Panah yang Ditakuti Krisna

Panah yang Ditakuti Krisna

:Barbarika

 

Telah disuratkan kepadaku

Bratayuda melukiskan wajah merah tanah dan air

Gangga sungkan unjuk dirinya padaku

 

Mengapa kau biarkan tubuhku

Jadi pemakaman para kurawa?

Mengapa kau hanya menonton saja

Membuat hidup Gandari semakin gulita

Gerakan ilmu raga maha dewa!

 

Tiga anak panah

Membuat perang, sekejap luruh lantah

Tapi tidak Gangga jalanku telah tertutup

Kakiku tak lagi terasa langkahnya

 

Begitu pula lengan-lenganku

Tersebab aku telah melawan

bayangan di cermin

Ini kemenangan abadi

 

Pertama

Seperti seluruh daun di pohon beringin

tergengam dalam tanganmu

adalah takdir yang melintas tanpa aba

busurku menjelma mata dari angin

gugurlah seperti musim kemarau

 

Kedua

mata sudah membidik

anak sudah terdidik

diberkahi tangan dewi

tembuslah seluruh raga

tanpa mengenal siapa

 

Ketiga

datanglah kembali

seperti anak selalu hafal jalan pulang

melesat secepat cahaya

kembali kegenggamanku

bersiap menerima misi baru

 

Tidak Barbarik

lihatlah ke dalam buku takdirmu

sang perwira

tubuh  gagah perkasa

terpisah tanpa mahkota

 

Kau saksi pentas sejarah berlakon

atau perayaan sunyi

dengan tamu para scavenger

 

Windunegara, 2025 – 2026

 

 

 

:Bumo Narakasura

 

Berputarlah cakra Krisna

lumat badan penuh hancur prasangka

pantang kelapa bercabang dua

lantang jiwa menolak cinta

 

Telah kusembahkan seluruh aku

pada seorang yang kusebut kekasih

tapi ia memilih menyambung benang kusut

jerat cincin petaka di jari manisnya

 

Telah kutunaikan syarat batara kala

kau tusuk jantung takdirku

tercecer derita setiap air mata

sesak napas tercekik lara

 

Enyahlah ajian pancasona

petik sekar wijaya kusuma

taburi di atas jazadku

wewangian paling suci

leburlah panas api

sirami gigil mantra purba

 

Hancur badan bebas merdeka

dari pada dikepung duka nestapa

jangan ragu romo

sobek halaman buku takdirku

layangkan cakramu

 

 

Windunegara, 2025 – 2026

 

 

 

 

Surat Sengkuni

 

Gandari

kaulah purnama penenang gusar angin malam

kunang-kunang meminjam binarmu setiap petang

air danau memantulkan bening netramu

tiada yang lebih indah dari pancawarna senyummu

jangan matikan lentera sukma itu

 

Sejarah hanya mencatat nama pemenang

di balik konspirasi sebutir nasi

akulah yang terjaga sampai akhir

dipanku dari setumpuk jazad membusuk

tidur adalah neraka penuh luka menganga

 

Tidak ada dewa dewi di jeruji ini

sungai darah mengalir dari sela-sela besi

menyengat hidung aroma kelicikan

hidup di tengah siksaan: kegilaan

sebuah rusuk kering menjelma enam mata dadu

 

Detak ini menyimpan seratus jantung

berdegup lirih nyanyian keadilan

mengantarkan jiwa haus ketenangan

 

Destarata lunasi karmamu

siapkan seratus kubur

dan tujuh rupa sekar

 

Ayah merasuk di kaki pincangku

ia menuntun langkah kita

azimat dadu menjelma seratus busur panah

membidik dan membakar setiap amarah

di bawah langit Kurusentra

 

Windunegara, 2 Maret 2026

 

 

 

Sedang menamatkan S1 Agribisnis di Universitas Terbuka Purwokerto. Buku-bukunya yang sudah terbit antara lain Jejak Jarak (2018) dan Hakikat Hati (2018). Tulisannya dimuat di banyak media daring.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!