Di kota Karawang, kota lumbung kenangan ini tak hanya harapan yang dapat kau jumpai, ada kegetiran, kandasnya kisah di pelaminan bahkan ada juga yang pisah ranjang tanpa kepastian. Kisah dalam contoh terakhir ini memang cukup rumit, dalam kasus pisah ranjang tanpa kepastian ini tak jarang menimbulkan konflik yang berlarut-larut bahkan sampai mempengaruhi stabilitas dapur yang bisa saja tak ngebul dan parahnya bisa berakibat pada rakyat anak-anak yang mulai kekurangan perhatian.

Pisah ranjang yang terjadi antara, sebut saja, Teh Ceuli Vs Kang Jiny bisa saja menjadi solusi bagi rumah tangga mereka yang sedang retak. Entah untuk istirahat dan berpikir jernih atau malah melakakukan hal lain seperti cari pengganti dengan cara menjelek-jelekan pasangan sebelumnya guna mendapat perhatian dan dukungan untuk “kawin” lagi. Ditambah mereka ini adalah pasangan yang cukup banyak asetnya, mulai dari perusahaan, pertambangan, portal berita, ormas, sawah, perumahan, tim sepak bola dan lainnya—eh bentar, kalo tim sepak bola ini masih abu-abu, antara milik pribadi atau joinan.

Tapi bagaimana kalau mereka pisah beneran? Selain berpotensi menciptakan chaos di dunia percaloan dan pamulanganan, juga chaos antara keluarga besar kedua belah pihak, antara keluarga besar koalisi ketomatan VS keluarga besar koalisi Indonesia Sebat.

Lebih ngeri lagi pasti makin banyak yang memanfaatkan keretakan rumah tangganya, terutama para mafia politik. Apalagi belakangan ini kedua belah pihak sedang rebutan perhatian dari calon-calon ketua RT, kompetisi yang terjadi antara TKN (Tim Kera Nungging) Vs BPN (Balada Pengangguran Naas) turut memanaskan persaingan antara sang istri dengan sang suami yang pisah ranjang ini.

Bahkan puncaknya ketika calon wakil RT singgah ke rumah si istri dan mengacungkan salam jempol botol, ramailah semua orang. Memang politik sering tak kenal tempat, semuanya dikait-kaitkan. Mulai dari jenis pakaian, pilihan makanan, dan jumlah perhiasan, hingga urusan selangkangan pun tak luput dari bidikan. Benar kata Iwan Fals dalam lagunya Asik Gak Asik ; “Dunia politik dunia bintang, dunia pesta pora para binatang, asik gak asik”.

Dalam banyak analisis receh khas gelandangan yang suka ghibahin orang seperti saya di atas, saya menemukan bahwa problem utama dari permasalahan ini adalah “kesetiaan”.

Mampukah kita bertahan danmenggantungkan harapan pada pasangan seperti itu? Mengingat keberadaan mereka mempengaruhi hajat orang banyak. Tapi ya kalau mereka tidak bisa setia,  ya tak apa sih. Kan, kesetiaan adalah kekayaan termulia di dalam kalbu manusia. Tak heranjika orang-orang murahan tak akan mampu setia—anzaay!

Namun tetap saja, saya masih berharap bahwa mereka bakal rujuk dan mempertahankan rumah tangganya. Kalaupun tak bisa dipertahankan, lebih baik segera ke pengadilan dan selesaikan secara tangguh dan bijaksana. Kalau gini terus kan rakyat anak-anak yang  jadi korban.

Memanglah banyak sekali tipikal-tipikal pemimpin (yang berpasangan ataupun tidak) seperti yang dipaparkan Maciavelli: cerdik, pandai, dan licin seibarat kancil, sekaligus kejam dan tangan besi bagai singa. Ah kalau di kita sih, kalaupun kancil, yang pasti mereka itu kancil dalam dongeng. Kalaupun singa, ya mereka itu singa piaraan.

Eh, cerita di atas familiar banget yah? Tenang, tenang, saya gak lagi ngomongin kepala daerah Karawang atau wakilnya. Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan. Kalau ada yang merasa ya silakan saja berbaper ria.

Profil Penulis

Ravindra
Ravindra
Pengamat hubungan orang