

Tulisan ini merupakan arsip kegiatan Musim Mekar Selasih yang diadakan kawan-kawan Membaca Selasih.
Beberapa waktu lalu, Nyimpangdotcom mewawancarai Arbi Tanjung, satu di antara inisiator program Membaca Selasih, sila baca di sini -> https://nyimpang.com/membaca-selasih-waktunya-kembali-ke-akar/
Tulisan sebelumnya menjelaskan titik awal program Membaca Selasih dibuat. Namun tentu saja, kerja-kerja kearsipan dan “menyemai” tak berhenti sampai di situ. Mengetahui nama dan karya-karya Sariamin Ismail ternyata baru langkah pertamanya saja.
Saya masih aktif mengikuti diskusi daring yang diadakan teman-teman Membaca Selasih di tanggal 10, 20, dan 30 setiap bulannya. Pernah juga berkesempatan membedah karya Rini Febriani Hauri, Tiga Kematian Dayang Temulun.
Tanggal 5 Juli 2026 kemarin, saya kembali mengikuti pertemuan daring Membaca Selasih. Kali ini, saya dan kawan-kawan peserta tidak diajak membedah karya, tapi diajak menelusuri jejak Selasih dari seorang seniman, Suharyoto Satrowignyo!
Menariknya, Mas Yoto ini dulu “diasuh” Selasih! Waaaah! Menyala!
Mas Yoto kemudian bercerita awal mula pertemuannya dengan Selasih di Taman Seleguri, taman yang saat ini masih rindang di Pekanbaru. Mas Yoto bernostalgia soal Ibu Selasih yang tidak pernah lupa menyiram dan merawat tanamannya. Pun, Mas Yoto sesekali bertugas untuk menyiramnya juga! Pernah juga itu tanaman dicuri orang.
Saya kemudian membayangkan, kalau Selasih sayang dengan tumbuhan dan bunga, pasti lah Selasih sayang sama kucing.
Saya lantas bertanya,
“Apakah Selasih juga menyayangi kucing?”
Meski mengaku tidak terlalu memperhatikan hal tersebut, Mas Yoto menjawab bahwa kasih sayang Selasih rasanya begitu universal. Selama tinggal di Taman Seleguri, Mas Yoto bukan hanya diberi izin menggunakan taman sebagai ruang berproses dan berlatih teater, tetapi juga dibantu kebutuhan hidup sehari-hari. Selasih rutin memberinya beras, sejumlah uang, bahkan sebuah sarung. Baginya, bantuan-bantuan sederhana itu menjadi bentuk perhatian yang menunjukkan bahwa kepedulian Selasih tidak hanya tertuju pada tanaman, tetapi juga kepada orang-orang yang berada di sekelilingnya.
Kemudian, Mas Yoto juga menceritakan pengalaman orang tuanya berkunjung dan memberikan ubi pada Selasih. Hal yang sudah semakin jarang saya lihat dalam kaitan dengan orang tua, anak rantau, dan ibu kos. Bertukar ubi pun! Meskipun saat ini masih ada, rasanya yang dibawa sudah bukan barang, tapi makanan-makanan di aplikasi ojol.
Saya lalu mengingat proses kawan-kawan Kaliaget menanam tomat atau pohon nimba, dan kemudian hasil panennya di bawa ke tempat kerabat, dan bertukar. Pun, orang tua Mas Yoto juga sama, ya. Menanam, merawat, menyiram, dan memberikan hasil kebunnya ke Selasih. Betapa indah silaturahmi itu~
Saya kemudian membayangkan Rukiah. Ketika saya meneliti karyanya 2018, saya tak sampai ke sana. Meskipun berbincang dengan anaknya, pada saat itu saya tidak punya kesadaran untuk menggali informasi lanjutan seperti yang dilakukan kawan-kawan Membaca Selasih, maka dari itu, saya begitu senang kawan-kawan melakukan pembacaan yang mendalam sampai menelusuri jejaknya dengan serius.
Saya kemudian mengajukan pertanyaan lain,
Apakah Selasih pernah memasakkan sesuatu untuk Suharyoto, atau adakah masakan yang paling diingat darinya?
Mas Yoto mengenang bahwa ia jarang melihat Selasih memasak. Namun, keterangan selanjutnya saya dapatkan dari Bang Arbi, yang memberikan kabar penting bahwa Selasih memiliki buku resep! Menarik sekali!
Selasih bahkan memiliki resep bakwan kuah khas Sumatra yang jadi santapan favorit anak-kemenakannya. Kawan-kawan, saya rasa kisah-kisah kecil semacam ini tak pernah menjadi sesuatu yang “receh” dan “tak penting”. Justru hal-hal semacam ini memperlihatkan sisi keseharian Selasih yang selama ini jarang muncul dalam pembacaan atas karya-karya sastranya, dan kita patut apresiasi kawan-kawan Membaca Selasih untuk itu.
Kerja yang jauh lebih sulit adalah menelusuri jejaknya. Saya setuju betul! Sebab saya meyakini jejak seorang penulis tidak hanya tersimpan di dalam novel. Dalam konteks ini, Sariamin Ismail tentu hidup di rumah yang pernah ditinggali, sekolah tempatnya belajar dan mengajar, surat-surat yang ia kirim, benda-benda yang pernah digunakan, hingga ingatan orang-orang yang pernah mengenalnya.
Perjalanan bersama Arbi Tanjung dan tim Membaca Selasih memperlihatkan bahwa kerja literasi tidak berhenti pada membaca karya.
Di Padang Panjang, misalnya, tim Membaca Selasih mendatangi rumah kelahiran Selasih dan bertemu keluarganya, juga mengunjungi sekolah tempat ia belajar.
“Bangunannya masih berdiri dengan arsitektur lama yang nyaris tak berubah, seolah masih menyimpan masa ketika Selasih mulai menulis puisi, naskah drama, dan catatan-catatan yang kelak menjadi awal perjalanan sastranya.” begitu kata Bang Arbi
“Namun ada satu peristiwa yang paling membekas sedih, sekaligus apa ya, miris. Saat bertemu dua wakil kepala sekolah dan seorang guru senior, kami memperkenalkan tujuan kedatangan. Ketika nama Selasih disebut, mereka justru saling bertanya, Selasih? Siapa itu Selasih?”
Salah seorang wakil kepala sekolah mengaku telah mengabdi selama lebih dari dua puluh lima tahun di sana, tetapi baru mengetahui bahwa sekolah itu pernah menjadi tempat belajar novelis perempuan pertama Indonesia.
Momen itu terasa menohok. Saya tak bisa membayangkan jika saya turut berada di sana, mungkin akan menggerutu sedikit. Penelusuran lalu berlanjut mengikuti jejak keluarga dan rumah peninggalan Selasih.
“Mamak jarang memasak,” kenang keponakan Selasih sambil tertawa. “Beliau sibuk mengajar. Kami lebih banyak dibantu kerabat yang tinggal di rumah.”
Namun ternyata Selasih pernah menulis kumpulan resep masakan. Ketika ditanya keberadaan buku itu, jawabannya sederhana.
“Gak ketemu.”
Ketika Selasih dipenjara pada 1961–1962, rumahnya digeledah. Naskah, buku, dan berbagai barang pribadi ikut diambil.
“Setelah ia dibebaskan, rumah memang dikembalikan, tetapi sebagian besar arsipnya tidak pernah kembali, properti dan barang-barang yang dicuri pun sama.”
Tak sampai di situ, setelah rumah keluarga di Jalan Cempedak dijual pada akhir 1990-an, berbagai peninggalan Selasih berpindah-pindah tanpa penyimpanan yang jelas. Beberapa piagam dicuri dan dijual, pun sejumlah benda rusak karena banjir.
“Ada juga tuh Mbak, mobil Kijang!” Bang Arbi melanjutkan cerita dan membuat saya penasaran.
“Mobil Kijang kotak cokelat keluaran 1986 yang pernah digunakan Selasih, sempat dititipkan di sebuah bengkel. Ketika keluarga hendak mencarinya kembali, mobil itu sudah lebih dulu dijual sebagai besi tua. Dipreteli begitu, wah padahal kalau masih ada, itu kita mungkin bisa membuat museum sejarah Selasih.”
Saya juga cukup menyayangkan mendengar ceritanya. Namun, Bang Arbi dan tim tidak pantang menyerah.
Tim menemukan jejak persahabatan Selasih dengan Sarifah Nawawi, tokoh perempuan yang juga dikenal sebagai kekasih Tan Malaka. Surat-menyurat di antara mereka masih tersimpan, termasuk selembar kain batik yang pernah dikirim. Arsip-arsip pribadi semacam ini memperlihatkan bahwa sejarah sastra sesungguhnya dibangun melalui jaringan persahabatan, organisasi perempuan, dan percakapan lintas kota.
Kerja pengarsipan tentu berat sekali, karena harus juga menyusun kembali hubungan sejarah yang tercerai-berai. Mencari informasi dari satu orang ke orang lainya lagi. Perjalanan ini masih berlanjut, dan saya berharap betul bisa turut menjadi bagian dari yang menuliskannya, semoga~
Kalau kamu ingin ikut bergabung menelusurinya, Membaca Selasih dengan terbuka mengundang kita semua untuk turut hadir pada tanggal 10 Juli 2026 di pertemuan daring!
Sisanya, bisa dilihat di Instagram @membacaselasih. Mari kita menapaki tilas para penulis dan kerja-kerja budayawan hebat seperti Selasih!
Menulis puisi, prosa, melukis, dan bermusik tipis-tipis. Bukunya sudah 4, As Blue As You (2022), Jayanti (2023), Notes of The Lost Sheep (2024). dan Yusuf dan Sapi Betina (2025). Suka pamer dan suka bikin pameran.
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!