Musim Mekar Selasih Episode III: Gen Z dan Selasih ini Hari

Ikon Membaca Selasih merupakan buah karya kawan-kawan Membaca Selasih

Tulisan ini merupakan arsip kegiatan Musim Mekar Selasih yang diadakan kawan-kawan Membaca Selasih.

 

2 minggu menuju perhelatan Musim Mekar Selasih, Membaca Selasih kembali menghadirkan sebuah diskusi daring.

Kali ini, tajuknya “Gen Z Bicara Selasih”. Diskusi ini dimoderatori oleh Johan Arda dan diisi oleh Fadillah Hayati sebagai narasumber, yang tentu saja Gen Z. Seperti biasa, pertemuan selalu dibuka dengan pejelasan Bang Arbi yang memberikan “pengantar”, dan tujuan kawan-kawan Membaca Selasih mengadakan program ini.

Bang Arbi membuka pengantar kali ini dengan sebuah ironi yang ia temukan saat berkunjung ke sekolah tempat Selasih pernah mengajar.

Ia bertanya kepada guru-guru di sekolah, “Apakah Bapak/Ibu tahu Selasih?”

Ruangan hening dan orang-orang diam saja, katanya.

Kemudian semua yang ada di ruangan itu diminta mengetik “novelis perempuan pertama Indonesia” di Google. Baru saat itulah mereka mengetahui bahwa Selasih, novelis perempuan pertama di Indonesia pernah berada di tempat mereka mengajar sekarang.

Betapa menyedihkan.

 

Benarkah Gen Z Tidak Suka Membaca?

Sering kali saya mendengar banyak yang mengatakan (media juga sering sekali memberitakan) bahwa ini hari, generasi muda kehilangan minat membaca.

Kalimat-kalimat semacam,

“Ah, anak sekarang jarang membaca.”

“Anak sekarang mana suka baca buku? Lebih suka pegang HP.”

Jujur, kalau saya masih dibilang muda, saya bakal bilang “Iya, saya setuju, kok. Saya lebih suka bermain The Sims daripada membaca buku ☹” Ini murni kesalahan dan kemalasan saya, tentu saja. Namun banyak juga anak seusia saya yang lebih rajin membaca dan menulis, dan jangan lupa lebih banyak juga anak seusia saya yang begitu ingin membaca tapi tak ada aksesnya.

Baik, di satu sisi, saya rasa kita bisa saja menyalahkan TikTok, Instagram, dan algoritma media sosial, bahkan attention span yang semakin pendek. Akan tetapi, bagaimana mungkin seseorang dapat mencintai sesuatu yang bahkan tidak pernah diperkenalkan kepadanya?

Tak kenal maka tak sayang, kan?

 

Gen Z dan Beban-bebannya

Sepanjang diskusi, moderator berkali-kali bilang,

“Kira-kira bagaimana cara membuat Selasih dekat dengan Gen Z?”

“Apakah perlu ya kita buat-buat konten di TikTok tentang Selasih? Atau influencer buku, begitu, ya?”

Semua terdengar masuk akal, dan memang membuat kami semua berpikir.

Namun, pertanyaan saya jadi begini,

“Mengapa beban Gen Z selalu dilempar kepada media sosial?”

“Mengapa yang dipersoalkan selalu generasi mudanya? Mengapa bukan lembaga pendidikan, penerbit negara, perpustakaan, atau institusi kebudayaan yang terlebih dahulu dimintai pertanggungjawaban?”

Selasih tentu bukan penulis baru yang butuh viral. Selasih sudah menjadi bagian (diakui atau tidak) dari sejarah sastra Indonesia hampir satu abad lamanya.

Maka, kalau hari ini anak-anak Indonesia (Gen Z secara khusus) tidak mengenalnya, saya berani bilang yang gagal bukan algoritma TikTok saja, dan lagipula, tak bisa beban ini dibebankan sepenuhnya kepada kita yang muda-muda ini~ Asik, anak muda~

Yang gagal ya … sistem pewarisan pengetahuan, dan kita semua tentu tahu pihak-pihak yang bisa disebut “sistem” itu. Memang, tidak ada salahnya mencoba, dan semua cara untuk sesuatu yang baik bisa dilakukan.

Kemudian, ada satu bagian lain yang juga menarik perhatian saya.

 

Membaca adalah Penerapan Slow Living Paling Mudah

Satu waktu, pembahasan sampai pada pengalaman yang menyebut bahwa,

“Awalnya ya, Dilla pikir, membaca karya klasik itu membosankan, bahasanya lambat, ejaannya tidak familiar, tetapi ketika sudah memasuki bagian tengah cerita, itu justru malah tak ingin berhenti membaca. Mungkin perlu ya kita sedikit lebih pelan terhadap sesuatu.”

Saya kira pengalaman itu penting dan sangat layak untuk diutarakan Dilla. Memang, saat ini, kita (atau saya saja) seolah dituntut untuk memahami sesuatu dengan lebih cepat. Kita hidup di zaman yang mengagungkan kecepatan, saking ingin cepatnya, banyak yang membeli beras porang lima belas detik bisa langsung dimakan itu.

Padahal, tentu saja sastra tidak pernah bekerja dengan logika praktis semacam tadi.

Di tengah dunia yang terus mendesak kita bergerak lebih cepat, membaca sastra mengajarkan bahwa memahami manusia membutuhkan waktu.

Diskusi yang juga menarik adalah usulan mengenai penyederhanaan bahasa karya-karya Selasih. Ada peserta yang mencontohkan bagaimana sebuah penerbit berhasil menerbitkan ulang novel klasik dengan ejaan yang diperbarui sehingga lebih mudah dinikmati pembaca masa kini.

Usulan ini tentu menarik, namun saya juga agak gelisah, sebab penyederhanaan bahasa sering kali membuat lupa “fungsi” bahasa itu sendiri.

Konon, ketika kita terlalu bersemangat “memodernkan” karya klasik, jangan-jangan kita juga turut menghilangkan pengalaman sejarah yang terkandung di dalamnya. Dalam hal ini, saya rasa catatan, glosarium, dan pengantar adalah jembatan terbaik. Paya Nie misalnya.

Terakhir, gagasan yang juga menurut saya merupakan kritik tajam adalah,

“Mengapa kota-kota tidak membangun peta sastra?”

“Kenapa yang dikenal dari Bukittinggi cuma Jam Gadang? Kenapa bukan para penulis yang pernah hidup dan menuliskan kota itu?”

“Mengapa Padang Panjang tidak memperlihatkan bahwa di sanalah Selasih pernah belajar?”

“Kenapa kita lebih mudah mengingat patung daripada melakukan napak tilas para intelektual?”

“Kenapa Purwakarta dikenal banyak patungnya daripada tempat kelahiran Rukiah?” Argh~nyi

 

Menulis puisi, prosa, melukis, dan bermusik tipis-tipis. Bukunya sudah 4, As Blue As You (2022), Jayanti (2023), Notes of The Lost Sheep (2024). dan Yusuf dan Sapi Betina (2025). Suka pamer dan suka bikin pameran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!