

Pahlawan kami sudah mati hari ini, bertepatan tujuh hari sebelum perayaan kelahirannya di bumi. Darahnya mengalir di sekujur tubuh, sepuluh peluru sudah bersarang di tubuhnya. Dua di jantung, tiga di perut bagian kanan, dua di dada sebelah kanan, satu di ulu hati, satu mengenai tulang kering bagian kanan, dan peluru terakhir mengenai tepat di keningnya. Nyawanya hilang seketika bahkan saat malaikat maut belum sempat diberi aba-aba.
Ada kabar bahwa seorang pria ditemukan tak bernyawa di bawah pohon jambu air. Warga berlarian ke sana dan kami tiba hampir bersamaan. Benar rupanya.
Itu Ramdan. Tubuhnya tergeletak dengan wajah menghadap langit. Bajunya koyak. Darah yang mengering sempat mengalir dari dada, perut, kaki, dan kepala. Sepuluh peluru bersarang di tubuhnya, seakan satu saja tidak cukup untuk membungkam suaranya yang lantang penuh kejujuran.
Kami pikir manusia baik akan hidup selamanya, tapi pahlawan kami membuktikan bahwa kebaikan tidak bisa menjadi abadi. Ia telalu lemah melawan kebiadaban. Kebaikan tidak pernah jauh dari kenaifan. Sungguh, sudah tidak lagi kami nikmati kebaikan dan keadilan yang dulu dibentangkan seluas garis cakrawala.
Dua hari sebelum kematian pahlawan kami, aku melihatnya berlari kecil ke arah sawah di belakang rumah. Di bawah rinai hujan panas yang katanya waktu dimana para kuntilanak dan wewegombel melahirkan, wajahnya menunjukkan kekalutan dan kekacauan yang kelihatannya jauh lebih menyeramkan hanya sekedar berjumpa makhluk-makhluk gaib tersebut. Kami saling tatap barang sejenak sebelum ia menghilang melewati pematang sawah seraya menenteng sandal jepit merah yang sudah tak lagi bagus bentuknya. Kupikir, menjadi pahlawan terlihat menyenangkan tapi melihatnya hari ini membuatku mengucapkan sumpah bahwa aku tidak akan menjadi pahlawan naif yang hidup di atas kaki kebenaran.
Malam berselang ketika ia menghilang, tepatnya pukul satu lewat tujuh belas menit, suara derap langkah terdengar di belakang rumah membuatku terhenyak. Ibu yang sedari terjaga melihat ke arahku dengan tatapan tajam. Ia menarik kain jarik yang ada di ujung kaki lalu menutupi tubuhku dan adikku yang pulas sedari azan isya.
“Tidurlah, Nak! Babi-babi itu sudah memakan singkong yang kita tanam. Jangan takut! sebab anjing kita tidak akan membiarkan mereka menghabisi milik kita sampai tidak tersisa.”
Aku hanya diam sambil mengamati Ibu yang mengambil selendang hijau lalu menudungkannya di kepala. Aku tidak bisa menatapnya lebih lama sebab cahaya kekuningan dari bohlam 5 watt memaksaku memejamkan mata. Tak berapa lama kemudian, sayup-sayup suara Ibu melantunkan surat yasin terdengar. Meski penasaran kenapa mengaji di jam sekarang tapi aku terlalu enggan untuk melontarkan pertanyaan.
Sekali lagi aku terjaga ketika suara derap langkah babi-babi itu terdengar dan kini semakin dekat, bersamaan dengan itu, suara Ibu melantunkan ayat-ayat suci seperti memberi perlawanan yang tak kasat mata. Lantang dan juga tak terkalahkan namun sendu sekaligus menyedihkan.
*
“Mereka sudah tidak bisa diajak untuk berdiskusi lagi dan mungkin sudah saatnya kita menyerah, Dan.” suara lirih Uwak Makmur terdengar putus asa, sudah tidak ada lagi perlawanan lantang seperti dulu.
Sejak sengketa lahan ini dimulai, konflik antar warga, pengembang, dan aparat sudah mulai memanas. Terlebih ketika Pak Nurman sebagai Kepala Desa lebih berpihak pada perusahaan pengembang untuk menggeruk tanah kampung kami yang memang sudah terkenal makmur dari dahulu kala. Namun memang yang paling keras melakukan perlawanan adalah Uwak Makmur dan adik-adiknya, sebab yang membuka kampung ini adalah ayah mereka.
“Kalau kita berhenti melawan, bagaimana dengan kampung kita, Bang? Sawah kita? Kebun kita? Anak-anak kita? Tidak akan ku biarkan mereka mengambil tanah ini barang sejengkal dan mengeruknya barang secuil, kampung ini dibangun oleh Abah sebelum orang-orang datang dan beranak-pinak di sini,” ucap Ramdan sambil melirik Ibu yang tengah duduk di sudut ruang tengah. “Uang ganti rugi yang mereka tawarkan tidak seberapa, Bang. Tidak sebanding dengan puyang yang kehilangan tanahnya, kita yang kehilangan rumah dan anak-anak kita yang kehilangan masa depannya.
Mendengar ucapan Ramdan, Uwak Makmur terdiam. Aku rasa Uwak Makmur sama sekali tidak berniat menyerah pada perusahaan sialan itu, tapi teror demi teror yang diterima oleh keluarga besarnya membuat ia menjadi gentar juga. Terlebih Ramdan adalah orang yang paling vokal menolak tanah ini digerus hanya itu keuntungan sepihak oleh petinggi perusahaan pengembang.
Kalau dipikir-pikir siapa yang peduli dengan kampung ini? Generasi baru tumbuh. Orang lain mungkin tidak lagi peduli dengan tanahnya, mereka peduli dengan apa yang tersimpan di dalamnya. Kekayaan yang melimpah ruah, sungai mengalir dari penggunungan lalu berakhir pada muara. Penduduk kampung ini mungkin tidak peduli jika pemilik perusahaan itu mengeruk semuanya tak terhenti.
“Bang, akan kusisakan sedikit tanah untuk anak cucuku kelak, biar mereka tetap merasakan betapa manisnya air penggunungan, betapa suburnya tanah puyang. Jika aku saja sebagai putra asli tidak lagi peduli kampung ini, lalu siapa lagi?” Ramdan melipat tangannya di dada, sorot matanya tajam seperti mata orang yang sudah lama siap mati.
Uwak Makmur menghela napas berat, seperti menahan beban yang tak bisa dibagi ke siapa pun. Ia tahu benar, Ramdan tak akan menyerah. Dan itu membuatnya takut. Bukan pada Ramdan, tapi pada dunia yang terlalu kejam bagi orang sejujur seperti dia. Sebab katanya dunia tidak pernah berpihak pada yang benar, ia hanya menjunjung pada mereka yang kuat dan perusahaan itu, mereka kuat bahkan terlalu kuat bagi Ramdan yang berpegang pada kejujuran.
*
Tak terlalu kupahami kenapa Pahlawan kami mati dengan begitu mengenaskan. Terlalu banyak peluru yang bersarang di tubuhnya dan kami tidak tahu harus menuduh siapa. Tak ada saksi. Tak ada penyelidikan. Hanya ada tubuh, darah, dan ketakutan yang menggumpal seperti awan hitam di atas atap rumah kami. Tubuhnya tergeletak di bawah pohon jambu air, bersimbah darah. Wajahnya tenang seperti orang tertidur. Di sakunya, terselip selembar kertas berlumur darah, sebuah tulisan tangan yang tak terlalu rapi tapi masih terbaca:
“Kalau suatu hari aku tak ada, letakkan aku di tempat pertama kali aku menanam pohon kemang bersama Abah. Di sana aku pertama kali mencintai kampung ini dan mungkin, di sana pula aku ingin tidur terakhir kali.”
“Bapakmu sudah mati nak,” ujar Uwak Makmur dengan suaranya yang lirih.
Aku mengangguk, “aku tahu,” jawabku pelan.
Ramdan si Pahlawan itu sudah tidak ada lagi di dunia ini. Di siang yang muram itu, warga berkumpul di balai bambu tempat biasanya rapat kampung. Tak ada yang bicara. Bahkan Uwak Makmur yang biasanya meledak-ledak kini hanya duduk diam, tangan gemetar, dan mata merah melihat tubuh adiknya kaku bersimbah darah. Sedangkan Ibuku meraung-raung meratapi tubuh suaminya, ia janda beranak dua sekarang, di sebelah kananya ada adikku yang ikut menangis meski ia tidak tahu apa-apa.
“Makmur, mari kita kuburkan jasad Ramdan sekarang,” ujar Ustad Rahim.
Semua orang mengangguk. Tapi tak ada satu pun dari kami yang benar-benar siap menguburkan Ramdan, si pahlawan kami yang kini sudah mati. Ia bukan cuma penjaga tanah ini. Ia penjaga ingatan. Ia yang mengajari kami bahwa hidup tak boleh tunduk pada uang dan ancaman. Ia yang mengingatkan bahwa leluhur kami membangun kampung ini dengan tangan dan kaki yang berdarah-darah. Dan hari ini, kami harus menguburkan tubuhnya yang penuh luka ditembus peluru.
Mereka menggotongnya ke atas bukit, di bawah pohon kemang tempat ia dulu sering duduk dan mengisap lintingannya saat sore hari setelah lelah bekerja. Di sana, tanah masih perawan. Masih wangi oleh rumput liar. Dan seperti wasiat yang ia tulis dalam surat berdarah itu, kami menguburkannya di tempat ia menanam pohon pertama kali bersama Abahnya.
Kuburan itu sederhana. Tak ada batu nisan, hanya sekeping papan dengan namanya dipahat tipis oleh tangan kecil keponakannya: Ramdan bin Suwarno. Lahir sebagai petani. Mati sebagai penjaga tanah.
Hari-hari setelahnya seperti siang yang tak pernah selesai. Panas, kering, dan menyengat. Truk-truk tambang kini mulai berani masuk ke jalur utama kampung. Jalan becek itu kini mengeras dilapisi batu-batu proyek. Beberapa rumah warga dijadikan pos oleh para pekerja tambang. Kepala Desa bahkan menyewa preman kota untuk “mengamankan proses pembangunan.”
Beberapa warga mulai menyerah. Menjual tanah mereka. Membeli motor baru. Membeli TV layar datar. Mereka bilang, “Hidup susah terus, buat apa tahan-tahan tanah yang sudah tidak bisa menjamin hidup?”
Aku tak bisa marah pada mereka. Hidup memang kejam. Tapi aku juga tak bisa lupa bahwa Ramdan mati untuk tanah ini, Ayahku mati untuk kampung ini. Untuk sungai yang dulu jernih tempat kami mandi sambil tertawa. Untuk pohon nangka tua tempat kami dulu bermain sembunyi-sembunyi. Untuk udara pagi yang segar tanpa debu batu bara.
Suatu malam, aku bertemu Uwak Makmur di jalan setapak menuju sawah. Ia sudah kurus, matanya dalam, tubuhnya seperti menua puluhan tahun hanya dalam hitungan minggu.
“Mereka datang lagi siang tadi,” katanya lirih. “Mereka minta kita pindah. Katanya tanah ini sudah jadi hak milik negara, dikontrakkan ke perusahaan selama 40 tahun.”
Aku diam. Aku marah. Tapi siapa yang bisa melawan mereka sekarang? Aku? Aku hanya anak kecil yang tidak pernah diperhitungkan, kalaupun aku dewasa apa aku seberani pahlawan kami yang telah mati itu?
“Aku akan pindah, Nak,” lanjutnya. “Tapi sebelum itu, aku akan tanam satu pohon jati lagi di samping makam Ramdan, ayahmu. Biar kalau nanti semua ini habis, setidaknya ada satu yang tumbuh dari perjuangannya.”
Air mataku jatuh malam itu. Tapi aku tak ingin Uwak tahu.
***
Hari ini, satu bulan setelah kematian Pahlawan kami, truk-truk itu menggali lebih dalam Perkebunan kami. Rumah pun hanya tinggal tiang. Udara berdebu sudah mulai terbiasa di paru-paru kami. Dan di tengah semua kehancuran itu, makam Ramdan masih di sana. Pohon jati yang ditanam Uwak Makmur sudah tumbuh setinggi lutut. Mereka tidak menyentuh makam itu. Entah karena takut, entah karena lupa. Tapi bagiku, itu satu-satunya tempat suci yang tersisa dan yang bisa ku kenang sebagai anaknya.
Dan malam ini, di kamar sempit tempat aku dan adikku tidur, Ibu kembali melantunkan surat yasin. Suaranya masih sendu. Masih bertahan di tengah babi-babi buas yang kini punya nama dan gelar.
Aku menatap langit-langit rumah dan bertanya dalam hati: Apa pahlawan akan selalu mati seperti ini? Tanpa upacara. Tanpa nisan. Tanpa nama yang diingat?
Tapi mungkin memang begitu takdirnya.Pahlawan sejati tidak hidup untuk dipuja. Ia hidup untuk disingkirkan, dan mati untuk dilupakan. Dan kami, hanya bisa diam sambil perlahan melupakan bahwa kami pernah punya seorang pahlawan bernama Ramdan, ayah kami. samar-samar, suara seseorang membisikkan namaku.
“Jangan jadi pahlawan, Nak. Dunia ini bukan tempat untuk mereka yang naif.”
Kini, aku tahu. Pahlawan kami mati hari ini.
Beberapa karyanya telah dimuat di berbagai media cetak maupun daring.
Saat ini, Lapia tengah menempuh pendidikan magister di universitas swasta di Jakarta. Di sela-sela kesibukan akademiknya, ia tetap menulis, membaca sastra, dan menelisik kenyataan lewat kata. Selalu jatuh cinta pada sastra, pada luka yang diubah menjadi puisi, dan pada kisah-kisah kecil yang menyimpan kebenaran besar. IG: Lapia Kunchay