Pada malam tanggal 2 Desember 2018, tepat ketika akan memasuki gedung apartemen di mana ia tinggal, Yamaguchi Maho mendapati seseorang menggenggam tangannya. Seseorang itu kemudian berusaha menariknya dengan kasar dan bahkan menyentuh mukanya—juga dengan kasar. Tidak lama seseorang lainnya muncul dan berusaha membekapnya. Untunglah ketika itu bunyi tanda seseorang akan keluar dari elevator di dalam gedung apartemen itu terdengar. Yamaguchi Maho memanfaatkan momen singkat ini untuk melepaskan diri dan lekas masuk.

Yamaguchi Maho adalah member idol grup NGT48, sister grup AKB48 yang bermarkas di Niigata. Ia termasuk member yang populer mengingat ia adalah wakil kapten Tim G—selain Tim G ada juga Tim N dan Tim T. Kedua orang yang menyerangnya tadi itu—keduanya laki-laki—kelak ditangkap polisi namun dibebaskan tanpa diberi hukuman. Mereka mengaku penggemar sang wakil kapten Tim G itu dan mengatakan bahwa yang ingin mereka lakukan hanyalah mengajaknya ngobrol; tidak lebih dari itu.

Sementara penyerangan itu terjadi pada awal Desember tahun lalu, penangkapan kedua lelaki tersebut justru baru dilakukan Januari tahun ini. Pasalnya penyerangan itu sendiri memang baru terkuak belum lama ini ketika Yamaguchi Maho membeberkannya di sebuah program live streaming bernama Showroom, itu pun bahkan tidak secara keseluruhan sebab program tersebut tiba-tiba dihentikan begitu saja. Yamaguchi Maho kemudian memaparkan sisanya di akun twitter resminya sebagai member NGT48, @maho_yamaguchi. Ia menjelaskan bahwa ia sebenarnya sudah meminta pihak manajemen NGT48 memproses kasus penyerangan itu dari bulan Desember namun ternyata mereka tidak juga melakukannya dan ia pun merasa harus mengemukakan apa yang telah dialaminya itu. Ketika “membocorkan” informasi terkait hal tersebut di Showroom, Yamaguchi Maho terlihat berkaca-kaca.

Berkat inisiatifnya inilah kedua laki-laki yang menyerangnya tadi itu bisa ditangkap. Mereka memang tidak diberi hukuman oleh polisi tetapi mereka secara resmi dilarang untuk mengikuti lagi aktivitas-aktivitas NGT48 yang melibatkan para penggemar—sebagai penonton, misalnya. Yang lucu adalah, Yamaguchi Maho kemudian menghapus tweet-tweet-nya tadi dan malah meminta maaf karena ia (merasa) telah merepotkan banyak pihak—manajemen dan penggemar tentu termasuk di dalamnya. Ia meminta maaf padahal ia telah melakukan sesuatu yang benar, sesuatu yang memang sudah semestinya ia lakukan. Wajar saja jika kemudian banyak orang berspekulasi bahwa permintaan maaf itu diberikan Yamaguchi Maho karena ada tekanan dari pihak tertentu—dalam hal ini manajemen NGT48.

Dan ini tentu saja masalah. Yamaguchi Maho, bagaimanapun, adalah korban. Lantas kenapa korban justru harus meminta maaf, sedangkan ia hanya berusaha mencari keadilan untuknya? Dan ia bahkan tidak melakukannya dengan cara-cara yang “tak pantas” seperti menggunakan kata-kata kasar atau semacamnya.

Sashihara Rino, member terpopuler sister grup AKB48 yang bermarkas di Hakata, HKT48, ikut bersuara terkait kasus ini. Ia menyayangkan permintaan maaf itu dilakukan Yamaguchi Maho, namun tentu dengan mengarahkan kritik kepada pihak manajemen NGT48. Sashihara Rino mengatakan bahwa pihak manajemen sudah semestinya melindungi para member, memberi mereka rasa aman, dan itu termasuk menangani kasus penyerangan tadi itu, sesegera mungkin, secara sungguh-sungguh. Bahwa kemudian Yamaguchi Maho justru malah meminta maaf dan memosisikan dirinya sebagai pihak yang bersalah—merepotkan banyak pihak—menunjukkan bahwa pihak manajemen tidak menjalankan kewajibannya dengan baik.

Dan agaknya memang begitu, meski sayangnya ini bukan sesuatu yang mengejutkan. Penyerangan pada malam tanggal 2 Desember 2018 itu bisa terjadi karena ada seorang member NGT48 yang membocorkan kepada kedua lelaki tadi informasi-informasi pribadi tentang Yamaguchi Maho, seperti di mana ia tinggal dan pada pukul berapa biasanya ia pulang. Untuk bisa mengekspos kasus ini ke publik, pihak manajemen mungkin merasa perlu menciptakan situasi di mana hal tersebut tidak akan berdampak negatif pada citra NGT48 dan karier idol grup ini ke depannya. Pertimbangan mereka adalah untung-rugi. Nalar yang dominan dipakai di sini adalah nalar kapitalisme.

Tentu kita tidak bisa membenarkan itu. Benar memang NGT48 hidup di dalam iklim kapitalisme dan tak bisa dimungkiri bahwa salah satu tujuan dari aktivitas-aktivitas mereka adalah memperoleh keuntungan finansial sebanyak-banyaknya. Dan dalam hal ini, para member adalah komoditas, sesuatu yang bisa “dipertukarkan” dengan kapital. Tetapi kita juga harus ingat bahwa mereka manusia, bahwa para member itu, yang semuanya perempuan, sudah semestinya diperlakukan sebagai manusia. Dan meminggirkan nalar kapitalisme saat mengatasi kasus penyerangan terhadap Yamaguchi Maho tadi adalah bagian dari memperlakukan mereka sebagai manusia. Di sini, yang harus dikedepankan adalah nalar kemanusiaan—lebih tepatnya nalar hukum yang dibarengi nalar kemanusiaan.

Di masyarakat kita sendiri, situasi serupa dengan yang dialami Yamaguchi Maho itu ada, dialami oleh sejumlah banyak perempuan. Misalnya, ketika seorang perempuan bekerja sebagai sekretaris di sebuah instansi dan ia berkali-kali mengalami pelecehan seksual bahkan pemerkosaan dari atasannya, dan ia akhirnya mengeluhkan hal ini kepada pihak instansi, yang dipikirkan pihak instansi bukanlah bagaimana supaya si perempuan ini memperoleh keadilan, tetapi bagaimana supaya nama baik dan nilai tawar instansi tetap terjaga, tidak berkurang apalagi jatuh. Hal inilah juga yang dipikirkan pihak sebuah universitas ketika mereka mendapati ada salah satu mahasiswanya pernah menjadi korban pelecehan seksual—atau bahkan pemerkosaan—dan kasus ini akhirnya terkuak dan menjadi santapan publik, di mana si pelaku bisa salah satu dosen atau mahasiswa lain yang dinilai berprestasi dan mengharumkan nama kampus—seseorang yang mereka anggap harus mereka lindungi apa pun yang terjadi. Nalar kapitalisme begitu dominan dan para korban—yang kebetulan perempuan itu—pun tak memperoleh hak-haknya. Mereka lebih diposisikan sebagai komoditas yang bisa diganti—atau bahkan dibuang—alih-alih manusia.

Dan lebih buruk lagi, ada juga nalar patriarki yang begitu dominan dan membuat posisi para korban semakin lemah. Berdasarkan nalar patriarki, nilai tawar seorang perempuan dalam sebuah masyarakat (sistem) selalu di bawah laki-laki; jika ada seorang laki-laki dan seorang perempuan memiliki keahlian yang kurang-lebih sama maka sudah pasti yang diberi perlakuan lebih baik adalah si laki-laki. Juga berdasarkan nalar patriarki, seorang perempuan dianggap tak benar-benar memiliki suaranya sendiri, sehingga harus ada pihak-pihak lain yang mewakilinya, entah itu instansi atau keluarga atau masyarakat, dan ini berdampak pada semakin tak terdorongnya si perempuan untuk bersuara ketika kasus-kasus tak menyenangkan tadi dialaminya. Sederhananya, si perempuan, yang adalah korban, akan berpikir seperti ini: sia-sia saja mempermasalahkannya sebab pada akhirnya yang akan dituntut untuk merasa bersalah adalah dirinya, bukan si pelaku apalagi sistem. Dan ini tergambarkan dengan baik di kasus Yamaguchi Maho tadi, di mana sang idol ini malah meminta maaf padahal ia adalah korban, padahal ia, terkait kasus penyerangan terhadapnya itu, sama sekali tak melakukan kesalahan apa pun baik itu sebagai manusia ataupun idol.

Ketika nalar kapitalisme dan nalar patriarki dipadukan, dan selanjutnya diposisikan sebagai yang dominan, perempuan-perempuan seperti Yamaguchi Maho memang akan cenderung menjadi korban, begitu pula kita yang peduli padanya—kita terjebak dalam sebuah situasi di mana kita harus “menyaksikan” mereka diperlakukan secara tidak adil dan itu akan membuat kita sangat tidak nyaman. Karena itu, sudah semestinya kita mencegah hal tersebut terjadi. Memang kita masih hidup di dalam iklim kapitalisme dan patriarki, tetapi kita harus senantiasa menyikapinya secara kritis. Lebih jauh lagi, kita pun kelak harus bisa mengganti kedua iklim tersebut dengan iklim-iklim yang lebih baik, yang mampu memberi rasa aman dan rasa adil bagi setiap individu yang ada di dalamnya, baik itu laki-laki maupun perempuan, baik itu idol ataupun “orang biasa”. Terkesan utopis, barangkali, tetapi tentu tak ada salahnya kita mencoba mewujudkannya.(*)

—Cianjur, 12-13 Januari 2019