

Aku tidak tahu sejak kapan perasaan itu muncul, yang aku ingat hanyalah saat pertama kali melihatnya.
Ada sesuatu yang aneh di matanya seperti ada cahaya kecil yang berpendar diam-diam di sana. Bukan cahaya yang menyilaukan, tapi cukup untuk membuatku berhenti sejenak. Untuk beberapa detik aku merasa seperti tenggelam di sungai tanpa dasar. Segalanya menjadi sunyi. Suara-suara di sekitarku perlahan menjauh, seolah dunia memberi ruang hanya untuk satu pemandangan: dia.
Lalu kesadaranku kembali.
Aku baru ingat bahwa aku sedang berdiri tepat di hadapannya. Aku ingin sekali bertanya namanya.
Hanya satu pertanyaan sederhana.
Tapi entah kenapa mulutku terasa terkunci. Kata-kata yang biasanya begitu mudah keluar tiba-tiba menghilang. Bahkan menatapnya terlalu lama pun membuatku gugup.
“Huh …”
Aku menarik nafas pelan, mencoba menenangkan diri.
Dengan keberanian kecil yang entah datang dari mana, aku kembali mengangkat kepala dan menatapnya.
Dia tersenyum.
Senyum itu manis dan tanpa sadar aku ikut tersenyum.
Aku menatapnya cukup lama, mungkin terlalu lama karena tiba-tiba dia menundukkan pandangannya, seolah sedikit malu. Wajahnya tetap tenang, tapi dari caranya mengalihkan mata, aku merasa dia juga gugup. Mungkin… dia juga merasakan sesuatu. Jantungku berdegup lebih cepat dari biasanya.
Sebelum keberanian itu menghilang, aku mengulurkan tangan. “Hai … ” kataku pelan.
Butuh satu detik lagi untuk mengumpulkan kata-kata yang tersisa di kepalaku. “Namaku Adit.”
Dia mengangkat wajahnya kembali. Matanya bertemu lagi dengan mataku. Lalu dia tersenyum sekali lagi.
Sejak hari itu, bayangannya sering muncul kembali di kepalaku. Baru kemudian aku tahu namanya. Namanya Nadya
Pertemuan singkat itu seperti meninggalkan sesuatu di dalam pikiranku. Hangat, tapi juga membuat gelisah.
Kulitnya kuning langsat khas perempuan Indonesia. Tubuhnya tidak tinggi, sedikit kurus. Tapi semua itu terasa tidak penting dibanding satu hal yang selalu tertinggal di ingatanku: senyumnya.
Senyum yang sederhana, tapi entah kenapa selalu membuat dunia terasa sedikit lebih tenang. Cara dia menatap. Cara dia berbicara.
Semua itu seperti potongan-potongan kecil yang terus berulang di kepalaku. Andai waktu berbaik hati mempertemukan kami lagi, aku berjanji pada diriku sendiri: aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu.
Malam itu aku memikirkannya terlalu lama.
Pikiran tentang Nadya berjalan pelan berulang-ulang sampai akhirnya aku tertidur tanpa sadar.
Pagi datang bersama suara alarm yang berisik. Aku terbangun dengan kepala sedikit pusing.
“Sial.” gumamku pelan.
Entah kenapa sejak membuka mata, satu harapan kecil muncul di dalam hati: semoga hari ini aku bertemu Nadya lagi.
Walaupun hanya sekadar berpapasan. Namun hari berjalan seperti biasa. Orang-orang datang dan pergi. Langit perlahan berubah warna, dan Nadya tidak ada. Menjelang malam aku kembali ke kamar. Sunyi.
Tidak ada suara selain napasku sendiri. Bahkan bayangannya yang tadi pagi terasa begitu dekat, kini seperti menjauh.
Akhirnya aku keluar rumah, mencoba mengusir pikiranku sendiri.
*
Udara malam terasa dingin. Jalanan tidak terlalu ramai. Aku berjalan tanpa tujuan yang jelas. Sampai di tepian jalan yang agak sepi, aku melihat sosok kecil berdiri sendirian di bawah lampu jalan. Awalnya aku tidak terlalu memperhatikan.
Tapi ketika dia bergerak sedikit di bawah cahaya lampu itu, aku langsung mengenalinya. Itu Nadya!
Dadaku tiba-tiba berdegup cepat. Aku berhenti sebentar di pinggir jalan.
“Harus nyapa gak ya?” gumamku pada diri sendiri. Beberapa detik aku hanya berdiri di sana seperti orang bodoh. Sampai akhirnya kakiku sendiri yang melangkah mendekat. “Hai…”
Suaraku keluar lebih pelan dari yang aku kira. Dia menoleh.
Matanya langsung bertemu dengan mataku. “Eh, Kak Adit,” katanya sambil tersenyum.
Senyum itu muncul lagi. Dan seperti biasa, setiap melihatnya aku selalu lupa apa yang ingin aku katakan.
“Oh… Eh kamu lagi apa di sini?” tanyaku akhirnya. “Oh iya, Kak. Aku lagi nunggu ojol.”
“Oh… ojol ya.”
Aku mengangguk kecil, meskipun sebenarnya tidak tahu harus menambahkan apa lagi. Beberapa detik kami berdiri dalam diam.
“Oalah … kalau gitu mau aku temani?”
Begitu kalimat itu ke luar, aku langsung menyesal sedikit. Rasanya terlalu tiba-tiba dan maksa saja, tapi Nadya hanya tersenyum.
“Gak usah, Kak. Bentar lagi juga datang.”
Dia menatapku sebentar, lalu mengernyit kecil.
“Kakak mau ke mana? Malam-malam gini mana nggak pakai jaket lagi.” Aku refleks melihat diriku sendiri.
Benar juga.
“Aku cuma… bosan di rumah.” Nadya tertawa kecil.
“Kakak mah orangnya gampang bosenan ya.”
Tawanya ringan dan jelas tidak mengejek. Di tangannya ada segelas kopi hangat. Uap tipis masih naik ke udara malam. “Kamu suka kopi, Nad?” tanyaku.
“Iya. Aku suka banget kopi.”
Aku mengangguk pelan. Beberapa detik aku berpikir keras mencari sesuatu untuk dikatakan.
Akhirnya satu kalimat keluar begitu saja.
“Kalau kamu ada waktu kita ngopi bareng, yuk.” begitu kalimat itu selesai, aku langsung merasa gugup. Bagaimana kalau dia menolak?
Tapi Nadya malah tersenyum lebih lebar. “Ayo, Kak. Kapan?”
Aku sempat terdiam sejenak.
“Besok kalau aku libur.”
“Oke.”
Jawabannya singkat, tapi cukup membuat dadaku terasa ringan. Tiba-tiba ponselnya berbunyi.
“Kak, ojol yang kupesan sudah datang.”
Motor berhenti tidak jauh dari kami. “Hati-hati ya,” kataku pelan.
Dia berjalan ke arah motor itu. Tapi sebelum naik, dia menoleh lagi. “Kakak pulang ya. Jangan begadang, gak baik.”
Aku tersenyum kecil. “Iya.”
Dia melambaikan tangan. “Dadah!”
Motor itu perlahan menjauh, membawa Nadya pergi bersama malam. Aku masih berdiri di sana beberapa saat.
Aneh.
Aku hanya bertemu dengannya beberapa menit tapi rasanya seperti sesuatu baru saja berubah di dalam hidupku.
*
Sore ini matahari perlahan tenggelam di ufuk barat, meninggalkan semburat jingga yang lembut. Angin yang berhembus pelan membuat hatiku terasa semakin lengang.
Sore itu aku sengaja datang lebih dulu ke tempat yang sudah kita janjikan. Entah perasaan apa yang memenuhi dadaku. Aku duduk di dekat jendela. Tempat ini sepi, hanya beberapa kursi kosong dan udara yang terasa sedikit dingin.
Setengah jam kemudian Nadya datang.
Ia celingak-celinguk sebentar, lalu menemukan mataku. Senyuman itu lagi.
Entah kenapa, setiap melihat senyumnya aku selalu gugup. “Halo, Kak Adit.”
“Hai, Nad.”
“Kakak sudah lama nunggu?”
“Enggak, aku juga baru datang.”
“Yang benar?”
“Iya. Ayo duduk.”
Seorang pelayan datang membawa daftar menu. “Mas, saya es kopi susu ya,” kataku.
Pelayan itu mencatat, lalu menoleh ke Nadya. “Nad, kamu mau apa?”
“Aku americano saja.”
“Pakai gula, Mbak?”
Nadya menggeleng pelan. “Tidak usah.”
Pelayan itu pergi meninggalkan kami.
“Nad, memang enak kopi tanpa gula?” tanyaku. Nadya tersenyum kecil.
“Justru lebih enak tanpa gula, Kak. Aku sudah terbiasa.” ia tertawa pelan “Seperti hidupku … pahit.” tambahnya
Kami berbincang lama. Tentang pekerjaan, kesibukan, dan hal-hal kecil yang membuat waktu berjalan begitu cepat.
“Nad, kamu berapa bersaudara?”
“Aku anak satu-satunya.”
“Kalau Kakak?”
“Aku anak pertama dari tiga bersaudara.” Nadya tersenyum.
“Oh, pantesan.” “Pantesan apa?”
“Kakaknya kelihatan sabar.”
Mendengarnya, aku hanya tertawa kecil.
Beberapa detik kemudian Nadya terdiam. “Kak” dia menatapku dengan tajam
“Iya” jawabku.
“Sebenarnya … bulan depan aku akan pindah ke luar kota, Kak.” aku terdiam.
“Aku beruntung sekali bisa kenal Kakak sebelum aku pergi.” dadaku terasa kosong.
“Ibu dan Bapakku bangkrut,” lanjutnya pelan. “Jadi kami harus pindah. Di sini sudah sulit untuk memulai lagi.”
Aku mencoba mencari kata-kata, tapi tak ada yang datang.
“Tapi aku berharap suatu hari bisa kembali ke kota ini,” katanya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. “Bisa ketemu Kakak lagi … bisa ngopi bareng lagi.”
“Memangnya tidak bisa tetap tinggal di sini?” tanyaku pelan
Nadya menggeleng “Tidak bisa.”
Ia tersenyum, walau matanya terlihat berat. “Makasih ya, Kak. Kakak sudah baik sama aku.”
Aku hanya bisa menunduk.
“Dan jangan bosan ngabarin aku ya, Kak … ” Ia menatapku sebentar.
“…karena aku suka Kakak.”
Kalimat itu membuat dadaku terasa sesak. Entah itu kabar baik atau kabar buruk.
Aku hanya tersenyum tanpa jawaban. Tak terasa malam datang perlahan. “Nad, aku antar?”
Ia menggeleng. “Tidak usah.”
“Makasih ya, Kak untuk malam ini.” Aku tersenyum.
“Kamu kelihatan cantik malam ini.”
Ia tidak menjawab. Hanya tersenyum, senyum yang entah kapan lagi akan kulihat. “Sampai ketemu lagi ya, Kak.”
Ia pergi dengan langkah pelan, meninggalkan kursi kosong di hadapanku. Aku masih duduk di sana.
Menatap secangkir kopi yang sejak tadi belum habis. Kopi tanpa gula.
Kuminum perlahan. Pahitnya tertinggal di lidah.