Sudah bukan rahasia lagi, manusia adalah makhluk yang benar-benar rumit. Kehidupan yang mereka jalani tidak hanya sebatas makan dan minum semata. Mereka berakal. Mereka juga bersosial. Karena itu, tidak sedikit kemudian cabang ilmu pengetahuan yang coba mengkaji mereka dari ragam sisi yang melingkupi. Entah itu dari sisi mentalnya yang kemudian dikaji dalam psikologi, maupun dari sisi hubungan antar sesama yang nantinya dikaji dalam sosiologi.

Sebagai bentuk dari ekspresi diri, kompleksitas kehidupan yang manusia jalani itu nyatanya memberikan pengaruh besar pada karya-karya yang mereka lahirkan. Dalam dunia sastra misalkan, kita akan menemukan penulis-penulis besar yang memberikan perhatian besar terhadap bidang ini. Sebut saja Jean Paul Satre, seorang filsuf Prancis yang pernah menolak menerima penghargaan nobel sastra ini mencoba memberikan pandangan tersendiri mengenai hubungan antar manusia dalam no exit yang kemudian dikenal darinya ungkapan “neraka adalah orang lain”. Sementara itu, salah seorang penulis beraliran naturalisme sekaligus sosok penting dalam perkembangan liberalisasi politik Prancis, Emile Zola, mengupas habis kondisi mental dan kejiwaan manusia dengan menunjukkan kerapuhan mereka dalam novel yang berjudul Theresa.

Jepang, sebagai salah satu negara Asia yang memiliki sejarah panjang kesustraan, tidak luput ikut andil dalam pembahasan tema besar ini. Di pertengahan abad kedua puluh misalkan, Osamu Dazai sempat menggegerkan publik dengan novel suram yang ia tuliskan. Novel yang lebih mirip autobiografi milik Dazai sendiri berjudul “Bukan Manusia Lagi” ini, menceritakan sosok Yozo Oba yang mempertanyakan hakikat kehidupan manusia yang sesungguhnya. Lantas, seiring bergantinya zaman dan berkembangnya industri manga dan perfilman Jepang, tema kerumitan manusia tersebut menjadi salah satu tema favorit yang banyak diperhatikan oleh para mangaka maupun sutradara film belakangan ini.

Boku wa Mari no Naka –atau yang disebut pula Inside Mari, adalah salah satu drama jepang terbaik yang menyuguhkan kegelisahan mengenai rumitnya sosok manusia, baik secara individu maupun sebagai bagian dari masyarakat. Berjumlah delapan episode, drama ini sendiri merupakan adaptasi dari manga karangan Oshimi Shozo yang dirilis pada pertengahan tahun 2016 dan sudah mendapat pujian dari orang-orang yang telah menyaksikannya sejak tahun 2017.

Cerita berputar pada Komori Isao, seorang laki-laki yang hidupnya tak ubah sebagai sampah masyarakat. Ia sengaja pindah dari desa terpencil ke kota Tokyo untuk melanjutkan pendidikan. Dahulu sewaktu SMA, ia pernah berharap menjadi seorang laki-laki populer yang memiliki banyak teman ketika nanti duduk di bangku perkuliahan. Namun pada kenyataannya, mau tidak mau kehidupan perkuliahan yang ia harapkan itu tidak pernah terjadi. Ia diabaikan teman sekampusnya, lantas merasa terkucil sendiran dalam tatanan masyarakat. Hari-hari yang penuh kesuraman itu terus berlanjut hingga akhirnya di tahun ketiga, ia memutuskan menjadi sosok pengurung diri yang hanya bermain game dan melakukan hal mesum di dalam kamar.

Dalam tiga tahun yang suram dan menyedihkan itu, hanya ada satu cahaya yang membuat Komori Isao tetap bertahan hidup. Cahaya yang disebutnya sebagai malaikat minimarket itu bernama Yoshizaki Mari. Dalam serial dramanya, Mari diperankan dengan sempurna oleh artis terkenal Ilaiza Ikeda. Namun siapa sangka, dibalik kecantikan dan sikap elegan gadis SMAnya, sosok Yoshizaki Mari ini ternyata menyimpan banyak rahasia yang mana baru terungkap sedikit demi sedikit ketika terjadi sebuah kejadian yang tidak masuk akal.

Suatu pagi, saat Komori Isao terbangun dari tidurnya, ia dikagetkan dengan sebuah kejadian mencengangkan. Tanpa mengerti apa yang sudah terjadi selain fakta bahwa ia sudah menguntit gadis itu semalam, laki-laki menyedihkan itu tiba-tiba saja sudah berada di dalam tubuh Yoshizaki Mari. Dengan segala kepanikan dan kebingungan yang melanda pikirannya, ia pun segera berasumsi bahwa jiwa mereka berdua kini telah tertukar. Namun anehnya, ketika Komori mengunjungi apartemennya dan menemui tubuh aslinya, rupanya yang ada di dalam tubuhnya itu bukanlah jiwa milik Yoshizaki Mari, melainkan milik Komori yang lain, seolah ada dua Komori. Lantas, kira-kira di manakah jiwa Yoshizaki Mari yang asli kini berada?

Komori yang berada di dalam tubuh Mari pun ke sana-ke mari mencari informasi keberadaan jiwa Mari. Tanpa diduga, banyak hal aneh yang kemudian Komori temukan seperti koleksi buku porno milik Mari, kebiasaan Mari mengumpulkan struk belanja minimarket, maupun fakta bahwa Mari tidak pernah pulang sebelum jam sembilan malam.

Dalam pencariannya terhadap jiwa Yoshizaki Mari itulah, Komori Isao akhirnya akan menyadari betapa rumitnya kehidupan manusia. Tuntutan masyarakat terhadap sosok sempurna Mari, hubungan persahabatan sejati yang Mari inginkan, keegoisan pribadi manusia, juga kemunafikan orang-orang di sekitar Mari adalah sedikit dari masalah yang harus dihadapi oleh sang Protagonis. Sialnya, Oshimi Shozo, sang pengarang manga Boku wa Mari no Naka ini berhasil menyingkap semua kerumitan itu dengan sempurna. Bahkan tak tanggung-tanggung, ia masih sempat ikut membumbui ceritanya dengan bumbu kepercayaan terhadap ajaran kuno Jepang.

Profil Penulis

Munandar Harits W
Munandar Harits W
Pria kelahiran Boyolali 15 Juli 1996