

dan aku cemburu pada kemampuanmu to be obsessed pada ibu. pada negara. pada mi instan. atau pada dirimu sendiri. kepada arah yang kamu tentukan, kenapa kamu tahu betul, di ujung kekosongan itu—ada ruang setebal buku catatan seorang penyendiri, dan bukan hanya kekosongan lain, di atasnya, tertulis kegeeran-kegeeran yang memudar seperti nota belanja akhir bulan, yang masih saja hemat. kamu selalu yakin puisimu—punya tempat di mata pembaca awam sepertiku. aku pengen deh bisa nulis kayak kamu. tapi nggak pengen semenderita kamu hahaha.
i see that puisimu belakangan banyak bicara soal negara dengan berlapis-lapis. seperti kue tart. tapi negara dalam puisimu tidak manis sama sekali. kupikir lebih buruk daripada yang sebenarnya, tapi di beberapa bait, jauh lebih buruk daripada yang sebenarnya. kita tidak seperti tinggal di negara yang sama. atau kita memiliki patah hati yang berbeda? kamu tidak punya lagi harapan soal negara yang keeps breaking your heart, yang makin hari makin kayak penjahat—negara yang pernah membunuh ayahmu dan mematahkan hati ibumu. negara yang selalu jahat ke keluargamu. i can feel all that in your poem, but idk, aku pikir puisimu butuh lebih hopeful dikit, atau lebih, apa ya, seimbang. tapi aku tahu pasti susah, ya?
tapi aku paling suka kalau kamu menulis adegan-adegan setiap hari dengan cara yang sangat poetic. kok bisa sih, kamu menulis kalimat kayak: rambut ibumu kian hari semakin berantakan / semakin keriting / sebab kamu tidak bisa membawa apa-apa / ketika pulang / ibumu seperti / tertular sentimen yang sama / dengan mi instan / yang ia seduh / saban hari untukmu / yang sedih / jalan menuju / surga / di kakinya / kau lihat / semakin bergelombang / selamat tinggal / jalan yang lurus.
it’s so sad but very beautiful 🙁 aku suka yang itu. di kelima puisimu ini, kamu selalu punya tokoh dengan nama. tapi aku tahu tokoh-tokoh itu sebenarnya kamu dengan wajah yang berbeda aja kan? tapi aku juga tahu siapa aja yang kamu jadiin inspirasi hahaha. seperti tokoh bintang di dan bintang makin jauh, is that supposed to be me? hahaha. aku tahu! tapi aku nggak sesedih itu tahu soal layoff kemarin. and idk you just—see the sadness in people very well, dan aku mau apresiasi itu. dan kamu menghargai kemampuanku untuk bisa merasakan ini dalam puisi-puisimu. but tbh, aku hanya menerka-nerka aja. tapi aku nggak enak kalau bilang gitu sama kamu … aku nggak tahu apakah aku benar-benar bisa merasakan apa yang kamu tulis di puisimu. terkadang aku nggak paham. sorry tapi aku blak-blakan saja, ya. toh, kita kan udah janji begitu.
but hey, apakah kamu tetap akan mengirimkan puisi-puisi sedihmu kepadaku, now that kamu tahu aku sebenarnya nggak terlalu paham kesedihanmu? anyway—
2026
malam itu jati telat sampai di rumah dian. jalanan macet parah, dan banjir mulai naik. tapi jati tetap datang—ia tidak tahan tinggal di rumah setelah bertengkar dengan bapaknya soal politik. pandangan mereka selalu berseberangan. jati tidak paham kenapa bapaknya begitu apolitis, dan bagi jati, selalu memilih yang salah—seolah ikut andil dalam kehancuran masa depan anaknya sendiri. kadang jati kelewat batas: ya, bapak mah enak. kalau negara makin ancur, hidup bapak mungkin nggak bakal selama itu. tapi aku? masa depan aku gimana?
di jalan, jati akhirnya memuaskan hasratnya: membicarakan pejabat-pejabat tidak beres dengan driver ojol—teman politik terbaiknya, hampir selalu satu kiblat. malam itu mereka membicarakan satu pejabat yang makin tua makin maruk. saking serunya, jati tidak sadar sudah sampai. tidak sadar juga bajunya kuyup—belakangan negara seperti menangis terus.
sehat-sehat ya, kak jati, kata si driver. semoga nanti kalau aku pesan ojek online, dapet mas lagi. dan semoga kalau kita ketemu lagi, doi udah nggak menjabat. ya, semoga kalau kita ketemu lagi, dia sudah mati, balas si driver. jati tertawa saat menceritakannya ke dian. bahkan dian, teman sejatinya, kadang mumet dengan curhatan jati—meski diam-diam punya keresahan yang sama.
jati mengaku capek sekali. semua masalah ada: personal sampai komunal. tapi dian sedang tidak fokus. ada satu ngengat besar masuk kamar sejak tadi. suara sayapnya bikin dian gemas. ia mengambil raket listrik. tapi ketika jati hanya membuka jendela kamar mandi. ngengat itu terbang keluar—seolah tahu ia memang harus pergi. dan jati merasa memahami itu. gue pengen jadi ngengat aja, katanya. bisa pergi seenaknya, tanpa harus mokad dulu, ucap jati. dian tidak benar-benar mengerti. mereka lalu makan mi instan lima bungkus—dibagi dua—lalu tidur.
paginya, dian bangun sendirian. jati tidak ada, tapi barang-barangnya tertinggal: baju hitamnya yang semakin pekat, celana jeans robek, kaos kaki busuk. pintu kamar mandi terbuka. jendelanya juga.
tidak ada pesan.
di media sosial, dian melihat berita: ditemukan tanaman yang bisa bikin seseorang jadi abadi. para pejabat disorot—seperti mengantri, dengan senyum menjijikkan itu. umur mereka makin panjang, negara makin pendek, tulis seorang netizen.
dian termenung. seakan-akan baru paham keinginan jati untuk jadi ngengat. dan entah kenapa, ia merasa tersengat.
2026
entah sudah berapa kali
kudengar teman-temanku,
orang-orang di sekitarku,
bilang ingin hari ini
turun saja
nuklir
dan hapus
semua.
teman-teman pun
sering membagikan
meme instagram
yang persis
memperlihatkan adegan itu.
tapi ada,
yang masih bilang kami
bahagia.
sejahtera.
mulia.
sehat.
entah di realitas
mana mereka hidup.
mereka tinggal di tanah
yang sama,
tapi tidak menapak
di sebelah kaki-kaki kami.
realitanya, tidak ada
satu orang pun
yang akan bilang
kami bahagia
sekarang.
ya, memang
kami masih tertawa,
masih mampu percaya
pada cinta.
tapi kebahagiaan—
bukan sesuatu
yang kami rasakan.
maksudku,
siapa yang bahagia
dan masih berharap
nuklir jatuh hari ini?
2026
Lahir di Medan, 28 Juli 2001. Ia menempuh pendidikan di Fakultas Film dan Televisi, Institut Kesenian Jakarta. Ketika jenuh menulis sebagai pekerjaan, ia menekuni cerpen dan puisi untuk menemukan kembali kesenangan dalam menulis.
Tulisannya telah terbit di berbagai media. Ia juga aktif mengulas film di Apa-Apa Tentang Film serta terlibat dalam aktivasi Puisi on The Spot. Sekarang, Dali tengah menyiapkan buku puisi perdananya.