Pada tahun 2018, untuk kali pertama sebuah novel grafis masuk daftar panjang Man Booker Prize—sebuah penghargaan sastra bergengsi setelah Nobel. Novel grafis tersebut adalah Sabrina karya Nick Drnaso, penulis kelahiran Illinois, Amerika Serikat. Meskipun buku tersebut tidak jadi pemenang utama, ia mencatatkan sejarah baru.

Istilah ‘novel grafis’ sendiri belum lama muncul. Menurut Hikmat Darmawan dalam artikelnya “Novel Grafis, Apaan Sih?” mengutip pendapat Stephen Weiner dalam Faster Than a Speeding Bullet: The Rise of Graphic Novel, karya Will Eisner yang terbit tahun 1978 berjudul A Contract with God diyakini sebagai novel grafis pertama. Artinya ia baru dikenal dalam kurun 70-an.

Di Indonesia sendiri penerbitan novel grafis belum marak. Kecuali bagi orang-orang yang meyakini bahwa semua komik adalah novel grafis. Ruang persawalaan tentu masih terbuka lebar mengenai hal ini. Saya lebih meyakini pendapat yang menyebutkan bahwa semua novel grafis adalah komik, namun tidak berlaku sebaliknya. Dibandingkan komik, novel grafis ini lebih serius secara tema, juga lazimnya hadir dalam satu seri utuh yang lebih tebal ketimbang komik yang umumnya tipis dan berseri.

Seseorang yang mulanya membetot perhatian saya pada novel grafis adalah Sabda Armandio, penulis novel Kamu dan 24 Jam Bersama Gaspar. Dalam snapgram-snapgram di akun Instagramnya, ia sering mengunggah foto-foto novel grafis yang sedang dibacanya. Itu membuat saya penasaran.

Saya mencoba membaca salah satu novel grafis yang berjudul. Chicken with Plums karya Marjane Satrapi, penulis kelahiran Iran yang menulis dalam bahasa Perancis.

Buku yang tak sampai seratus halaman itu lumayan memikat. Hanya perlu waktu kurang dari dua jam untuk menamatkannya. Novel grafis tersebut berporos pada Nasser Ali Khan, seorang musikus asal Tehran. Tepatnya menceritakan penderitaan Nasser Ali Khan setelah tar (semacam gitar) miliknya dipatahkan oleh Nahid, sang istri yang tak pernah ia cintai dan ia nikahi karena terpaksa.

Dalam novel itu, Satrapi menyisipkan pula isu-isu ‘berat’ seperti Revolusi Iran dan pengaruh Amerika Serikat terhadap kehidupan masyarakat Iran.

Sebagai pengalaman pertama membaca novel grafis, membaca Chicken with Plums adalah hal yang menyenangkan. Sebagaimana pasca pembacaan buku-buku sastra lainnya, selepas membaca novel itu ada semacam makhluk tak bernama mengusik kepala saya. Menyusupkan ide-ide baru dan nilai-nilai filosofis. Kira-kira seperti itulah.

Barangkali saya akan membaca novel-novel grafis lain setelah hari ini. Saya harap pula para penulis Indonesia semakin banyak yang menulis novel grafis.

Dengan merebaknya novel grafis, siapa tahu bisa jadi alternatif bagi yang tak mau cuma dianggap pembaca komik doang, atau bagi yang ingin merasakan ‘sensasi sastra’ tapi belum sanggup membaca buku yang isinya kata-kata doang. Intinya ini bisa menjadi gerbang untuk keduanya. Kendati apakah novel grafis itu termasuk sastra masih bisa diperbincangkan lagi.

Omong-omong, tinimbang membahas soal kesastraan novel grafis, agaknya lebih elok saya akhiri esai ini dengan dua kutipan dari Chicken with Plums—klise sih, tapi apa salahnya saya bawakan di sini?

“As someone once said, ‘To live, it’s not enough to be alive’.dan “Life is the same. We give meaning to life based on our point of view.”

Dalem betul!

Profil Penulis

Erwin Setia
Erwin Setia
Lahir tahun 1998. Penikmat puisi dan prosa. Kini menempuh pendidikan di Prodi Sejarah dan Peradaban Islam UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di berbagai media seperti Koran Tempo, Media Indonesia, Pikiran Rakyat, Minggu Pagi, Solopos, Haluan, Koran Merapi, Litera.co.id, dan Cendana News.