

Negara kami sangat rajin
bangun pagi ke kantor
menyusun rencana
tentang siapa yang boleh hidup
dan siapa yang boleh lapar
ia rajin sekali
menghitung angka pertumbuhan
dari keringat buruh
yang tak sempat sarapan
ia rajin sekali
membangun istana megah
sementara jembatan ke sekolah
masih dari bambu dan doa
kami pun ikut rajin
mengantri bantuan
membayar pajak
menahan sakit
agar tak mengganggu
rapat-rapat penting
dan ketika kami jatuh
di jembatan yang rapuh
negara datang
membawa kamera dan caption,
“turut prihatin”
Terima kasih, pemerintah
atas subsidi oksigen
yang kami hirup gratis
meski paru-paru kami
sudah penuh asap pabrik
terima kasih juga
atas jalan berlubang
yang mengajarkan kami
cara menghindar
dari lubang kehidupan
kami bangga
jadi warga negara
yang taat pajak
meski gaji kami
lebih kecil dari
uang parkir gedung DPR
kami bersyukur
atas janji-janji
yang dikemas rapi
dalam baliho
dan pidato
yang tidak pernah
mengenal kenyataan
kami paham
bahwa keadilan
butuh waktu
mungkin seribu tahun
atau dua periode
dan ketika kami protes
kami disebut kurang bersyukur
padahal kami hanya ingin
sedikit keadilan
sedikit nasi
sedikit harga diri
tapi tak apa
kami tetap cinta
meski cinta ini
tak pernah dibalas
selain dengan
aturan baru
Negara kami punya selera
ia suka makan harapan
dengan saus birokrasi
dan topping janji-janji
kami disuruh kerja-kerja
kerja kerja kerja
sampai tulang kami
bisa dijadikan pondasi
gedung kementrian
kami disuruh sabar
karena keadilan
sedang dalam proses
pengadaan tender
kami disuruh patuh
karena hukum
adalah benda cair
yang bisa dituang
ke kantong siapa saja
dan ketika kami bertanya
tentang hak dan suara
negara tertawa
lalu menyuruh kami
berdoa saja
karena bertanya,
keadilan itu
urusan Tuhan
bukan tugas mereka
Aku staf khusus
tugasku bukan membuat kebijakan
tapi menghapus jejaknya
jejak korupsi
jejak janji palsu
jejak pidato yang keliru
jejak foto bersama tersangka
semua aku bersihkan
dengan software kepercayaan publik
aku ahli dalam hal edit sejarah
mengganti kata “salah”
dengan kata “salah kutip”
mengganti “penjara’
dengan “cuti panjang”
aku bekerja diam-diam
di balik layar
di balik konferensi pers
di balik senyum pejabat
yang baru saja minta maaf
tanpa menyebut apa yang dimaafkan
aku punya alat canggih
penghapus digital
pengalihan isu
dan mesin pencetak narasi
yang bisa membuat rakyat lupa
bahwa mereka pernah marah
dan kalau ada yang bertanya
tentang jejak yang hilang
aku jawab:
“itu hoaks,
Jejaknya tidak pernah ada”.
Kami bukan manusia
kami angka
dalam grafik pertumbuhan
dalam tabel kemiskinan
dalam presentase yang penuh warna
tapi kosong makna
kami disebut
sebagai “kelompok rentan”
“masyarakat bawah”
“target bantuan”
tapi tak pernah ditanya
apa yang benar-benar kami butuhkan
kami muncul
di laporan tahunan
di pidato kenegaraan
di baliho pencapaian
tapi tak pernah hadir
di ruang keputusan
kami dihitung
dengan rumus ekonomi
dengan algoritma kebijakan
dengan asumsi stabilitas
tapi tak pernah dihitung
sebagai manusia
dan ketika kami protes
mereka bilang :
“data kalian sudah kami olah”
lalu menyajikan grafik
tentang betapa kami
harusnya bersyukur