Musim Mekar Selasih Episode II: Selasih, Syarifah Nawawi, dan Gerakan Perempuan di Sumatra Barat

Ikon Membaca Selasih merupakan buah karya kawan-kawan Membaca Selasih

Tulisan ini merupakan arsip kegiatan Musim Mekar Selasih yang diadakan kawan-kawan Membaca Selasih.

 

Pada 10 Juli 2026, saya kembali menghadiri pertemuan daring bertajuk Musim Mekar Selasih. Malam itu, sebelum diskusi dimulai, moderator membacakan puisi Beringin Sakti. Suasana Zoom yang biasanya dipenuhi basa-basi pembuka mendadak berubah menjadi ruang hening. Tentu saja seratus tahun bukan umur yang singkat bagi sebuah puisi, di Indonesia apalagi, yang oknum-oknumnya rajin memberangus karya-karya seniman. Maka saya rasa saya layak menjuluki diri saya beruntung bisa mengetahui puisi Beringin Sakti yang ditulis Selasih ini.

Bang Devy Kurnia Alamsyah membuka pemaparannya dengan sebuah jokes: hari ini bukan hanya seratus tahun Jam Gadang yang sering diperingati orang, melainkan juga seratus tahun Beringin Sakti.

Kalimat itu membuat saya berhenti sejenak.

“Iya juga, ya. Sering sekali rasanya kita merayakan bangunan, monumen, atau peristiwa besar, tetapi lupa bahwa sebuah puisi pun dapat menjadi penanda zaman.”

Begitu lah pikir saya.

Malam itu, saya merasa sedang diajak menyaksikan cara sastra, persahabatan, dan gerakan perempuan bertemu dalam satu jalur.

Selama ini saya mengenal Selasih sebagai novelis perempuan pertama Indonesia, penulis Kalau Tak Untung, sosok yang namanya tidak pernah saya ketahui kalau kawan-kawan Sumatra Barat tidak membuat program Membaca Selasih. Sekali lagi, kerja-kerja arsip yang dilakukan kawan-kawan Membaca Selasih dengan serius menghubungkan benang merah para pemikir perempuan progresif Sumbar, dan kali ini, perempuan itu bernama Syarifah Nawawi.

Nama Syarifah Nawawi mungkin tidak sepopuler Tan Malaka, meskipun memang Syarifah digadang-gadang sebagai perempuan yang membuat Tan Malaka patah hatinya. Ketik saja nama Syarifah Nawawi di Google. Sebagaimana disampaikan Bang Devy, yang muncul biasanya begini:

  1. Perempuan yang menolak cinta Tan Malaka
  2. Perempuan yang diceraikan Bupati Bandung.

Syarifah adalah perempuan Minangkabau yang memperoleh pendidikan modern sejak awal abad kedua puluh. Ia belajar di Kweekschool Fort de Kock, sekolah yang juga melahirkan Tan Malaka. Dalam perjalanan hidupnya, ia kemudian menikah dengan R.A.A. Wiranatakusumah V, Bupati Bandung. Namun kisah itu tidak berkembang menjadi dongeng tentang perempuan yang hidup nyaman di lingkungan bangsawan. Sebaliknya, kehidupan rumah tangganya justru memperlihatkan tubuh dan pikiran perempuan yang sejak dulu menjadi arena tarik-menarik antara adat, kekuasaan, dan modernitas.

Bang Devy menceritakan bahwa Syarifah mengalami kesulitan menyesuaikan diri dengan budaya feodal di lingkungan Sunda. Syarifah suka bermain piano, dan ketika ia diceraikan waktu Wiranatakusumah V ibadah haji, satu-satunya yang mau ia bawa pulang ke Sumatra adalah piano. Menyedihkan, tapi yang menarik perhatian saya justru proses comebacknya Syarifah setelah diceraikan sepihak melalui surat.

Syarifah tidak mendengar lagu-lagu galau seperti saya tentu saja, Syarifah memilih mengaktifkan produktivitasnya dengan mengembangkan pendidikan perempuan, menghimpun organisasi-organisasi perempuan di Sumatra Barat, dan kelak memimpin Sarekat Kaum Ibu Sumatera. Syarifah juga membangun ruang tempat perempuan belajar, membaca, menulis, berdebat, bahkan menerbitkan majalah sastra.

Nah, ini lah hubungannya dengan Beringin Sakti dan Selasih.

Bang Devy menjelaskan bahwa puisi itu lahir setelah gempa besar Padang Panjang pada akhir Juni 1926. Seusai bencana, Syarifah mengadakan pertunjukan sandiwara. Selasih hadir sebagai penonton. Dari perjumpaan itulah, menurut penelusuran yang dipaparkan malam itu, lahir puisi Beringin Sakti.

Saya lalu membayangkan begini:

Selasih duduk menonton -> pertunjukkan selesai -> Selasih ke belakang panggung -> dikenalkan atau berkenalan dengan para pegiat teater itu -> Syarifah dan Selasih berkenalan -> cocok -> jadi bestie. 

Perjumpaan, percakapan, persahabatan, bahkan peristiwa-peristiwa sosial ini kemudian memunculkan sebuah karya sastra, yang kemudian kita dengarkan pada malam itu.

Tak hanya itu, selainmelahirkan karya sastra, maka kisah persahabatan dua perempuan setelahnya ini memperlihatkan sesuatu yang lebih besar: kerja organisasi yang progresif bukan main.

Kisah Selasih dan Syarifah Nawawi memberi hikmah bahwa selalu ada percakapan, ruang belajar, dan orang-orang yang saling menguatkan di balik gerakan dan karya yang baik.

Dalam pemaparannya, Bang Devy menunjukkan bahwa sesudah perjumpaannya dengan Selasih, Syarifah Nawawi tidak hanya aktif mengembangkan pendidikan perempuan. Ia juga mulai membangun ruang kebudayaan. Satu yang paling penting adalah Sarekat Kaum Ibu Sumatera (SKIS), organisasi perempuan yang  juga menjadikan sastra sebagai bagian dari perjuangannya.

Saya berhenti cukup lama waktu Bang Devy menjelaskan ini.

Ini hari, kita terbiasa memisahkan sastra dari gerakan sosial. Sastra dianggap wilayah estetika saja, sedangkan organisasi dan kokolektifan bergerak di ranah politik atau pendidikan. Akan tetapi melalui Selasih dan Syarifah, saya yakin batas-batas itu ternyata jauh lebih cair, dan kalau saja hari ini Selasih dan Syarifah masih ada, saya tak bisa membayangkan raut wajah keduanya waktu tahu yang terjadi di Jogjakarta kemarin.

Bang Devy juga menceritakan bahwa SKIS menerbitkan sebuah majalah bernama Asrak. Nama yang sangat asing dan saya rasa tak pernah muncul dalam buku-buku sejarah sastra yang saya baca semasa kuliah. Padahal melalui majalah inilah banyak tulisan perempuan diterbitkan, diperdebatkan, dan disebarkan kepada pembaca.

Bang Devy menjelaskan bahwa Selasih dipercaya menjadi sekretaris SKIS. Posisi itu mungkin terdengar administratif kalau saat ini ya, dan ah! Entah kenapa setiap saya mendengar kata sekretaris, yang muncul malah yang liburan di Paris. Tapi, baiklah. Posisi Selasih di SKIS memperlihatkan kedekatan intelektual antara dirinya dan Syarifah Nawawi. Menjadi sekretaris kan berarti ikut mengelola surat-menyurat, menyusun kegiatan, berhubungan dengan anggota, serta memastikan roda organisasi terus berjalan.

Saya membayangkan Selasih muda menulis surat demi surat, mengatur pertemuan, menyusun agenda, dan tentu saja mendiskusikan naskah yang akan dimuat.

Gambaran ini terasa berbeda dengan bayangan romantik pengarang indie yang bekerja sendirian, minum kapal api, melinting bakau, suka menjulid (seperti saya), dan gerilya. Selasih dalam bayangan saya adalah seorang pekerja kebudayaan yang pandai bergaul dan memiliki kecakapan komunikasi.

Bahkan setelah Selasih dan Syarifah Nawawi berpindah kota, keduanya tetap saling menyurati dan berhubungan baik. Betapa indah persahabatan keduanya~

Tumbuh dalam jejaring sehat yang saling mengajar, saling membaca, saling mengkritik, dan saling menguatkan.

Barangkali inilah warisan yang luput kita lihat: bahwa persahabatan tak cukup nongkrong-nongkrong lucu, foto estetik, atau ngonten asal-asalan. Kepada kawan-kawanku, mari kita belajar dari Selasih dan Syarifah Nawawi. Mari kita saling menguatkan.

Dukung terus program Membaca Selasih! 

Menulis puisi, prosa, melukis, dan bermusik tipis-tipis. Bukunya sudah 4, As Blue As You (2022), Jayanti (2023), Notes of The Lost Sheep (2024). dan Yusuf dan Sapi Betina (2025). Suka pamer dan suka bikin pameran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!