

Nostalgia Sedetik
Saya lupa kapan terakhir kali menghabiskan waktu bermain Danz Base berjam-jam di Timezone atau Funworld. Ah, untuk masa-masa saya yang menyenangkan ini, saya akan mengenangnya dengan bangga.
Meskipun saya tidak memiliki bakat menari dan tidak pernah belajar menari, tapi saya selalu percaya diri bergoyang dengan lagu pada permainan Danz-Base (dibaca: de-be). Menari tanpa peduli aturan, di publik. Kadang sendiri, kadang bersama pacar waktu itu (nungguin saja), kadang sama teman-teman bergantian. Bahkan saya pernah merengek kepada Bapak saya untuk dibelikan mesin DB. Memang goblok, tapi kalau gak goblok bukan saya. Jadi, ya maklumi saja.
9 tahun berlalu, saya sudah tidak pernah lagi ke Timezone. Selain karena DB sudah tidak hype, saya pun lebih sering merokok daripada berjoget di depan mesin itu. Lagipula, saya sudah cukup usia untuk berjoget sambil minum alkohol di bar-bar di Bandung, kalau lagi tebal saja tapi duitnya, kalau tidak ya sudah. Ah, hal ini juga mengingatkan saya mungkin bakat menari saya memang didapat waktu main Danz-Base.
Dipikir-pikir, semakin saya menarik mundur kenangan itu ke belakang, justru Timezone sangat gandrung pada zaman-zaman saya kecil. Sebagai warga Karawang, saya ingat dulu arena permainan semacam Timezone pertama kali ada di Mega M (sekarang tempat naik travel). Tepat pada saat kita masuk melalui pintu depan (pintu utama), kita akan disuguhi dengan Timezone.
Lampu-lampu neon yang gemerlap dan ramai suara-suara jackpot dengan nada naik dan turun memang sangat menarik buat saya pada saat itu. Suara tembak-tembakan, disertai lampu yang menyala merah-biru di ujung senapannya, lalu motor-motor seperti Dani Pedrosa dan Valentino Rossi, dan beragam mobil dengan kepala Mickey Mouse sangat menarik untuk dilihat.
Maklum, hiburan anak-anak paling keren pada zaman 2000-an di kabupaten nanggung sepertinya memang hanya Mega M saja (Borobudur tidak termasuk, karena hanya pusat belanja saja, tidak begitu menarik bagi anak-anak seperti saya). Sedikit nostalgia lagi, setelah disuguhi permainan anak-anak di muka pintu dan maju sedikit, kita akan naik eskalator dan berbelanja kaos Billabong (yang brand-nya tulang ikan?), lalu toko jam tangan. Bosan melihat-lihat baju di Matahari, kita bisa turun dan dari eskalator kita bisa melihat tukang Roti Unyil dipenuhi antrean, tepat di depan Harika Musik. Ahhh! Betapa menyenangkan!
Kalau sedang tak ada film dan MP3 baru, alangkah baiknya kita melaju ke pintu belakang Mega M dan makan bersama keluarga di CFC.
Setelah Mega M, warga Karawang kemudian dihadirkan dengan mall yang lebih baru, Ramayana. Tepat di seberangnya. Dengan Timezone yang jauh lebih luas ditambah permainan mandi bola dan rumah hantu (seasonal) saja. Letak Timezone di lantai 2 atau tiga, tepat di depan toko sepatu. Saya juga ingat pada masa-masa ini, saya bermain Timezone dan mengumpulkan tiketnya untuk kemudian ditukar dengan berbagai macam hadiah seperti penghapus karakter, rautan, atau boneka (yang sampai saat ini tidak tergapai).
Beberapa saat kemudian, saya tidak terlalu banyak ke mall karena sudah disibukkan dengan les Primagama, bermain keyboard, belajar mengetik, dan mengaji kitab. Sungguh kasihan~
Melewati Timezone dan Berkenalan dengan Judi di Usia Remaja-Dewasa Awal
Sebetulnya beberapa waktu setelah saya meninggalkan Jatinangor dan mulai menjadi wargi Dago (menumpang di beliau), saya beberapa kali sempat mengajak beliau yang pada saat itu menjadi pacar baru saya untuk bermain Danz-Base, tapi apa daya?
Beliau lebih suka minum beer di Braga, dan paling banter kami ke mall untuk photobooth saja. Pernah beberapa kali kami melihat-lihat, dan saya jadi tidak sepenuhnya tertarik karena saya kami lebih sering menonton orang yang bermain boneka capit dan koin-koin.
“Bandar tuh gak bakal kasih orang menang, paling sekali doang itu,” kata Bandar
“Ah bisa da kata aku mah,” kata Arini yang bodohnya kebangetan
Kami sama-sama greget dan meragukan statement masing-masing.
“Ah, kan!” begitulah kami mengumpat sambil berlalu waktu orang yang kami perhatikan gagal mencapit boneka.
Saya tahu, beliau cukup terampil dalam permainan judi. Sebagai seorang mantan akademisi pilot, saya juga yakin matematikanya gak seburuk saya. Itu artinya, wajar beliau jadi joki yang selalu menarik keuntungan dari kemenangan orang lain. Astaga! Benar-benar masa muda yang gelap!
Saya mulai akrab dengan perjudian (dalam hal ini judi bola yang diiringi dengan rincian angka gol). Saya begitu heran betapa sering beliau terjaga di tengah malam, mengotret sebuah angka (lengkap dengan tabelnya), lalu menyalin setiap berita-berita kemenangan dan kekalahan klub-klub bola.
Biasanya, saat datang jadwal bermain bola (Liga Inggris misalkan), beliau akan mandi, dan ke tengah rumah untuk berkumpul dengan teman-temannya. Saya pikir awalnya itu hanya semacam taruhan biasa saja, tapi ketika saya bangun dini hari, beliau langsung bertanya, “Besok mau makan di mana?” dan selalu seperti itu. Meskipun ada anjrit-anjritnya, tapi hal itu membuat beliau mandiri secara finansial. Ya nothing to lose juga mungkin entahlah, saya bukan akuntan pribadinya juga.
Setelah itu, barulah gandrung judi-judi semacam sekarang yang modal depo dan permainannya seperti Candy Crush.
Beberapa kali saat mengunjungi situs LK21 atau situs film-film ilegal, saya sering melihat iklan-iklan judol dengan warna-warna serupa dengan warna Timezone yang di awal saya ceritakan.
Kecenderungan Konsep Judol-Timezone dan Kaitannya dengan Variable Reward System
Kalau dipikir-pikir lagi, kecenderungan antara Timezone dan judol itu similar dan tidak jauh berbeda. Cenderung seperti kembar tidak identik, malah. Cuma ganti skin saja kalau kata anak ML, dan dalam konteks ini tentu saja berganti medium.
Keduanya sama-sama bekerja dengan prinsip variable reward system B.F. Skinner yang bilang kalau otak dilatih untuk terus berharap pada kemungkinan kemenangan.
Yang, terasa sangat identik dan familiar dengan cahaya neon-neon stabilonya, dan bunyi-bunyi koin itu.
Timezone pada masa kanak-kanak saya, adalah bentuk kapitalisme paling keren dari dunia hiburan dan perjudian kecil. Menyuguhkan harapan kemenangan berupa boneka yang super besar, yang sedihnya sampai saat ini tidak bisa saya dapatkan. Heu.
Sementara judol di usia remaja hingga dewasa awal adalah versi brutalnya, karena membutuhkan modal yang tidak sedikit. Ya sama sih dengan Timezone, tapi konsekuensi dan resikonya jauh lebih besar. Taruhannya pun uang sungguhan.
Perhatikan saja, warna-warna mencolok yang serupa, dan slogan-slogan kemenangan yang rasanya familiar dengan poster-poster di area kasir Timezone masa lalu.
Saya tidak pernah sakit hati (cuma nyes sedikit) waktu gak dapat-dapat boneka besar, dan kenangan waktu bermain Timezone manis sekali jujur saja, dan agaknya, kalau saya bermain judol pun saya akan terus nyes kalau saya gagal.
Untungnya, saya sudah lebih dulu mempertaruhkan semuanya kepada cinta~
Bertaruh (utarakan) dulu, menang syukur, gak menang ya cari yang baru. TAPI bukan berarti harus mencari situs baru 🙁
Mengutarakan cinta dan top-up kartu Timezone juga bukan tanpa risiko, sih. Namun setidaknya kegagalan saat saya mengutarakan rasa suka dan gagal mendapat boneka tak sebesar risiko nyemplungin diri ke dalam praktik judol.
Tapi memang betul apa yang dikatakan orang-orang soal “menaruh harapan”. Sebab yang kita kejar bukan lagi cinta dan boneka besar saja, tapi uang yang in this economy semakin jauh saja jaraknya.
Patah hati dan Timezone mengajari saya untuk akrab dengan kegagalan, dan saya jadi punya prinsip bahwa ditolak dan kalah itu wajar, nanti coba lagi aja.
Sementara judol merampas pelajaran itu dan memeras penggunanya habis-habisan dengan narasi balik modal, nyaris tembus, dan sedikit lagi, sehingga orang-orang yang terlanjur “nyemplung” terus terjebak dalam siklus kekalahan yang tertunda tea.
Kita tumbuh dengan refleks tertentu terhadap bunyi, cahaya, dan tulisan jackpot serta tiket hadiah yang keluar dan menjulur terus-terusan. Eh, dewasa sedikit, memori-memori itu diaktifkan lagi lewat judol bertebaran di situs porno dan film ilegal, media sosial, dan komentar-komentar Youtube. Wah, sejak kecil dieksploitasi, gede dikit dieksploitasi lagi. Bukan main!
Tapi mungkin, kita begitu akrab dengan judol karena dulu suka main di Timezone. Hehe. Sungguh cocoklogi ngaco.