

Saya harus jujur atas satu hal. Sejatinya, membaca 1984 membuat saya sedikit gelisah.
“Gelisah kenapa? Memangnya semengerikan itu?”
Tenang dulu. Sebelum saya jelaskan, pastikan kamu sedang duduk nyaman tanpa ada pikiran berlebih. Pasalnya, pembahasan tentang dunia Orwellian ini bukan bacaan ringan yang bisa dikunyah sembari scrolling TikTok.
George Orwell, dalam novel klasiknya berjudul 1984, melukiskan sebuah dunia distopia yang mencerminkan ketakutan terbesar umat manusia. Dunia distopia yang dimaksud adalah hilangnya kebebasan, pemantauan tanpa henti dengan berbagai teknologi canggih, serta manipulasi total terhadap kebenaran dan latarnya dibuat jauh melampaui dari masa kini (masa depan). Melalui kisah Winston Smith, Orwell menyoroti bagaimana kontrol total dapat menciptakan realitas atau kenyataan yang menyesakkan kaum proletar. 1984 bukan cuma novel best-seller yang bisa dibaca santai. Di balik ceritanya, ada bayangan masa depan yang cukup menggelisahkan, terutama ketika kekuasaan dibiarkan lepas kendali dan manusia kehilangan kemampuan untuk berpikir sendiri.
Nah, supaya kamu dapat terbayang seberapa menyesakkannya dunia yang digambarkan Orwell, ada satu kutipan yang langsung terpatri di kepala saya saat membacanya.
Sejenak pikirannya tercurah pada tanggal yang meragukan di halaman itu, lalu ia tersentak saat ingat kata doublethink, pikir-ganda, dalam bahasa Newspeak. Untuk pertama kalinya, dia menyadari bobot dan keluasan dari apa yang telah dia bubuhkan. Bagaimana kau bisa berkomunikasi dengan masa depan? Secara alami mustahil masa depan bisa mirip masa kini, dan, kalau begitu, masa depan juga tidak akan mau mengindahkannya, atau bisa jadi masa depan sudah berbeda, dan kesulitan yang kini dialaminya akan tidak mengandung arti sama sekali. (2020: 11).
Kalau dilihat dari kutipan di atas, terdapat dua hal yang menjadi poros perhatian, “newspeak” dan konsep doublethink. Sejatinya, Newspeak, bahasa resmi Partai, dirancang untuk membatasi ideologi masing-masing individu. Dengan menghapus kata-kata tertentu, Partai menghilangkan kemungkinan bagi rakyat untuk mengekspresikan ide-ide yang bertentangan dengan doktrin Partai. Jika dalam Newspeak tidak ada kata kebebasan atau freedom, tentu saja masyarakat masih bisa membayangkan atau merasakan kebebasan? Dengan demikian, hal ini menjadi bentuk represi halus yang menghilangkan sebuah kendali diri terhadap realitas melalui bahasa.
Bahasa nyatanya bukan sekadar alat komunikasi, melainkan sarana untuk membentuk cara berpikir masyarakat. Dengan mempersempit kosakata, Partai menghilangkan potensi masyarakat untuk memberontak atau bahkan mempertanyakan kekuasaan. Dalam jangka panjang, generasi yang lahir dalam sistem ini tidak akan memiliki pemikiran kritis. Terhalangnya pemikiran kritis disebabkan tidak adanya bahasa untuk mengungkapkan sesuatu. Barangkali, pengurangan kosakata ini merupakan bentuk penindasan paling licik, dan jelas sunyi sebab tidak membutuhkan peluru, karena masyarakat tidak menyadari bahwa mereka sedang dikendalikan.
Di dunia nyata, kita juga dapat melihat bahasa digunakan sebagai alat kontrol. Berbagai contoh nyata terkait manipulasi bahasa yang dapat mengubah cara berpikir masyarakat adalah pemutar balikan narasi politik, sensor terhadap berita tertentu, serta penggunaan eufemisme untuk menyamarkan kebijakan kontroversial. Jika Orwell memperingatkan bahaya Newspeak, maka kini kita menyaksikan media massa (tertentu) dan pemerintah menggunakan retorika tertentu untuk mengarahkan opini publik.
Selain bahasa, sejarah juga diubah sesuka hati. Partai mengendalikan masa lalu untuk mengontrol masa depan. Mereka yang mengingat masa lalu sebagai suatu kebenaran, dilenyapkan secara fisik hingga riwayat kehidupannya. Konsep doublethink (kemampuan untuk percaya pada dua hal yang bertentangan sekaligus) menjadi standar berpikir. Kebenaran bukanlah sesuatu yang absolut, tetapi sesuatu yang dapat didefinisikan ulang sesuai mood-nya Partai.
Kekuatan ini memberi Partai kendali mutlak atas realitas, sebab apa yang mereka katakan dianggap sebagai satu-satunya kebenaran. Jika mereka mengatakan bahwa dua tambah dua sama dengan lima, maka masyarakat harus menerimanya tanpa pertanyaan. Pelenyapan masyarakat yang mengetahui kebenaran asli di masa lalu menunjukkan betapa berbahayanya kekuasaan Partai yang mampu mengontrol ingatan kolektif. Hal ini merupakan bentuk pengontrolan yang lebih menakutkan dibandingkan sekadar kekerasan fisik.
Nah, selain dua hal yang sudah saya sebutkan tadi, ada satu konsep anomali lain yang bikin geleng-geleng kepala. Masyarakat dalam novel hidup di bawah pengawasan mutlak Big Brother, sosok yang eksistensinya dipertanyakan. Slogan ikonik “Big Brother is Watching You” menegaskan bahwa tidak ada tempat yang benar-benar aman bagi masyarakat dari sudut pandang kekuasaan. Setiap gerakan diawasi oleh teleskrin, sebuah alat yang dapat membaca gerak-gerik. Bahkan, pikiran pun tidak luput dari kendali Partai melalui Polisi Pikiran atau Thought Police.
Ketakutan yang ditanamkan oleh Big Brother membuat masyarakat hidup dalam paranoia. Tidak ada satu pun tempat yang aman, bahkan di dalam rumah sendiri. Teknologi pengawasan (teleskrin) telah merasuk ke dalam setiap aspek kehidupan pribadi masing-masing individu. Masyarakat dipaksa untuk menerima kenyataan bahwa mereka selalu diawasi. Dengan ketakutan ini, mereka pun kehilangan keberanian untuk menentang aturan yang ditetapkan.
Winston Smith, sang protagonis yang juga seorang anggota Partai, mencoba memberontak dengan mencari kebenaran dan merasakan cinta sejati bersama wanita pujaan hatinya, Julia. Namun, cinta bukanlah hal yang dianjurkan bagi anggota Partai. Cinta menjadi sebuah hal yang tidak ada harga dan harapan dalam dunia Orwellian. Mereka harus melalui serangkaian proses indoktrinasi sebagai akibat dari adanya rasa sayang berlebih. Dengan adanya proses indoktrinasi yang brutal, Winston dapat mencintai Big Brother dengan tulus. Dengan demikian, indoktrinasi adalah puncak dari penindasan mutlak yang menghancurkan identitas seseorang hingga mereka tidak lagi memiliki kehendak sendiri.
Menutup lembar terakhir 1984, bukan hiburan yang saya rasakan. Pembacaan novel 1984 justru menimbulkan banyak sekali dilema, tekanan, angan-angan, serta ancangan atas dasar kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi di masa depan.
Timbul perasaan aneh membuat saya ngahuleung tarik
“Kok rasanya dunia yang dibayangkan Orwell terasa tidak terlalu jauh dari kenyataan kita di 2026?”
Dengan berita yang makin suram, teknologi yang makin invasif, dan kebenaran yang makin cair, rasanya sulit untuk tidak memikirkan kemungkinan buruk. Kemudian,
Apa benar saat ini kita masih aman, atau Orwell sudah lebih dulu menuliskan apa yang sedang terjadi sekarang?
Sampai-sampai saya berpikir, jangan-jangan Orwell ternyata time traveler yang kebetulan pernah ke Indonesia 2026 lagi.
Referensi
Orwell, George. 1984. Shira Media. Daerah Istimewa Yogyakarta: 2020.
Dapat ditemui di Instagram @nthanrck dan Google Scholar Natanael Ricky Putra. Sila dikunjungi, barangkali tertarik membaca penelitian akademik terkait sastra distopia.
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!