

Gemuruh di langit-langit Gua Jomblang sore itu terdengar berbeda. Bukan cuma gemercik air yang biasa runtuh dari sela-sela stalaktit, tapi ada getaran halus yang membuat telapak kaki Arga kesemutan.
Arga, mahasiswa geologi semester akhir yang rambutnya sudah mirip sarang burung gara-gara seminggu jarang sisiran, menyeka keringat di dahinya. Senter kepala yang terikat di helmnya menyorot liar ke dinding gua karst yang basah. Di tangannya, sebuah peta topografi digital di gawai pintar menampilkan garis-garis biru yang terputus.
“Secara teori, hidrologi kawasan ini harusnya nyambung ke mata air warga di bawah,” gumam Arga sendiri. Suaranya memantul, menciptakan gema yang agak horor.
Sudah tiga minggu Arga indekos di rumah Pak Dirman, kepala desa setempat. Misinya cuma satu: menyelesaikan skripsi tentang jalur sungai bawah tanah Gunungkidul. Alih-alih mendapatkan data batu kapur dan debit air, Arga malah kenyang dicekoki cerita mistis.
Masyarakat desa di sini percaya bahwa di bawah tanah tempat mereka berpijak, ada seekor naga raksasa yang sedang tidur. Naga itu melingkar, memeluk aliran sungai bawah tanah.
“Jangan diganggu, Mas Arga,” begitu kata Pak Dirman sambil menyesap kopi hitamnya tempo hari. “Selama naganya tidur tenang, air kita bakal melimpah. Kalau dia bangun, airnya bakal dibawa pergi, desa kami akan mati kekeringan.”
Sebagai mahasiswa yang isi kepalanya dipenuhi rumus kimia dan hukum fisika, Arga hanya tersenyum sopan saat itu. Mitos ya mitos, pikirnya. Paling itu cuma cara orang zaman dulu biar anak-anaknya tidak main ke gua yang berbahaya.
Namun, sore itu, logika sains Arga mendadak ditantang 180 derajat. Langkah kaki Arga membawanya lebih dalam, melewati sebuah celah sempit yang tertutup semak srigunggu. Celah itu tidak ada di peta resmi milik kampus ataupun dinas kehutanan. Bau tanah basah dan lumut tercium menyengat. Begitu berhasil merangkak keluar dari celah tersebut, Arga terperangah.
Arga sampai di sebuah aula gua yang sangat besar. Jauh lebih besar dari semua gua yang pernah dia petakan. Di tengah aula itu, sebuah sungai bawah tanah mengalir dengan air berwarna pirus yang sangat jernih, saking jernihnya sampai bebatuan di dasar sungai terlihat jelas. Tapi bukan itu yang bikin jantung Arga mau copot.
Saat dia mengarahkan senternya ke dinding gua, struktur batu kapur di sana tidak terbentuk secara acak. Ada guratan-guratan masif, sebuah relief raksasa yang dipahat dengan sangat detail. Itu adalah ukiran seekor naga. Sisik-sisiknya terbuat dari formasi kristal kalsit yang berkilauan saat terkena cahaya senter. Yang bikin merinding, lekukan tubuh naga itu memanjang, persis mengikuti arah belokan aliran sungai bawah tanah di bawahnya.
“Gila… ini mahakarya,” bisik Arga.
Dia langsung mengambil ponselnya, memotret dinding tersebut dari berbagai sudut. Tanpa sadar, Arga mengirimkan foto-foto tersebut ke grup WhatsApp angkatannya, berniat memamerkan penemuan spektakuler ini kepada dosen pembimbingnya.
Arga tidak pernah tahu kalau kecerobohan kecil itu bakal jadi awal petaka bagi desa.
Dua hari kemudian, ketenangan desa pecah. Beberapa jip-jip mewah dan truk perlengkapan berat berlogo PT Karst Sejahtera parkir di batas desa. Seseorang bernama Bapak Anton, pria parlente dengan kemeja safarinya yang necis, datang membawa surat izin eksplorasi.
“Kami tahu ada potensi semen dan mineral langka di bawah bukit ini, Pak Dirman,” kata Anton dengan senyum ramah yang tampak palsu di balai desa. “Tenang saja, warga akan kami beri kompensasi besar. Daerah ini bakal maju.”
Pak Dirman langsung menggeleng tegas. “Tidak bisa, Pak. Di bawah itu tempat jalurnya air kami. Kalau digali, naga penjaga air bisa marah.”
Bapak Anton tertawa renyah, menganggap ucapan itu cuma dongeng pengantar tidur. “Zaman sekarang kok masih percaya naga, Pak? Kita pakai teknologi modern, semua aman dan terukur.”
Arga yang ikut hadir di pertemuan itu mendadak merasa bersalah. Di tangan Anton, ada selembar cetakan foto dinding naga dan koordinat GPS yang sangat dia kenali. Itu foto yang dikirim Arga di grup! Rupanya, salah satu teman angkatan Arga adalah anak magang di perusahaan tersebut dan membocorkan datanya.
“Mas Arga, kamu yang tahu sains, tolong jelaskan ke mereka kalau struktur gua di bawah itu nggak boleh diganggu,” bisik Lestari, seorang guru sejarah lokal sekaligus anak Pak Dirman, menyenggol lengan Arga dengan tatapan kecewa.
Arga menelan ludah. “secara geologis… kawasan karst memang rentan, Pak Anton. Pengeboran bisa merusak struktur batu penyangga gua.”
“Ah, kamu kan baru mahasiswa, tahu apa soal industri besar?” potong Anton meremehkan. “Izin dari pusat sudah keluar. Besok kami mulai pengeboran sampel.”
Hari berganti, pengeboran dimulai di atas bukit, tepat di titik yang diperkirakan berada di atas aula gua raksasa. Mesin bor raksasa meraung-raung, menggetarkan tanah desa.
Malamnya, keanehan mulai terjadi. Mata air utama di sendang desa yang biasanya mengalir deras mendadak surut drastis. Airnya yang semula bening berubah menjadi keruh, kecokelatan, dan berbau lumpur pekat. Bukan hanya itu, dari dalam tanah, terdengar suara gemuruh yang lowong dan panjang, mirip suara erangan dari tenggorokan yang sangat besar.
“Naganya bangun… naganya marah!” bisik para tetua desa dengan wajah pucat pasi. Suasana desa mencekam. Warga berkumpul di balai desa, ketakutan melihat sumber kehidupan mereka mendadak hilang.
Arga tidak bisa tidur. Suara gemuruh itu terus terngiang di telinganya. Dia lalu membuka laptop, menumpuk peta geologi buatannya dengan sketsa ukiran naga yang sempat dia gambar. Saat kedua gambar itu disatukan di layar, mata Arga membelalak.
“Astaga…” Arga menutup mulutnya sendiri.
Ukiran naga itu bukan cuma hiasan atau berhala purba. Itu adalah sebuah infografis geologi yang dibuat oleh leluhur ratusan tahun lalu!
Bagian kepala naga menandakan zona tangkapan air utama. Bagian badannya yang meliuk adalah akuifer (lapisan batuan yang mengandung air). Dan titik di mana perusahaan Anton sedang mengebor saat ini—tepat di bagian leher naga adalah key fault atau patahan kunci yang menahan seluruh sistem hidrologi agar air tidak amblas ke lapisan bumi yang lebih dalam.
Jika leher naga itu hancur karena bor, maka seluruh air sungai bawah tanah akan tersedot hilang ke dalam palung bumi, dan desa itu tidak akan pernah melihat air lagi selamanya. Mitos naga itu adalah cara jenius para leluhur untuk membungkus pengetahuan sains yang rumit agar mudah dipatuhi oleh lintas generasi.
“Lestari! Pak Dirman! Kita harus ke gua sekarang!” teriak Arga sambil berlari keluar rumah, memegang laptopnya.
Di luar, hujan deras mengguyur, membuat situasi makin berbahaya. Hujan di kawasan karst bisa memicu sinkhole atau tanah amblas jika struktur di bawahnya tidak stabil.
Arga, Lestari, dan beberapa warga nekat menerobos badai menuju lokasi pengeboran. Di sana, mereka melihat mesin bor raksasa milik perusahaan masih terus bekerja, mencoba menembus batuan lebih dalam meskipun tanah di sekitar kaki mesin sudah mulai retak-retak.
“Hentikan mesinnya! Stop!” teriak Arga menerobos raungan mesin.
Bapak Anton yang berlindung di bawah tenda payung menatap Arga dengan kesal. “Apa-apaan kamu? Jangan mengganggu kerja kami!”
“Pak Anton, dengarkan saya sekali ini saja!” Arga membuka laptopnya yang mulai terciprat air hujan, memperlihatkan simulasi peta geologi naga tersebut. “Titik bor kalian ini tepat di atas zona patahan kritis! Sesar batuan di bawah sudah retak. Kalau diteruskan, getaran bor ini akan membuat langit-langit gua runtuh. Bukan cuma air desa yang hilang, tapi mesin kalian, dan kita semua yang ada di bukit ini, bakal amblas masuk ke dalam tanah!”
Tepat setelah Arga menyelesaikan kalimatnya, sebuah suara dentuman keras terdengar dari dalam bumi.
Duaaarrr!
Tanah di bawah kaki mereka bergetar hebat. Tiang penyangga mesin bor mulai miring. Lumpur hitam pekat menyembur keluar dari lubang bor, disusul oleh suara gemuruh panjang yang kali ini terdengar sangat mengerikan, persis seperti raungan naga yang murka karena tidurnya diusik.
Para pekerja bor langsung berhamburan lari ketakutan. “Sesar runtuh! Tanah amblas!” teriak salah satu operator mesin. Bapak Anton pucat pasi melihat mesin miliaran rupiah miliknya mulai terisap oleh tanah yang mendadak melunak seperti bubur. Dia terduduk lemas, menyadari bahwa keserakahannya hampir mengubur mereka hidup-hidup.
“Arga! Kita harus turun ke gua lewat celah rahasia! Kita harus mastiin sumbatan patahannya nggak bikin banjir bandang di dalam!” teriak Lestari sambil menarik jaket Arga.
Dengan nyali yang tersisa, Arga dan Lestari nekat turun kembali ke dalam gua raksasa melalui celah sempit yang mereka temukan tempo hari. Kondisi di dalam gua sudah seperti zona perang. Stalaktit-stalaktit berjatuhan dari langit-langit gua, hancur berkeping-keping di lantai batu.
Saat mereka sampai di aula utama, pemandangannya luar biasa mengerikan sekaligus magis. Air sungai bawah tanah menggulung hebat, warnanya berubah menjadi merah kecokelatan akibat erosi tanah dari atas.
Senter kepala Arga menyorot ke arah dinding relief naga. Bagian leher naga itu retak besar, dan dari retakan itu, air bah menyembur keluar dengan tekanan tinggi. Dalam kegelapan dan bias air yang berterbangan, siluet ukiran naga itu seolah-olah bergerak hidup, meliuk-liuk di dinding gua seiring dengan aliran air yang mengamuk.
“Arga, lihat! Batuan di bagian ekor naga menyumbat aliran keluar! Kalau dibiarin, airnya bakal meluap balik dan menenggelamkan seluruh gua, lalu merembes menghancurkan fondasi desa di atas!” teriak Lestari di paruh suara, mencoba mengalahkan gemuruh air.
Arga melihat ke arah yang ditunjuk Lestari. Sebuah bongkahan batu besar runtuh tepat di penyempitan jalur sungai bawah tanah. “Kita harus hancurin sumbatan itu biar alirannya lancar lagi!”
Menggunakan linggis portabel yang dibawa di tas ranselnya, Arga merangkak di antara tebing gua yang basah dan licin. Setiap detik terasa seperti taruhan nyawa. Senter kepalanya beberapa kali mati akibat cipratan air. Dalam remang-remang, dia seolah melihat mata naga di dinding gua itu menyala keemasan, memperhatikannya.
“Tolong… izinkan saya memperbaiki ini” bisik Arga dalam hati, entah kepada alam atau kepada sang naga legendaris.
Dengan sisa tenaga yang ada, Arga menghantamkan linggisnya ke titik rapuh batu yang menyumbat aliran sungai. Sekali, dua kali, tiga kali…
Krak!
Batu besar itu pecah. Aliran air yang tadinya tertahan langsung menyembur deras, mengalir lancar mengikuti lekuk tubuh naga menuju ke dalam perut bumi yang lebih dalam. Tekanan air di dalam gua mendadak turun, dan suara gemuruh yang tadinya memekakkan telinga perlahan-lahan mereda menjadi sebuah dengungan halus yang menenangkan.
Arga terduduk lemas di atas batu basah, napasnya terengah-engah. Di sampingnya, Lestari tersenyum lega dengan air mata yang bercampur air gua di pipinya.
Ketika Arga kembali mengarahkan senternya ke dinding gua, retakan di leher naga itu kini tertutup oleh endapan lumpur baru, seolah naga itu telah kembali menutup lukanya sendiri, dan kembali tidur dalam damai.
Satu bulan setelah kejadian yang nyaris merenggut nyawa tersebut, suasana Desa Karst kembali normal. PT Karst Sejahtera resmi mencabut laporan eksploitasi mereka setelah dokumen kegagalan geologis yang disusun Arga diajukan ke kementerian lingkungan hidup. Bapak Anton tidak pernah kelihatan lagi batang hidungnya di Gunungkidul.
Mata air di sendang desa kembali mengalir bening, bahkan lebih deras dari sebelumnya.
Sore itu, Arga duduk di teras rumah Pak Dirman, menyelesaikan bab terakhir skripsinya. Judulnya kini berubah, bukan lagi sekadar kode-kode ilmiah yang kaku, melainkan: “Geomitologi Kawasan Karst: Membaca Sains di Balik Legenda Naga Sungai Bawah Tanah.”
Pak Dirman berjalan mendekat, lalu meletakkan secangkir kopi hangat di meja Arga. Beliau menepuk pundak sang mahasiswa dengan hangat.
“Jadi, Mas Arga, sekarang sudah percaya kalau naganya beneran ada?” tanya Pak Dirman sambil terkekeh.
Arga menyesap kopinya, lalu menatap ke arah perbukitan hijau yang berdiri kokoh di depan mereka. Dia tersenyum, kali ini tanpa rasa skeptis sama sekali.
“Percaya, Pak. Naganya beneran ada. Dia nggak punya sayap atau bisa menyemburkan api seperti di dongeng Eropa. Naga kita terbuat dari batu kapur, bernapas lewat embusan angin gua, dan darahnya adalah air jernih yang kita minum setiap hari. Dan tugas kita sekarang adalah memastikan dia nggak pernah terbangun lagi karena keserakahan kita.”
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!