
Dengan harapan bisa menyaring ilmu yang berharga dari Tanti, supaya Minpang atau pun pembaca yang lain, yang sedang berjuang menulis buku pertamanya, bisa kecipratan mengikuti jejak Tanti. Yuhu~

Yang bikin gongnya lagi kemudian ada pada keputusan Arifin untuk berhenti sejenak dari perjalanan dan jadi relawan di Aceh yang tengah kena banjir bandang. Kepedulian, rupanya, adalah bahan bakar lain yang membuat perjalanan hidupnya terus menyala.

Sejujurnya Minpang punya keinginan menjadi Duta Baca dari dulu, tapi sampai sekarang masih gak kesampaian, dan memang cocoknya jadi duta Gerindra saja. Eh enggak! Nah, pada wawancara kali ini Minpang ada kesempatan nih ngobrol-ngobrol sama Duta Baca Purwakarta, namanya Siti Halimah atau yang biasa dipanggil Limeh. Halimah saat ini terdaftar sebagai mahasiswa STIES Indonesia Purwakarta, […]

Apa yang akan kamu lakukan jika ingin naik gunung tapi tak punya peralatan yang memadai? Membelinya? Iya kalau ada uangnya, nah kalau ternyata kamu boke gimana? Tetap naik dengan peralatan seadanya? Wah, gak nyaranin deh, bahaya. Solusi untuk permasalahan seperti itu adalah dengan menyewa alat perlengkapan untuk naik gunung. Sewanya di mana? Kalau itu pertanyaannya […]

Amanda Alya Ramadhani, atau akrab disapa Alya, adalah siswi Sekolah Alam Purwakarta yang baru berusia 16 tahun. Lahir di Purwakarta pada 3 September 2009, Alya dikenal sebagai remaja dengan semangat belajar dan berkarya yang tinggi.

Menulis nama Tuhan adalah dedikasi dan kecintaan Idris.

Komunikasi pemerintah lewat humor justru bikin blunder.


Jangan sampai kebiasaan baik saat Ramadan, kita lupakan.

Di era teknologi dan kapitalisme yang kian mendominasi, manusia harus menjaga akal dan imajinasinya agar tidak tumpul.

Di antara aroma batagor dan kenangan yang mengendap, ia kembali ke meja makan yang hanya tersisa dalam ingatan, tempat ibu dan dirinya yang kecil masih setia menunggu cerita yang belum sempat usai.

Di tengah gelombang aksi massa dan tanggapan manuver elit politik, saatnya kita bertanya: apa yang sebenarnya harus kita lakukan?

Kita tetap perlu waspada dan tak berhenti kritis pada mereka yang berkuasa.

Teror terhadap media Tempo bukan sekadar ancaman, tapi upaya brutal membungkam suara kritis di ruang publik.

Berhenti mengeluh, mulai berkarya, dan belajar dari keteguhan Rukiah.
