya. Tanpa kepala.
“Sayang, sudah selesai, kau boleh istirahat.”
Dia aneh, selalu tidak menjawab.
Melihat reaksinya yang seperti itu sedari sore, mataku tertuju pada kopi yang telah kubuatkan dan kusimpan di meja merah jambu di sampingnya telah dingin dan sama sekali tak ia sentuh. Ah, ia masih tetap saja tak berubah, mungkin memang begitu.
“Sayang, kupikir kau lelah, mari ikut aku jika kau ingin beristirahat, aku sudah menyiapkan sebuah tempat di belakang studio, hanya untukmu.”
Aku membopongnya menuju sebuah tempat peristirahatan di belakang studio. Membuka pintu belakang studio, membawanya menuju halaman belakang yang basah karena telah diguyur hujan.
Remang-remang lampu di halaman belakang, bau wangi tanah selepas hujan, dan membopongnya menuju tempat istirahat yang sudah kusiapkan seakan membangun suasana bulan madu yang romantis, intim, dan syahdu.
Aku membopongnya melewati tiga gundukan tanah hingga ke ujung halaman belakang. Di sana, aku sudah sampai di tempat yang sudah kusiapkan. Aku menurunkannya, dan dengan segera menguburnya.
“Istirahatlah di sini. Kupikir kau cukup kelelahan seharian ini.”
Segera aku kembali ke studio dan masuk ke ruang belakang tempat aku membuat kopi. Untuk mengapresiasi diri atas karya seni terbaruku, aku membuka kulkas dan mengambil sebotol bir. Di dalam chiller, sengaja aku menyimpan bagian dari tubuhnya sejak sore tadi untuk kenang-kenangan. Wajah dari kepalanya yang terpenggal menatap balik ke arahku. Aku tersenyum dan menutup kembali kulkas.
“Yang keempat, setelah sebelumnya kuhabisi tiga model lainnya dua minggu yang lalu.”
Aku mengambil gawai dan membuka dating app. Bingo! Aku terkoneksi dengan seorang perempuan lagi. Baiklah, ini saatnya membuat galian kelima.
Berdomisili di Bandung. Dapat dihubungi melalui instagram @purwasundani
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!