Mungkin Pola-Pola itu Pernah Terjadi, Kita aja yang Lupa

Pernahkah membayangkan jika peristiwa-peristiwa yang terjadi belakangan ini sebetulnya bukan suatu hal yang baru?

Kita sering merasa hidup di situasi baru, tapi sebenarnya pola-pola itu mungkin telah lama ada di belakang kita. Pembungkaman, kejahatan HAM, ketimpangan sosial, dan penyalahgunaan kekuasaan adalah beberapa peristiwa belakangan ini yang kerap tampak baru dan mengejutkan, padahal sesungguhnya hanya mengulang pola lama.

Mungkin rasanya akan mengganggu karena memaksa kita untuk membayangkan suatu kemungkinan yang jarang kita sadari, tapi bagaimana jika ternyata kita yang gagal mengenali suatu peristiwa karena sudah tidak lagi mengingat?

Kalau begitu yang berbahaya bukan peristiwanya, melainkan hilangnya ingatan kita akan sejarah yang seharusnya membuat kita waspada.

Mungkin sejarah yang sampai kepada kita bukanlah yang utuh, tetapi versi yang dipilih dan disusun. Banyak yang tidak ditampilkan dan diwariskan, kenapa? banyak peristiwa yang dirasa tidak terlalu nyaman untuk terus diingat. Sejarah yang tersampaikan dalam ruang pembelajaran, buku, dan narasi yang beredar di masyarakat akan menentukan apa yang layak dan penting untuk diingat. Tidak semua peristiwa mendapat tempat yang sama dalam ingatan publik. Ingatan kita tentang masa lalu tidak dibentuk secara merata, ada bagian yang dirayakan sebagai suatu kebanggaan bersama dan ada bagian yang seperti tidak pernah diberi ruang untuk benar-benar diingat.

Kalau memang sejarah selalu dipilih dan disusun, berarti lupa ini tidak selalu terjadi secara alami. Memang, namanya manusia kan gak ada yang sempurna, ya. Lupa juga satu diantara bentuk keterbatasan yang kita miliki.

Namun dalam kehidupan politik, lupa bekerja sebagai suatu mekanisme kuasa yang seringnya disengaja. Peristiwa-peristiwa yang terasa tidak nyaman bisa saja dijauhkan konteksnya, disamarkan maknanya, dan bahkan dibuat seakan-akan peristiwa itu sudah selesai dengan sendirinya.

Ketika publik lupa, pembelajaran yang seharusnya bisa kita ambil menjadi terabaikan, ketidakadilan akan terulang, dan pola-pola lama yang pernah terjadi akan susah dikenali oleh masyarakat. Kita lebih fokus pada perceraian Arhan dan selebgram ketimbang 17 + 8.

Di tengah ruang publik yang semakin bising, kemampuan untuk mengingat menjadi penting terutama bagi generasi muda yang setiap harinya dipaksa untuk memilih apa yang harus diperhatikan dan dilewatkan. Tanpa pijakan yang cukup pada sejarah, pilihan akan mudah jatuh pada apa yang paling dekat dan mudah dijangkau, bukan pada apa yang perlu untuk dipahami.

Ruang untuk berpikir akan menyempit sehingga bentuk penolakan narasi palsu dan ketidakadilan akhirnya bakal selalu jadi hal yang tak pernah selesai.

Mungkin karena itu, persoalannya tidak berhenti pada “Apakah kita ingat?”

tetapi, “Apakah kita berani untuk menjaga ingatan itu tetap hidup di ruang publik?”

Tentu saja, mengingat bukanlah untuk tinggal di masa lalu, melainkan memahami cara kita mencegah hidup di masa depan yang dibangun di atas kesalahan serupa. Ingat, patah cinta juga sama sakitnya, tapi jangan pernah lupa alasan kenapa kita berani jatuh cinta lagi dan lagi~

Author

  • Putra Lorenzo

    Mahasiswa Hukum. Terbuat dari rasa penasaran, jeda yang terlalu panjang, dan kebiasaan memikirkan hal-hal random terlalu serius.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
grandpashabet | hiltonbet | hiltonbet | grandpashabet | grandpashabet giriş | grandpashabet | grandpashabet giriş | grandpashabet | grandpashabet | grandpashabet | deneme | jojobet giriş | casino api | betnano | ultrabet | ultrabet | hiltonbet | grandpashabet giriş | grandpashabet güncel giriş | grandpashabet adres | hiltonbet giriş | hiltonbet | malatya web tasarım | betasus | betasus giriş | betasus | grandpashabet | grandpashabet giriş | jokerbet | grandpashabet | grandpashabet giriş | roketbet | roketbet giriş |