Olahraga Lari Memang Keren tapi Percayalah Kalistenik Lebih Menyelamatkan Hidupmu

Beberapa waktu terakhir event lari di Indonesia memang melonjak drastis setiap tahunnya. Berdasarkan data dari Kementerian Pemuda Olahraga (Kemenpora) dan goodstats.id, jumlah event lari melesat dari yang awalnya hanya sekitar 88 kegiatan pada tahun 2021 menjadi lebih dari 600-an event skala nasional dan daerah pada tahun 2025.

Dalam 4 tahun, naik sebanyak 512 event berarti, per setiap tahun meningkat sebanyak 128 event! 

Fenomena ini menunjukkan bahwa lari bukan lagi sekadar olahraga, melainkan sudah menjelma menjadi gaya hidup baru masyarakat kita. Kalau tidak percaya, coba saja cek Instagram kalian saat akhir pekan. Pasti ada saja teman atau sanak saudara yang mengunggah foto sedang memakai jersey warna-warni, menggigit medali finisher, atau memamerkan catatan pace dari Strava.

Tentu saja tidak ada yang keliru dengan hal tersebut, dan kalau mau dibilang fomo, ya tinggal bilang. Toh, fomo ini baik bagi kesehatan dan kebugaran.

Saya juga mengakui jika lari adalah olahraga yang keren. Murah, mudah dilakukan, dan terbukti baik untuk kesehatan tubuh, kalau habisnya gak makan soto tangkar tapi … 

Namun setelah beberapa bulan mengikuti tren lari ini, saya menyadari satu hal yang cukup perlu dipertimbangkan lagi oleh para pelari. Banyak orang fokus menambah jarak tempuh dan memperbaiki pace, tetapi lupa bahwa performa lari yang baik juga kudu diimbangi fondasi otot yang kuat.

 

Kesehatan Boyok yang Utama

Sebagai pekerja yang lebih banyak duduk di depan komputer, saya paham betul bahwa pinggang bagian bawah atau boyok sering menjadi bagian tubuh yang paling banyak berkorban. Duduk terlalu lama membuat core otot dan punggung melemah, sehingga tubuh lebih rentan mengalami pegal atau nyeri saat beraktivitas.

Awalnya saya mengira rutin berlari sudah cukup untuk menjaga kebugaran. Namun ketika mulai mencoba meningkatkan pace dan intensitas latihan, justru keluhan nyeri boyok rasanya makin sering muncul. Maka, saya mulai mencoba menambahkan latihan kalistenik seperti push-up, pull-up, dan dips ke dalam rutinitas mingguan. Hasilnya amat terasa, tubuh menjadi lebih stabil dan keluhan boyok tak lagi menghampiri.

 

Kalistenik Lebih Menyiksa

Jujur saja, bagi saya kalistenik terasa jauh lebih menyiksa dibanding lari. Saat berlari, beban utama memang bertumpu pada kaki dan betis, tapi kita juga masih bisa mengatur ritme, memperlambat langkah, atau sesekali mengalihkan perhatian dengan menikmati pemandangan di sekitar.

Berbeda hal dengan kalistenik. Olahraga ini lebih menuntut koordinasi neuromuskular (kerja sama antara otak, saraf, dan otot) bahkan di tingkat lanjut gerakan kalistenik berfungsi untuk menjaga kontrol tubuh, keseimbangan, serta efisiensi biomekanika selama latihan berlangsung.

Mulai dari lengan, bahu, dada, punggung, hingga otot inti harus berkontribusi untuk mengangkat, menahan, dan mengendalikan berat badan sendiri. Dalam banyak gerakan, satu-satunya lawan yang harus ditaklukkan adalah gravitasi. Mungkin karena itulah progress dalam kalistenik terasa lebih lambat sekaligus lebih memuaskan. Menambah satu repetisi pull-up atau mampu melakukan dips dengan teknik yang lebih baik sering kali membutuhkan latihan berbulan-bulan atau bahkan tahunan.

 

Lantas, Apakah Lari Tidak Worth it?

Saya tidak sampai hati untuk bilang kalau lari adalah olahraga mubazir. Justru kalau kalian hanya rebahan, scroll sosmed dan mendengarkan pidato Prab** (penjahat) nampaknya akan jauh lebih sia-sia, ya. Setidaknya dengan olahraga lari atau berolahraga lainnya, tubuh ringkihmu tetap diajak bergerak, berkeringat, dan bekerja sebagaimana mestinya, itu sudah jauh lebih dari cukup.

Pesan yang ingin saya sampaikan sebenarnya cukup sederhana. Lari adalah olahraga yang sangat baik, tetapi akan menjadi lebih baik lagi jika dibarengi dengan latihan kekuatan otot seperti kalistenik. Jantung yang sehat memang berharga, tetapi tubuh yang kuat dan mampu menopang aktivitas sehari-hari juga tidak kalah penting, kan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!