

Presiden Amerika Serikat Donald Trump meresmikan Dewan Perdamaian Dunia di sela-sela World Economic Forum (WEF) 2026 di Davos, Swiss, pada akhir Januari 2026.
Badan ini dirancang sebagai langkah internasional untuk mendukung pemerintahan, rekonstruksi dan pemulihan ekonomi di jalur Gaza.
Anggotanya terdiri lebih dari 30 negara, termasuk Indonesia, yang bergabung untuk memberi masukan demi kemerdekaan Palestina.
Dewan ini disambut dengan negatif oleh banyak pihak sebab dianggap sebagai institusi kolonial yang bertujuan melangkahi PBB, melangkahi hukum internasional, dan melanggengkan dominasi Israel dengan kedok perdamaian. Ha. Perdamaian your as*.
Keraguan terhadap Dewan Perdamaian Dunia bentukan Trump tentu saja punya alasan yang jelas. Tak perlu masuk Akpol untuk tahu faktanya, kan?
Sejak awal dibentuk, Board of Peace membawa wacana perdamaian khusus Israel dan Gaza. Masalahnya, Gaza tidak memiliki representasi otoritas Palestina yang benar-benar hadir dan diakui dalam forum itu sebagai pengambil keputusan.
Nah, apanya yang perdamaian kalau gini?
Perdamaian macam apa yang direncanakan jika pihak korban tidak ikut menentukan arah “penyelamatan”-nya?
Beberapa hari setelah peresmian itu, agresi militer Israel di Gaza tetap berlangsung. Mana perdamaiannya?
Apakah perlu kita buat buku Melihat BOP Bekerja?
Militer Israel menyerang warga sipil Gaza menggunakan senjata terlarang jenis thermal yang dipasok oleh Amerika Serikat dan negara eropa lainnya, yang menyebabkan ribuan jasad warga Palestina menguap tanpa sisa. Menguap. Tanpa sisa. Itu manusia, lho bukan lahan.
Hasil investigasi Al Jazeera Arabic melalui situsnya mengungkapkan penggunaan senjata termal dan termobarik oleh Israel menyebabkan sekitar 2.842 warga Palestina lenyap tanpa meninggalkan jasad. Juru bicara Pertahanan Sipil Gaza, Mahmoud Basal, mengatakan angka tersebut bukanlah perkiraan melainkan hasil pencatatan langsung di lokasi serangan dengan pencocokan jumlah penghuni bangunan dengan jenazah yang ditemukan setelah serangan.
Lenyapnya jasad warga Palestina diakibatkan suhu ekstrim dari sumber senjata hingga 3.500 derajat Celcius.
Sebagai informasi, begini cara kerja senjata thermal/termobarik.
Pertama, kita harus tahu bahwa ledakan bisa terjadi karena ada segitiga api.

Pada peledak biasa, bahan bakarnya adalah campuran kimia tertentu yang memang dirancang untuk melepaskan energi sangat cepat. Kalau dalam keseharian, saat kita membakar sampah, bahan bakarnya ya sampah itu sendiri. Prinsipnya sama, asal ada sesuatu yang terbakar.
Kedua, oksigen. Kita bisa memahami ini dari praktik bekam rumahan (menggunakan korek kayu dan koin). Ketika api ditutup gelas, ia akan padam karena kekurangan oksigen. Artinya, tanpa oksigen, pembakaran tidak bisa berlangsung.
Unsur ketiga adalah panas sebagai pemicu. Dalam peledak konvensional, panas awal dihasilkan oleh detonator. Detonator pada umumnya adalah energi kecil yang kemudian diperkuat oleh booster untuk memicu ledakan utama. Kalau kita pakai korek kayu, anggaplah detonator adalah gesekan, dan bulatan coklat itu merupakan boosternya.
Kalau mengingat di film-film, detonator sering digambarkan sebagai tombol yang ditekan. Terjadinya ledakan sebenarnya merujuk pada proses pemicuan ini, meski dalam kenyataan sistemnya jauh lebih kompleks dan berlapis.
Sedangkan pada senjata termobarik, urutannya berbeda. Beginilah cara kerjanya:
Pertama, bahan bakar berupa partikel sangat halus disebarkan ke udara hingga membentuk awan. Pada tahap ini, dua unsur segitiga api sudah terpenuhi: bahan bakar dan oksigen (yang tersedia bebas di atmosfer).
Kedua, sistem penyulut diaktifkan.
Di dalam partikel yang dilempar ke awan itu, barang tentu terdapat muatan pemicu kecil yang dirancang untuk aktif setelah awan bahan bakar terbentuk. Muatan kecil inilah yang menghasilkan panas sangat tinggi dalam sepersekian detik untuk menyalakan campuran bahan bakar dan oksigen tersebut.
Begitu panas dipercikkan dari suluran itu, pembakaran terjadi hampir serempak di seluruh volume awan, dan karena yang bereaksi adalah campuran bahan bakar dan udara dalam ruang yang luas, maka efeknya bukan hanya api telanjang, tetapi juga gelombang tekanan kuat dengan durasi relatif lebih lama dibanding ledakan konvensional.
Dan, ketika itu semua terjadi, sama seperti bekam rumahan (dengan korek kayu) yang biasa kita lakukan, api akan terus mengambil oksigen dan terjadi efek vakum yang membuat apa pun yang terbakar menguap, saking panasnya.
Sama seperti memberi api di gas chamber.
Kami benar-benar penasaran terhadap tanggapan OPCW dalam hal ini.
Binatang.
Direktur Jenderal Kementrian Kesehatan Plestina di Gaza menjelaskan bahwa titik didik air adalah 100 derajat Celcius, ketika tubuh terpapar panas di atas 3.000 derajat yang disertai tekanan dan oksidasi besar, cairan tubuh manusia mendidih seketika dan jaringan menguap. Itulah yang menyebabkan jasad-jasad warga Plestina yang menjadi korban senjata termal tidak bisa ditemukan jasadnya.
Konyolnya, negara-negara Islam malah ikut bergabung dalam dewan perdamaian penuh omong kosong Trump itu. Termasuk di antaranya Bahrain, Mesir, Qatar, Arab Saudi, Türkiye, Uni Emirat Arab, dan Indonesia.
Memalukan.
Menurut Prabowo, bergabung dengan Dewan Pedamaian Dunia bentukan Trump adalah kesempatan bersejarah. Prabowo melihat keanggotaan di Dewan Perdamaian Dunia sebagai upaya mencapai perdamaian di Gaza, Palestina.
Cara berpikir Prabowo nampaknya memang sesuatu yang out of the box. Sebab jika memang Trump menghendaki perdamaian di Gaza ia tinggal mencabut dukungannya terhadap Israel. Segitu saja. Simpel. Tanpa biaya, tanpa harus kabur ke Jordania.
Pakai menyumbang 17 Triliun pula!
Angka itu kan besar. Sangat besar. Berasal dari pajak rakyat, dari kerja buruh, dan potongan gaji pegawai! Gak sudi kalau duit pajak kami dipakai untuk genosida! Cuih!
Logikanya di mana? Mikir, kids! There is no peace if power speaks louder than justice!