

Yang beterbangan seperti kapas
Berhamburan ditiup angin kebingungan
Yang beradu dalam pikiran
Berebut posisi dalam ingatan
Ia memenuhi ragaku
Bergejolak di antara detak jantung
Mengalir dalam darahku
Apa arti puisi ini?
Bila kata yang tak terucap pun tak mampu kutuliskan
Bila penuhnya pikiran tak juga tersegarkan
Bila sesaknya dada tak kunjung reda
Ah,
Mungkin diriku terlalu memikirkannya
Sajak ini berarti bagiku
Meski kehadirannya tak mampu menyejukkan hati
Tapi, ia cukup
Cukup untuk membuatku reda, tabah, dan syukur
Ia masih di sana, di sudut ruangan
Aku tak pernah lagi menyentuhnya
Bukannya aku benci
Aku hanya tak ingin merawat ingatan
Tiap melewatinya kulihat ia selalu menertawakanku
Menertawakan ketidak berdayaanku
Suatu hari aku ingin membakarnya
Kurasakan ada sesuatu yang mencekalku
Rupanya ia adalah memori baik
Kuurungkan niatku untuk membakar sepasang kekasih itu
Aku berdamai dengan kenangan buruk
Melihatnya sebagai tetesan embun pagi yang sejuk
Respons terhadap puisi Joko Pinurbo “Tengah Malam”
Badai bergemuruh di ruang hatimu
Memaksamu untuk mengambil keputusan
Matahari menampakkan kegagahannya
Panas, menyengat, udara kering
Sesudah itu awan menyelimuti
Menunggumu menyudahi pertemuan ini
Kau pergi meninggalkan jalanan itu
Kosong
Sampailah dirimu pada tempat bernaung
Rintik-rintik mulai membasahi pipimu
Kini, yang tersisa hanya kenangan
Berserakan di atas meja yang berdebu
Kacau
Siang itu. Kau mengeluh. Panas.
Tapi jalanan itu merekam suaramu sebagai sebuah rayuan.
Pagi ini aku bermimpi,
Ibu bangun lebih pagi dari mentari
mengaduk kehidupan dalam panci
memberiku jantung dan hati
Di sekolah,
meja-meja tumbuh empat kaki
berlari ke perpustakaan yang tak punya pintu
uang kesehatan mencair jadi biskuit raya
uang pendidikan menguap jadi ikan dan susu
anak-anak duduk melingkar di sebuah tikar
menelan lembar demi lembar janji yang tercetak dalam ompreng
Makanlah! Ini bergizi
Bagaimana jika aku mati kekenyangan?
Apakah jasadku dihitung sebagai sarapan anggaran?
Bel pulang berbunyi
seorang menteri berdiri di atas tumpukan ompreng
berbaju pelangi
diikuti oleh pria sawit yang berteriak
anak-anak sekarang pintar!
perutnya penuh udara
kepalanya kosong
Tiba-tiba waktu berhenti
janji manis berubah menjadi daftar belanja
sebelum aku sempat muntah,
aku terbangun
mendapati diriku berada di sekolah
Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Gadjah Mada. Nama penanya Nadir dan aktif menulis di Medium. Karya terbarunya berjudul Olin Kehilangan Pelanggan (Kumpulan Fabel, Forsenbooks, 2026). Beberapa puisinya dimuat oleh akun KMSI UGM. Dapat disapa melalui Instagram @hanafjkz
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!