

Di warung kopi,
utang ditulis di buku tipis
lebih jujur daripada janji kampanye.
Namaku berbaris rapi,
seperti tokoh figuran
dalam novel yang tak pernah tamat.
Camus duduk di kursi plastik,
menyruput pahit tanpa bertanya:
untuk apa pagi
jika sore selalu ditagih?
Dostoyevski menghitung receh
di saku celana sobek,
menyadari:
yang membuat manusia gila
bukan kemiskinan,
melainkan sistem yang pura-pura waras.
Negara lewat sambil mengangguk,
menyebut ini dinamika,
lalu meninggalkanku
bersama angka
yang tumbuh lebih cepat
dari doa.
Hidup datang
tanpa buku petunjuk,
hanya ada lampiran tambahan
berjudul: cicilan.
Aku bangun pagi
bukan karena harapan,
melainkan karena jam kerja
tak mengenal filsafat.
Camus mungkin menyarankan
pemberontakan kecil:
tertawa di tengah antrian panjang
tanpa tujuan jelas.
Dostoyevski akan menulisku
sebagai karakter
yang terlalu sadar
namun tetap berangkat.
Negara menyebut ini dewasa,
padahal aku hanya
belajar berdiri
di lantai yang sengaja dimiringkan.
Negara seperti mesin cuci:
memutar rakyat berkali-kali,
lalu bertanya mengapa
mereka lelah.
Kemiskinan dicuci
dengan istilah teknokratis,
dijemur di baliho besar,
tetap saja basah.
Utang tidak pernah kering,
ia hanya berpindah kantong,
dari satu generasi
ke generasi berikutnya.
Camus menyalakan rokok,
menyebut ini absurd,
Dostoyevski mematikan lampu,
menyebut ini dosa kolektif.
Aku menunggu putaran selesai,
padahal tombol berhenti
tak pernah disediakan.
Di rumahmu,
jam dinding berdetak
lebih keras dari biasanya.
Setiap suara kecil
diterjemahkan sebagai ancaman,
seolah masa lalu
masih suka mengetuk malam.
Aku belajar menjadi benda:
tirai yang tak menutup paksa,
lantai yang menahan langkah,
air minum yang diletakkan
tanpa ditanya.
Kadang kau tersenyum
seperti matahari singkat,
kadang langit runtuh
hanya karena kenangan
tersandung suara.
Aku tetap di situ,
seperti jam cadangan
yang tak ditatap,
tapi bekerja
agar waktu tidak benar-benar berhenti.
Tidak semua kedekatan
perlu diumumkan.
Ada yang cukup
dengan mengingat
pola napas orang lain
saat malam terlalu ramai.
Ada yang cukup
dengan mengetahui
di mana meletakkan diam
agar tidak melukai.
Di dunia yang gemar berteriak,
aku memilih menjadi bangku
di halte sepi:
tidak bertanya tujuan,
tidak mendesak pergi.
Jika suatu hari pagi terasa aman,
itu bukan karena dunia membaik,
melainkan karena seseorang
akhirnya bisa duduk
tanpa berjaga.
Di halte bus,
aku membaca hidup seperti catatan kaki:
kecil, sering dilewati,
tapi menjelaskan segalanya.
Di satu sisi jalan,
negara sibuk menghitung kami
sebagai grafik dan beban.
Di sisi lain,
ada manusia yang belajar bernapas
tanpa merasa bersalah.
Camus menyebut ini jarak
antara makna dan kenyataan.
Dostoyevski menyebutnya lorong
tempat nurani sering tersandung.
Aku berdiri di tengah,
memegang dua hal sederhana:
kartu identitas
dan kesabaran yang tak tercantum
di formulir apa pun.
Bus datang terlambat,
seperti keadilan.
Aku tidak marah.
Aku hanya mencatat:
perjalanan panjang selalu dimulai
dari menunggu
tanpa tepuk tangan.