Parade Malam Hari

Irama itu!

Ia pertama kali mendengar irama itu bukan dari jalanan, tapi dari kamarnya sendiri, sekitar pukul dua lewat lima belas menit. Bunyinya pelan, sayup-sayup seperti parade yang megah namun tertahan–tidak cukup keras untuk memanggil orang keluar, tapi cukup jelas untuk membuatnya tetap terbangun.

Ia duduk di tepi tempat tidur, menunggu beberapa detik. Barangkali berharap suara itu berhenti sendiri seperti bebunyian lain yang kerap muncul di malam hari. Pipa air, decit tikus di plafon, atau suara langkah terseok orang yang pulang larut, tapi, ini bukanlah suara itu. Ketukannya konstan dan ajeg.

Rasa penasaran telah membuncah dalam hati, dengan perlahan ia membuka pintu. Pintu-pintu rumah terkunci rapat. Lorong gang tetap hampa, hanya tersisa lampu remang yang bisu. Tidak ada seseorang tapi irama itu tetap ada.

Dalam waktu sepelemparan batu, suara itu terdengar lebih dekat setelah ia kembali ke kamar. Suara itu tetap ada, sekarang terasa seperti berasal dari sudut dekat lemari, tempat ia menumpuk baju yang hendak dicuci. Lama ia menatap ke sana, bola matanya kini mencari hal yang ada. Bukan takut yang menjadi soal, hanya penasaran sekarang yang ada di dadanya.

Pagi harinya, ia coba menafsirnya sebagai hal yang dapat dijelaskan dari peristiwa semalam, ia berpikir barangkali hanya mimpi yang sangat jelas saja.

Ia tak terlalu ambil pusing memikirkannya–tidak sampai malam berikutnya, ketika irama itu mengalun kembali.

Kali ini, ia tidak membuka pintu. Ia hanya duduk diam, mendengarkan.

Beberapa malam berselang, ia mulai memberanikan diri keluar. Bukan karena percaya bisa menemukan asal suara tersebut, tapi karena diam di dalam kamar hanya membuatnya merasa irama itu kian mendekat. Seolah-olah suara tak membutuhkan ruang untuk bergerak. Kini ia mulai merindukan bebunyian normal pada malam hari. Entah jangkrik di sawah, tangis bayi tetangga, atau lamat-lamat riuh pos ronda.

Di luar, udara terasa dingin menusuk. Jalanan kosong-melompong, seperti selalu diam pada satu titik yang sama tiap malam.

Ia mulai berjalan tak tentu arah, lebih tepatnya hanya mengikuti insting menuju sumber bunyi itu–meskipun arah itu tidak pernah benar-benar tetap. Sampai pada suatu malam, ia melihat mereka.

Di lapangan yang tak terlalu luas, sekelompok orang berdiri dalam formasi yang tidak sepenuhnya rapi. Mereka memegang drum, snare, bass, dan beberapa alat musik lain yang ia pernah lihat namun tak tahu istilah untuk penyebutannya. Tidak ada penonton. Tidak ada penerangan tambahan. Hanya mereka serta irama yang selama ini ia dengar.

Ia berhenti di tepian lapangan. Barang sejenak, ia coba menyisir pandangan pada hamparan lapangan luas. Tidak ada yang terkejut melihatnya. Mereka tetap menaikturunkan nada sehingga tercipta irama konstan yang selaras.

Seorang pria kecil berdiri agak terpisah darinya. Ia menoleh sekilas, lalu mengangguk kecil tanda keramahan, kedatangan orang asing di tengah malam bukanlah suatu yang perlu dipertanyakan.

“Latihan biasa,” katanya tanpa diminta.

Ia tidak menjawab. Hanya mengangguk untuk menyembunyikan rasa kikuk, tidak yakin respons yang harus diberikan.

Irama itu persis seperti yang ia dengar di kamar.

Ia memperhatikan tangan-tangan yang bergerak, stik yang diayunkan dengan jeda yang nyaris sempurna. dan wajah-wajah yang tidak sepenuhnya bisa ia ingat beberapa detik setelah ia melihatnya.

Ia datang lagi malam berikutnya dan beberapa malam berikutnya lagi.

Kadang-kadang lapangan itu kosong, kadang tidak. Yang jelas, ia tidak pernah menanyakan mereka. Sungkan mengganggu.

Suatu siang, ia mencoba melewati lapangan itu. Tidak ada apa-apa di sana. Hanya rumput yang tumbuh tidak rata karena sering dipakai bermain bola dan terkadang pesta desa. Ia berdiri beberapa saat, mencoba mengingat posisi mereka, arah hadap mereka, tetapi semua itu terasa seperti susunan yang tidak bisa dipindahkan ke siang hari. Malam sudah melekat erat pada mereka.

Malamnya, irama itu terdengar lagi–bahkan sebelum ia mematikan lampu petromak.

Ia mengenali polanya. Tanpa sadar, jemarinya mengetuk permukaan meja mengikuti ritme yang sama. Pendek-pendek, berhenti sebentar, lalu berlanjut sedikit lebih cepat. Ia berhenti ketika menyadarinya, tetapi tubuhnya seolah sudah lebih dulu menghafal.

Suatu malam, ia kembali ke lapangan itu lebih awal dari biasanya. Mereka sudah ada di sana. Untuk pertama kalinya, ia merasa jumlah mereka tidak sama seperti kunjungan sebelumnya. Lebih banyak, atau mungkin lebih sedikit–ia tidak bisa memastikan. Wajah-wajah itu tampak lebih jelas, tetapi justru karena itu ia merasa tidak pernah betul-betul melihatnya sebelumnya.

Lama ia mengitari tepi lapangan, mencari pria yang pernah berbicara padanya. Ia menemukannya berdiri di posisi yang sama, menghadap ke arah yang tidak sepenuhnya sejajar dengan yang lain. Kali ini, pria kecil itu berdiri di seberang tempat mereka terakhir berbincang.

“Apa kalian tidak pernah selesai?” akhirnya ia buka suara.

Pria itu menoleh, sedikit mengernyit namun tetap tersenyum seperti mendengar sesuatu yang asing.

“Selesai dari apa?”

Ia tidak tahu harus menjawab apa. Bingung membangun percakapan. Irama itu tidak berhenti.

Sejak malam itu, ia tidak lagi datang ke lapangan.

Ia tidak benar-benar memutuskan untuk berhenti, ia cuma merasa tidak merasa perlu lagi pergi ke sana. Irama itu tetap datang dengan atau tanpa jarak.

Beberapa malam terakhir, ia hanya duduk di tepi tempat tidur, menunggu.

Ketika ketukan pertama terdengar, ia tidak lagi terkejut. Ia membiarkannya mengisi kamar, bergerak dari sudut ke sudut tanpa harus memilih tempat tetap. Kadang-kadang ia mencoba mengabaikannya, tetapi selalu ada jeda kecil dalam langkahnya sendiri, bahkan saat ia berjalan di siang hari, yang terasa mengikuti sesuatu yang tidak sepenuhnya ia dengar.

Ia menyadarinya suatu malam, ketika berjalan menuju kamar.

Langkahnya terhenti. Irama itu ikut terhenti.

Untuk beberapa detik, tidak ada apa-apa. Tidak ada suara, tidak ada gerak, seolah-olah dunia sedang menunggu aba-aba dan keputusan kecil yang tidak pernah diminta darinya.

Ia melangkah lagi.

Irama itu kembali sedikit lebih cepat dari langkahnya.

Ia tidak mencoba menghentikannya, tidak juga mencoba mengikuti sepenuhnya.

Namun, kini ia berada di lapangan luas, di belakangnya, formasi sudah rapi dan siap tampil. Ribuan orang telah berkumpul mengitari lapangan dengan sorot wajah datar. Pria kecil sudah sedia dengan snare dan dua stik di tangan. Panji-panji sudah dikibarkan, genderang siap ditabuh, kereta kencana siap berjalan di depan.

“Mari mulai,” ucapnya.

Irama itu dimulai dengan hitungan masuk darinya. Ia meneruskan parade malam hari yang tak pernah selesai.

Penulis dan alumnus Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Instagram @ardanfitriansyahhh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!