Nihil dari Azmodiaz dan Kegelapan Coki Pardede yang Melodis

Coki Pardede seorang komika dark membuat lagu?

Saya sebetulnya tidak terlalu terkejut. Sebagai penggemarnya sejak lama, saya tahu beliau memiliki suara yang lumayan. Namun, membayangkan ia membuat lagu sendiri? Ah, akan segelap apa?

Saya sampai kehilangan imajinasi untuk membayangkannya.

Lagu Nihil pertama kali saya temukan dari unggahan Instagram sang penyanyi. Dari namanya saja—Asmodiaz, atau biasa disebut Asmodeus—yang dalam Alkitab merupakan nama sosok roh atau iblis jahat. Nama itu tampaknya dipilih oleh Coki sebagai representasi dari dunia gelap yang ia bawa dalam karya-karyanya.

Lalu saya mencoba mendengarkan lagu ini dalam sekali duduk. Meresapi nadanya, mencerna liriknya, sekaligus menikmati suara beliau yang memang lumayan itu.

Bagi saya, lagu ini bernuansa pop tahun 2000-an. Instrumennya tidak banyak. Notasi dan susunannya mengingatkan saya pada lagu-lagu dari band seperti Padi, Sheila on 7, atau bahkan Ungu. Temponya dibuat pelan, seakan Coki berusaha memasukkan lagu ini ke dalam kepala pendengarnya secara halus, dan bagi saya, usaha itu berhasil.

Lagu ini dibuka dengan intro yang melodis, dan membawa semacam nostalgia yang hangat dan indah. Nuansa ini mungkin dipilih oleh Coki karena ia lahir dan besar di era musik semacam itu. Intronya terasa menarik dan nikmat di telinga.

Mari kita masuk ke bagian lirik.

Ciri khas Coki Pardede sebagai komika dark ternyata terbawa juga ke dalam lagu ini. Lirik-liriknya begitu gamblang dan telanjang. Ia tidak bertele-tele, dan tidak ada optimisme di sini. Yang ada hanyalah fakta kehidupan yang terasa begitu menusuk, membuat manusia seperti saya terdiam oleh kejujuran yang begitu polos dan apa adanya.

Habis gelap tak selalu akan jadi terang yang lebih baik, bisa saja jadi lebih buruk.

Begitulah bunyi reff lagu Nihil.

Lihatlah. Sebuah peribahasa yang biasanya diucapkan dengan penuh optimisme, menjadi patah makna di tangan Coki Pardede. Meski demikian, secara realitas, yang ditulis Coki tampaknya terasa lebih meyakinkan. Sebab, dalam dunia yang semakin ketat dan padat ini, habis gelap memang tidak menjamin akan terbit terang. Bisa saja, habis gelap justru terbit kegelapan lain yang lebih pekat.

Lagu ini mengajak saya menyadari realitas kehidupan. Saya rasa Coki tidak membohongi diri dengan optimisme berlebihan. Ia juga tidak mencekoki pendengarnya dengan motivasi yang terlalu utopis.

Saya sering mendengar pepatah bahwa setelah badai pasti akan datang pelangi yang indah. Anggapan semacam ini justru membawa saya pada ekspektasi yang tinggi, padahal kenyataannya tidak selalu demikian. Ada beberapa manusia yang, setelah jatuh, justru dijatuhkan kembali dengan lebih keras.

Nihil menjadi semacam pengingat yang menyakitkan agar kita tetap sadar pada kenyataan hidup yang tidak selalu indah. Bahwa hidup memiliki borok yang tidak bisa sembuh hanya dengan kalimat-kalimat manis nan optimis. Sejenak, jika direnungkan, lagu ini terasa seperti cambuk yang menyadarkan kita.

Tak sampai di situ, sisi gelap Coki Pardede juga tertuang dalam lirik berikut:

Tali tak pernah begitu menariknya, nyaman di leher.

Adegan kasar ini dituangkan oleh Coki sebagai bentuk gambaran keputus asaan manusia. Di dunia yang terkadang tidak menawarkan banyak hal selain kesakitan, lirik tersebut terasa sangat pas untuk menggambarkan keadaan manusia yang sudah menyerah. Yang sayangnya dan faktanya, bagi sebagian orang, itulah jalan terakhir yang dianggap bisa mengakhiri penderitaan: bunuh diri.

Bagi saya, lirik tersebut bukan sesuatu yang perlu disensor. Jelas sekali bahwa Coki ingin menegaskan satu hal: hidup tidak selalu mulus, dan manusia bisa saja sampai pada titik terendah ketika merasa dunia tidak lagi berlaku adil padanya.

Lagu ini memang terasa sangat cocok dengan nama band mereka.

Nihil menjadi lagu yang sering saya putar akhir-akhir ini. Sebagai manusia yang sedang berada dalam fase quarter-life crisis, yang sedang kesulitan menapaki hidup, yang kadang merasa merana karena keadilan tak kunjung datang, lagu ini terasa seperti teman yang memahami. Ia menjadi pengingat dan alat tampar yang menyadarkan saya untuk tidak terlalu berekspektasi tinggi terhadap kehidupan.

Lagu ini mengajak saya menafsirkan ulang makna hidup, dan belajar untuk tidak terlalu menggantungkan harapan pada keadaan.

Pada akhirnya, hidup hanyalah hidup. Ia bisa indah, bisa juga sebaliknya, dan kita hanya perlu menjalaninya tanpa banyak bertanya.

Sampai saat ini, saya masih tidak menyangka Coki Pardede bisa membuat lagu bernuansa gelap, namun dikemas dalam balutan musik yang terdengar indah.  Lagu ini jadi satu karya underrated yang wajib kalian masukkan ke dalam playlist. Meski begitu, saya tidak bertanggung jawab atas efeknya, dan saya harap teruslah bersemangat. Sebab, hidup sudah pasti banyak sedihnya.

 

Instagram @teguh_tapi_tidak_teguh. Saya seorang pemuda tanggung yang suka baca dan nonton film tapi saya benci sekali kopi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!