Nirvana, Tuan Padma, dan Puisi Lainnya

Tuan Padma

Kuharap kau menjawab semua tanya yang kulahirkan, setiap kali malam tenggelami jagat dalam kelam jelaganya.

 

Apakah kau tahu, Tuan Padma?

‎Aku pernah mengikat erat percaya pada tumpulnya batinku ini, 

‎bahwasanya; 

‎kursi-kursi peran yang senantiasa melingkariku tidak akan pernah kehilangan pelakonnya, 

‎pemiliknya.

‎Namun waktu rupanya menyimpan tabiat buruk 

‎yang jauh lebih licin daripada segala baiknya sangka yang kurawat. 

‎Ia datang tanpa membawa satu pun keranjang aba-aba, 

‎tanpa satu atau dua buah dari buah tangan prakata. 

‎Pula tidak bersudi diri mengetuk 

‎sebelum memasuki kehidupan seseorang. 

‎Ia hanya menyusup diam-diam melalui pergantian musim yang menjelma masa, 

‎lalu menanggalkan satu demi satu nama 

‎dari sandaran yang selama ini kukira akan menetap mencapai ‘selamanya‘ 

‎yang jauh melebihi lama waktu yang ada. 

‎Hingga pada suatu hari, 

‎tanpa kusadari, 

‎lingkaran yang dahulu riuh oleh suara dan tawa kini telah menyisakan gema 

‎yang hanya mampu dipeluk oleh ingatan. 

‎Mengisi penuhi nyaris sebagian besar ruang tamuku yang tak seberapa luas.

‎Barangkali kau tak tahu, Tuan Padma?

‎Bahwa mula-mula aku menganggap kehilangan hanyalah perkara jarak 

‎yang tak akan bergerak lebih jauh. 

‎Kukira siapa pun yang pergi masih dapat ditemukan kembali 

‎pada tikungan waktu yang lain, 

‎sekali pun perlu memakan waktu 

‎sedikit lebih banyak dari biasanya. 

‎Maka sepenuh hati kusimpan baik-baik seluruh kebiasaan 

‎sebagaimana nyala berada mereka masih nampak di depan mata, 

‎masih dirasa kasatmata.

‎Seluruh cerita, 

‎seluruh potongan kecil tentang mereka. 

‎Barangkali saja, 

‎kenangan yang dirawat dengan setia yang membabi buta dapat menjadi penunjuk jalan 

‎bagi kepulangan seutuh-utuhnya, 

‎pikirku demikian. 

‎Namun tahun demi tahun berlalu, 

‎dan aku mulai memahami 

‎bahwa tidak semua yang pergi menjadikan rumahku ini sebagai tempatnya berpulang, 

‎seperti yang sudah-sudah. 

Sebagian memang ditakdirkan menjelma rindu 

‎yang di masa mendatang akan sepanjang waktu kuadukan di atas altar peraduan.

‎Mungkin kau masih belum tahu, Tuan Padma?

‎Betapa sering aku duduk berhadapan dengan kursi-kursi kosong itu 

‎seraya membiarkan malam menua perlahan demi perlahan, 

‎pun kalau bisa dihentikan langkahnya 

‎sebelum seluruh bayang meluruh dari pandangan. 

‎Pada saat-saat demikian, 

‎wajah-wajah yang telah lama lenyap seakan kembali 

‎menyalakan bayangannya menjadi rupa yang utuh. 

Mereka hadir melalui aroma, 

‎melalui lagu, 

‎melalui percakapan yang tiba-tiba teringat tanpa sebab. 

‎Lalu di antara semua itu, 

‎aku sebagaimana manusia yang tak pernah benar-benar pandai melepaskan, 

‎memilih tinggal lebih lama di dalam kenang 

‎yang menggenangi nyaris sebadan jasad ini, 

‎daripada menerima sepenuhnya kenyataan 

‎yang terbentang bertentangan dari lelapnya harap yang kutimang.

Ah, kau memang tak akan pernah tahu, Tuan Padma.

‎Bahwa ada sebagian diriku yang tertinggal bersama mereka. 

‎Ada musim-musim yang tak ikut bergerak maju 

‎bersama langkah besar sang Waktu yang senantiasa terburu-buru. 

‎Ada ruang-ruang batin yang terus menjaga bentuk semulanya 

‎demi menghormati jejak kehadiran yang pernah singgah di sana. 

‎Maka sekalipun dunia berkali-kali memaksaku belajar tentang keikhlasan, 

‎selalu ada sesuatu yang enggan tunduk sepenuhnya. 

‎Sesuatu yang memilih bertahan sebagai nyala kecil di balik dada; 

‎untuk sekali lagi

‎untuk sehari lagi

‎untuk beberapa saat saja membuatku terjaga. 

‎Pun seribu pelukan saja tidak lah sepadan nilai, 

‎demi membalas bilasi kecup satu per satu 

‎pada rindu yang nyaris mengabu dibakari waktu.

‎Masih kubiarkan terpajang rapi kursi-kursi yang tak lagi bertuan itu. 

‎Sesekali kuhampiri satu per satu, 

‎membesuki demi memberikan peluk atau belai 

‎yang leraikan kasih sayang tiada habis-habisnya. 

‎Tiada surut-surutnya. 

‎Sekali pun tak hanya satu kali dunia mengganas, 

‎nyaris habisi kokohnya pertahanan diri yang dirakit setengah mati.

‎Untuk merayakan pergantian bulan ke tahun yang baru, 

‎senantiasa aku bangunkan pesta peringatan termegah. 

‎Paling megah sejagat semesta fana ini. 

‎Di mana para tamunya tak lain ialah; segentayang bayang-bayang 

‎yang masih menyimpan hangatnya nyala nyawa mereka, 

‎walau makin ditinggal hari demi hari 

‎kian meredup jejak hidup cahayanya. 

Pula meski tanpa ‘utuhnya’ semula 

‎yang berturut serta menghadiri, 

‎memeriahkan.

 

 

 

Nirvana

Nirvana, oh Nirvana. Dengarkan lah suara Eunoia yang kehilangan separuh cahayanya bersama pergimu.

 

‎Nestapa merebak, 

‎mendobrak masuki seisi diri 

‎yang terjebak dalam kubangan perangkap waktu 

‎yang merekati sekujur bujur daksaku ini.

‎Maka ilalang demi ilalang ilusi pun, 

‎berlembut rayu supaya diri enggan untuk bermau pergi. 

‎Jauh dari jemari kenang yang sentuhnya masih menjejak hangat, 

‎saingi—nyaris kalahi—mentari yang bergulir 

‎mengganti hari menjelma masa.

‎Temaram nyala Rembulan memercik kenang 

‎menjadi titik demi titik nyawa pada anak-anak gemintangnya, 

‎engkau lah satu di antaranya 

‎yang menambat hangat dalam ingatan. 

‎Engkau yang kini utuh daksa dan atmamu telah sepenuhnya menjelma 

‎puing-puing yang menancap tinggali sanubari, 

‎yang tak kubiarkan secebispun ditepis 

‎oleh tangan kiri sang Waktu.

‎Sebab sudah sedari lama tersumpah; 

‎setiap serpihan puingnya akan menyertaiku 

‎sampai bertemu pada abadi di kemudian hari, 

‎sampai kembali seluruhnya pada utuhmu 

‎yang abadi di penghujung penantian. 

‎Yang sepenuh hati menanti masa 

‎untuk temu menautkan kembali— 

‎aku si pemupuk rindu dengan engkau 

‎satu-satunya sang terkasih, 

‎sebagai selengkap-lengkapnya sepasang kekasih.

‎Lihai tanganku menyulam Vega 

‎di antara benang-benang rindu yang tak terucap, 

‎namun selalu tercecap, 

‎menjadi peta bagi hati yang kadang kala tersesat 

‎di labirin museum yang berdiri teratas namamu. 

‎Tiada mengenal lelah kutuangi rasi paling terang 

‎di setiap ujung doa yang dipercaya 

‎mampu melintasi bertabir batas waktu, 

‎doa-doa yang tersemat pada jengkal jengkal lembaran kain hijau 

‎yang membentangi seisi semesta fana ini. 

Doa demi doa yang diyakini miliki kuasa 

‎untuk sampai menembus dengan mulusnya perisai lapisan langit terakhir, 

‎teramat jauh di atas kepala alam raya yang kupijaki.

‎Tak kunjung habis nila Arunika mengirimi berberkas-berkas sunyi 

‎melewati ufuk yang rekahkan sebuah pelukan, 

‎beribu kali pelukan berlembut tuturkan biru 

‎tanpa disertai tututan haru seperti yang lalu lalu. 

‎Seperti hari-hari di mana engkau masih mendampingi langkahku, 

‎membersamainya menempuh hiruk pikuk semesta fana 

‎yang kini amatlah pekakkan dada 

‎hanya dalam sekali tarikan napas. 

Bagaikan lembah yang diselimuti kabut 

‎berlarut-larut tanpa mengenal jeda.

‎Di antara lirisnya desir hujan, 

Nadir nirmala pandai sekali merawat jejak-jejak yang kau tinggalkan, 

‎yang kujamini tak akan pernah lekang oleh waktu 

‎yang tidak lah jarang mengekang apa-apa yang berada di belakangnya. 

‎Entah sampai kapan menyikapi demikian, 

‎tiada bersudi diri ia membiarkan segala yang tertinggal di balik punggungnya 

‎tetap disahkan beradanya. 

Mustahilnya sama dengan mempercayai 

‎bertaruh segenap hati; 

‎kebersamaan denganmu akan abadi 

‎di atas semesta yang telah lama ditetapkan fana ini.

‎Di balik gerimis kecil yang jatuh, 

Aksara asa bersemi di tengah tengah sunyi yang gemar sekali bernyanyi; 

‎lalu saat tirai langit memekat hitam, 

‎di dalam pelukan malam yang syahdu 

‎ia menari perlahan tanpa arah pasti, 

‎kemudian di dalam napas fajar pertama 

‎ia mengembang dengan teramat elok. 

 

Sesekali saat angin mengusap padang ilalang senja 

‎ia bertahan dari goyah, 

‎dan di cakrawala tempat rindu yang bersendu melabuhkan aduannya pun, 

‎ia mengakar.

‎Wahai Nirvana; 

‎yang menangkup seutuh-utuhnya buruk masa lalu dari seorang Wirtasaka, 

‎pula membendung sepenuh-penuhnya kisah sempurna 

‎yang melampaui setengah dari setengah mati dirajutnya sedemikian rupa. 

‎Bawalah apa yang berbicara 

‎tanpa dihidupkan nyalanya oleh sepatah suara ini padanya seorang. 

‎Juga pada yang miliki kuasa 

‎atas nyawa dan masanya. 

Sampaikan lah, 

‎bahwasanya: di sini Eunoia-nya—

‎yang bukanlah bagian dari abadi selaras dengannya 

‎serta merta seluruh insani hidup lainnya—

‎menanti melampaui sepenuh hati, 

‎dapat berada di satu ruang temu yang sama dengannya 

‎sebagaimana sedia kala. 

Pula Eunoia-nya ini 

‎masih menyimpan baik-baik berjuta bahagia 

‎yang hanya bernamakan namanya seorang, 

‎sebagai satu-satunya sang terkasih 

‎tempat seluruh riuh peluhnya berpulang.

 

 

 

Permata

Larah, oh Lara. Dengarkan lah suara Raga yang setia menanti kembalimu di sini.

 

‎Sepercik nyawa pelita pada jelaga 

‎di dalam telaga yang penuhi sebadan raga ini, 

‎senantiasa teguh ia pada pendarnya 

‎yang dipaksa sepenuh hati terus berpijar.

‎Diharapkan sampai pegangi nama ‘abadi’, 

‎seutuh-utuhnya. 

‎Pula sepenuh-penuhnya. 

‎Sehabis rintik demi rintik yang diperah pelupuk kusiangi, 

‎hingga seluruhnya luruh menjelma elegi.

‎Kepada Lara; 

‎teruntuk puing-puingmu 

‎yang kubiarkan tinggal mengisi penuhi 

‎tiap celah sudut ruang sanubari, 

‎hingga tiada lagi tempat 

‎untuk pemiliknya sendiri di dalam sana. 

‎Sampai pada detik ini, 

‎sepi tak pernah menganggap arta raga ini 

‎sebagai teman baiknya, 

‎pun berlaku sebaliknya. 

Sejauh ini, 

‎sampi akhir hayatnya, 

‎hanya engkaulah satu-satunya teman terbaiknya. 

‎Buktinya masih terpatri megah nan sucinya 

‎dalam sebuah pahatan relik.

‎Di sanalah utuhmu kueja kembali 

‎satu per satu, 

‎kuurai mulai sedari awal tangan mungilmu mengulurkan nama 

‎yang hingga kini termuat dalam judul utama 

‎di tiap lembar kisahku. 

‎Di setiap lembaran hari. 

Segenap diri membawanya bersembunyi 

‎jauh dari mata kaki sang Waktu yang selalu siap memburu 

‎hapusi seluruhnya, 

‎yang mampu melenyapkannya dengan sekali berlalu. 

 

‎Dijaga sepenuh hati 

‎berpadu larutkan sepenuh nyawa 

‎dengan mengerat genggami satu buah harapan; 

‎engkau akan kembali untuk menagihnya. 

‎Kembali menjumpai si penjaga lara 

‎yang teramat payah dalam menanti ini.

Harus engkau ketahui; 

‎banyak kata serta merta cerita 

‎yang tak mampu kurajut dengan suara. 

Terlampau banyak yang ingin kutumpahi 

‎dalam setangkup tangan 

‎yang dirindu candui hati, 

‎yang sanggup menangkap utuhku—

‎melucuti seluruh buruk yang mengutuk—

‎pada suatu kala engkau kembali kelak. 

 

‎Lantas ketika seluruh musim yang telah berlalu turut kehilangan suaranya, 

‎setiap detik ingatan teratas namamu 

‎masih luasa bernapas dalam memorium.

‎Selepas engkau berbaring di ambang pergi—

‎pergi yang hendak selamanya—

‎seluruh yang bernama gempita sepi tak 

‎sekali pun berminat menanggalkan tubuhnya 

‎dari dadaku yang tergagap. 

‎Ia justru tumbuh semakin liar, 

‎menjalari sudut-sudut 

‎yang bahkan tak pernah sempat kau saluri hangat sebelumnya. 

Di sisi dingin ragamu yang kujaga, 

‎diri ini hanya mampu menyalakan kembali 

‎serpihan-serpihan ingatan 

‎yang kusimpan rapat utuhnya; menghangatkannya dalam dada 

‎agar tak lekas mati dimakan usia, 

‎hingga yang tertinggal hanyalah 

‎aroma aksara asa.

‎Sebab sebagian diriku masih menetap pada masa

‎ketika segala sesuatu tentangmu terasa begitu lekat 

‎untuk dibawa rekat dalam dekapan. 

‎Maka kubiarkan saja waktu menertawakan keras kepala ini. 

Kubiarkan ia menyaksikan 

‎bagaimana seorang manusia dapat hidup bertahun-tahun, 

‎hanya dengan berbekal kenangan 

‎dan kemungkinan yang tak pasti; 

‎bermuram suram di atas utas-utas harap 

‎yang bergelimang temaram.

‎Bila seluruh penantian ini pada akhirnya hanya berujung pada kehilangan 

‎yang lebih sempurna, 

‎aku kira tak akan ada yang perlu disesali, 

mungkin saja

 

‎Sebab jauh sebelum kenyataan mengucapkan perpisahan, 

‎aku telah lebih dahulu menyerahkan seluruh yang kupunya 

‎mengatas namakan namamu; 

‎doa-doa yang pandai bersembunyi di balik diam, 

‎air mata yang kutitipkan ribuan kali kepada malam, 

‎serta harapan yang kupeluk 

‎meski berkali-kali dipatahkan oleh tangan kiri sang Waktu.

 

‎Sementara selebihnya, 

‎akan kupasrahi takdir menyelesaikan bagiannya sendiri, 

‎selepas semua yang kugadai diamini.

‎Duhai Permata yang dilapisi berjuta Lara, 

‎pula kandungi segenggam pilu 

‎yang bertubi-tubi merana; 

‎andai kelak semesta berkenan menyadarkanmu dari ambang musnah, 

‎izinkan aku berjumpa wajah denganmu 

‎sebagai seseorang yang masih menyimpan seluruh janji yang pernah lahir. 

Akan kuceritakan 

‎bagaimana waktu yang memburu berusaha menenggelamkan wajahmu dari ingatan, 

‎namun selalu gagal. 

‎Tiada jemu mencoba mencuri suaramu ‎dari memorium, 

‎namun yang tertinggal justru gema 

‎yang semakin mencengkeram. 

‎Apabila setelah seluruh penantian panjang engkau tetap diharuskan berlalu 

‎menuju selamanya

‎biarkan aku memandang punggungmu untuk terakhir kalinya 

‎dengan hati yang diharapkan lebih lapang. 

 

‎Sebab setidaknya, 

‎aku pernah memiliki alasan paling indah untuk bertahan dari ganasnya semesta fana. 

‎Setidaknya, 

‎pernah ada engkau yang menjadikan lara terasa layak dipelihara, 

‎dan rindu terasa pantas untuk dirayakan 

‎sebatang kara di tengah kekangan sunyi. 

 

I’m an Angsty-Romance writer; I really love making some Slices of Cake that we used to call it life.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!