

bahkan tak tersedia
bangkai frasa
selamat tinggal di kastel ini
nicolette
dan warta
ilusi lonceng gereja
sebatas bunyi
cacat laten bahasa
pada tanya:
ke ngeri hutankah
napasmu harus kucari?
*
seperti berkunjung
ke dunia
yang tak terhuni
tak dengan suluh
bertahun
kusisir sinis rimba ini.
tapi, nicolette
suaramu
nyanyian dari abad jauh
ajal—
yang tak kukenali
dengan apa
harus kupanggil kau
kembali?
*
tak ada bekas kelupas
kulit kaki
di antara basi lumut
hutan
hanya lengking sunyi
seperti desis ular
malam hari
menjauhkan
harum bisikmu
ke jarak yang kian tak
terendus lagi.
*
seperti terlilit ranting
halusinasi:
di bawah kanopi ek
kulihat para pastor
sibuk mengayun sesaji
hingga wangi
kemenyan
menutup anyir getih
segala yang mati
tak bermakam di rusuk
belukar ini.
dan para kerani
tekun
mencatat tiap tragedi
dengan bulir darah sendiri
hingga pembunuhan
terlihat seperti
sebatas administrasi.
*
tapi, nicolette
alfabet tak tumbuh
pada lekuk
osuari.
di antara fosil melati
tengkorak rusa
dan 5 konsonan sunyi
dengan apa
harus kupanggil jasadmu
kembali?
2026
: cinta, barangkali dosa
yang diwariskan
7.200 detik
tanpa intervensi
sebelum aku
dan maut berkencan.
1.
2 jam sebelum ajal
ditemukan
di kastel brittany
abad batal
mengenali kematian.
dan di antara
dinding batu tua
redup obor dan jendela
yang setengah
putus asa
maut mengintai
tanpa gema.
“tristan!”
persis suaramu
dari sisi ranjang
memanggilku
dengan
bahasa yang lebih tua
dari ingatan.
kemudian hening
yang lebih nyaring
dari kematian
kembali
menekuklututkan waktu
sejak tepi luka perutku
menghitam
dan tak tampak tuhan
cekatan
menggiring kapal
dari selatan.
“isolde, datang?”
di scene ke-9
yang tak di-close-up
hanya jawaban.
2.
aroma asin laut
yang tipis
menyuruk dari jendela
dan di mataku
langit yang, mungkin
tak paham
apakah iman berguna
memuntahkan
hujan
yang luput disiasati
cuaca.
ingatan jadi basah
tapi sia-sia
sebab tak ada kau
di tiap benua
yang telah kutandai
dengan air mata.
barangkali sedih
sejenis dogma
3.
di kastel para maesenas
dawai telah
diceraikan harpanya.
dan kesunyian
seperti tubuh perempuan
dari bangsa
yang tak diakui peta
memelukku
seperti
memeluk yang tak ada.
mukjizat
tak bisa diakses
tuhan pasif
dan iman, jika digadaikan
laku berapa?
“249 mil laut yang tersisa!”
dalam rasio aspek 16:9
kesangsian
fade out: jadi wisteria.
4.
seperti seorang yatim
yang terpaksa
mengakrabi beranda
iseult
menyerahkan matanya
pada laut
yang tak bernama.
mewakiliku, menunggumu
sejak racun di tubuhku
tak tertawar
bahkan oleh 157 tabib
dari luar istana
sejak
di lambung dan dadaku
panas menjalar
seperti besi merah
menekan iga.
5.
hingga sore ke-11 tiba
23 menit
sebelum kapal tertambat
di armorica
di antara
dinding batu tua
redup obor dan jendela
yang setengah
putus asa
iseult
dengan gaun sepucat
margarin
tergesa ke arahku
dan berkata:
“1,15 mil laut yang tersisa”
dan kesunyian
seperti tubuh perempuan
kembali memelukku
seperti
memeluk yang tak ada.
sebuah kapal mendekat ke kais
“isolde, datang?”
dengan bendera
sehitam ajal di tiangnya.
kemudian genderang
seperti
ditabuh dari neraka
sejak aku dan maut bercinta
dan tuhan
tak tampak seperti hendak
mencegahnya.
2025
: legenda pulau kemaro
telah kupasung kecemasan
yang acap bersilintas
di tengah pelayaran:
memangkas laut
membelah musi
menuju peraduanmu
di tengah delta
nan sunyi
kekasih
dari punggung perahu ini
pasang bibirku senantiasa
merapal hasrat yang dingin
sulutan dupa mengasap
melempangkan diri
bersama gulir doaku
menembus langit
sampekke aku
jangan di lain tempat
yang dak kupingin
di dasar hatinyo, cukup di sano
biarke kuberlindung
tanpo kenal kato berpaling
kemudian dari selatan musi
badai datang mengusik
kekasih
pelayaran bertolak menjauh
dan aku juga hatiku
terpaksa tergiring
ke pelepasan waktu:
yang kian mengaburkan adamu
yang kian mengerat
hasrat bersipeluk kau-aku
di pertunggukan umur
2018
Lahir di Ogan Komering Ulu Timur, Sumatra Selatan pada 22 November 1996. Alumnus Pascasarjana Universitas Gadjah Mada, Program Studi Magister Sastra. Founder Komunitas dan Kurator Media Publikasi Pura-Pura Penyair. Menulis dua buku, Rumah Kecil di Kepalamu (2018) dan Rute Lain Menuju Hatimu (2023). Instagram @randaidaffa96
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!