Langkah Munawir (30 tahun) pelan menuju kedai Etek Jaya. Sebuah kedai kosong berjarak sekitar 50 m dari ladangnya. Biasa Munawir di sana senja hari pandang Batang Sadai, yang nampak jernih dan menderu; merokok, merenungi nasib, dan menunggu kedatangan Nengsi (24 tahun). Sebuah kedai kosong, sudah lama ditinggalkan, tempat Etek Jaya dulu berjualan kopi dan teh semasa orang-orang cari pasir dan batu mangkal di sana–sekarang tempat orang cari batu dan pasir mangkal sudah beralih agak ke hulu. Kesiur angin di pelepah pohon rumbia dan sinar matahari senja yang menyelinap lewat dedaunan pohon duku seperti menyambut kedatangan Munawir. Semak pakis membuat kedai nampak seperti tak pernah terjamah langkah manusia. Seketika mekar dada Munawir. Ia langsung duduk di palanta yang sebagian sudah melapuk. Segera saja ia nikmati hembusan napasnya sendiri dan pejamkan mata sebentar.

Nengsi sudah dari remaja tidak berayah-beribu. Sering keluyuran di jalan kampung. Itu setelah ditinggal mati suaminya, yang hanyut terbawa arus Batang Sadai sewaktu cari pasir di sungai itu empat bulan lalu. Pernikahannya pun belum genap setengah tahun. Habis keluyuran di jalan kampung dengan pakaian itu ke itu saja, Nengsi datang ke pinggir Batang Sadai, tak jauh dari kedai Etek Jaya, seperti bertambatnya sebuah sampan. Senja hari, duduk dan bermenung sembari mendendangkan lagu entah apa. Ia sakit jiwa. Neneknya (satu-satunya keluarga dekat di kampung) sudah bawa ke dukun-dukun dan orang siak (orang alim). Tapi tak juga kunjung sembuh. Seorang pedagang di pasar, tinggal dekat rumahnya, mengatakan, sebaiknya Nengsi dibawa saja ke rumah sakit jiwa.       

Bpjs, Nenek tahu Nengsi tidak punya kartunya. Ia juga tidak tahu cara mengurusnya. Tidak pula ada orang yang mau membantu urus secara sukarela. Puskesmas terdekat tidak ada layanan untuk sakit jiwa. Dibawa berobat ke rumah sakit jiwa di Padang, jelas tidak punya biaya.

Hanya pedagang itu seorang memperhatikan Nengsi. Warga lain sering berkicau tentang sijundai, jin, lemah iman, banyak dosa, dan tinggi angan-angan bila teringat dan lihat Nengsi. Warga lain acuh pada keadaan keluarga itu, seperti melihat angin saja. Selalu menghindar bila berpapasan dengan Nengsi, di mana pun. Bagi anak-anak, Nengsi jadi bahan tertawaan dan mereka sering mengintip dari balik korden jendela bila perempuan itu lewat di jalan depan rumah mereka.

                                 ***

Munawir dulunya seorang penyair. Karena hampir tiga tahun puisinya tak lagi dimuat di koran, ia berhenti jadi penyair. Ia lalu jarang bergaul, sibuk saja dengan ladangnya. Sudah lama bercerai dengan istrinya, berselang setahun sejak ia tak kirim lagi puisi ke koran.

Seorang perempuan, guru honorer, terpikat dengannya dulu. Dikira Munawir seorang pangeran yang sedang menyamar. Betapa tidak, penampilan sederhana, tutur kata selalu merendah bagaikan nyanyian kehidupan bagi jiwa yang kering perempuan itu. Setiap baca puisi Munawir di koran, perempuan itu membayangkan masa-masa yang ia hadapi nantinya bila hidup dengan Munawir. Hidup berumah tangga. Munawir, sang suami, akan duduk di ruang kerjanya dengan laptop sambil bikin puisi. Sungguh romantis ketika malam hingga larut Munawir masih tulis puisi sementara ia datang dengan cangkir teh atau kopi di tangan dan meletakkan di meja. “Makan puisi Munawir pun akan kenyang,” batinnya waktu itu. Itulah masa pacaran saat perempuan itu mabuk oleh buaian Munawir.

Seminggu berumah tangga dengan Munawir, indentitas sebenarnya terungkap. Ternyata Munawir tak lulus S.1, alias putus kuliah. Dulu, sewaktu pacaran, mengakunya S.1 IAIN. Orang di dusun Bungorayo sebenarnya sudah curiga waktu Munawir berceramah pada sebuah acara wirid remaja di musalah. Sehabis baca assalammu’alaikum–bunyi suaranya menggelegar di toa–Munawir tak tahu melanjutkan dengan apa ceramahnya. Tidak menguasai pembukaan. Setelah assalammu’alaikum lima belas menit ia menghabiskan waktu dengan ak…uk…ak…uk…. Ceramah itu sendiri berisi entah tentang topik apa. Semacam curhatan saja terhadap kondisi umat yang kiranya ia baca internet.

Jelas hati orang terobat jika baca puisi Munawir, yang ketika dimuat orang ramai mendatangi kantor wali nagari (kepala desa) atau rumah orang yang berlangganan koran bersangkutan. Setahuku puisi Munawir banyak mengambarkan tentang masyarakat yang sakit, kehidupan di desa, dan merantau.

Ternyata honor Munawir membuat puisi nilainya di bawah honor mengajar Iris (istri Munawir) di SMA. Puisinya dimuat di koran lokal. Setahuku, tak pernah puisi Munawir dimuat di koran nasional. Uang honor dari menulis puisi itu habis saja untuk biaya rokok, kopi, dan gula Munawir.

Untuk mendinginkan suasana, hampir setiap hari panas di rumah, karena nafkah yang abai, Munawir putuskan berladang. Ia isi tanah pusaka itu dengan singkong, terong, pepaya, dan kacang panjang. Alhamdulillah, ladang membuahkan hasil dan dapatlah menutupi biaya harian karena hampir tiap hari ada saja orang yang membeli daun singkong, pepaya, terong, atau kacang panjang.

Tapi apa? Iris rupanya sudah terlanjur sakit hati. Perceraian pun tak dapat dielakkan.

                              ***

Berjarak sekitar 20 m tempat Nengsi duduk di pinggir Batang Sadai dengan kedai Etek Jaya. Tak berselang lama setelah Nengsi tiba, Munawir akan menyalakan atau menyambung rokok. Sembari berjalan dengan napas sedikit terengah, lihat kanan-kiri. Ia atur langkahnya supaya tidak menginjak ranting atau daun kering. Karena, jika menginjak, menimbulkan suara. Berisik sekali bagi hati Munawir yang sunyi. Setelah nampak jelas Nengsi duduk dengan tatapan kosong memandang sungai, barulah Munawir tersenyum.

“Sudah lama Nengsi di sini,” begitu biasanya ia memulai pertemuan itu.

                                ***

Nenek Timah memanggilku. Aku sedang berjalan menuju kedai Ros untuk minum kopi dan merokok pada malam Kamis. Perasaanku biasa-biasa saja mulanya.

Sebenarnya sangat jarang Nenek Timah berbicara padaku.

“Ada perlu, Kuriak,” katanya di depan rumah.

Ia lalu masuk ke dalam rumah. Kuikuti. Setelah tiba di dalam, ia menutup pintu. Tergesa seperti perampok.

Aku kaget.

“Nengsi mengandung,” katanya. Dadanya sesak mengucapkan itu. Muka keriput, dan mata tua itu pun menangis.

Aku tersirap. Tak ada yang bisa kuucapkan. Mulutku terkunci.

“Tolong kau katakan pada Munawir. Kata Nengsi dia yang berbuat.”

                                 ***

Aku mendatangi rumah Munawir. Kusaksikan ia sedang nonton tv di dalam. Aku tahu Munawir jika nonton tv tak pernah benar-benar nonton. Ia sibuk dengan kenangan akan masa-masa ia jadi penyair. Masa jayanya dulu di kampung–ia dapat pujian di kedai-kedai–, sebelum masyarakat lupa padanya jika ia pernah jadi seorang penyair. Kesepiannya begitu nampak menyiksa. Kadang ia ganti siaran pada film Barat, ia puas melihat pemain-pemain film yang berpakaian seksi. Ia pernah kudapati memutar payung parabolanya, tidak menghadap ke langit layaknya payung parabola. Melainkan menghadap ke barat. Untuk cari sebuah siaran tv Perancis yang kadang menayangkan film biru. Tapi, ia hanya otodidak yang gagal soal parabola. Usahanya itu tidak berhasil.

Aku langsung duduk di kursi dekat dia nonton. Wajah Munawir datar memandangku. Tapi ia angsurkan juga rokoknya di meja kepadaku.

Aku mulanya diam. Lalu, buncah dadaku oleh kata-kata. Bedebah. Perangai yang sungguh biadab.

“Benar kau menyetubuhi Nengsi?” kataku kepada Munawir.

Wajahnya terlihat kaget.

“Jujur kau Munawir,” susulku.

Munawir coba tenang. Ia mengeluarkan sebatang rokok dari bungkus, segera membakarnya.

“Orang sepertiku apa lagi gunanya, Kuriak. Sanak-sanak ndak ada yang peduli. Ada mamak di rantau. Ndak tahu pula dengan kita. Istriku, kau tahu sendiri, sudah lama minta cerai.”

“Mengaku Munawir!,” kataku lagi.

“Pas aku ajak bersetubuh Nengsi menganggapku suaminya yang mati hanyut itu.”

Gigiku gemeretak.

“Hanya tiga kali aku berhasil mengajaknya bersetubuh, Kuriak. Selebihnya peluk dan cium saja,” kata Munawir sambil menghisap rokoknya pelan.

Tiba-tiba aku merasa sedih. Sedih karena aku tidak bisa cegah hal yang dilakukan Munawir terhadap Nengsi.

Jalan dusun sepi. Bayang-bayang pohon pisang diterpa sinar bulan seperti tangan-tangan memanggil. Kedai-kedai tempat orang nonton sinetron dan bersenda, sudah pada tutup. Sinar lampu-lampunya memancar hingga ke jalan. Terdengar deru aliran Batang Sadai. Langkahku sudah gontai sejak dari rumah Munawir tadi. Sampai di rumah, kucuci muka. Lalu, masuk kamar. Kubuka buku tulis dan ambil pena, karena tak punya laptop atau komputer. Dan mulai tulis puisi.

                              ***                                  

Jam sembilan pagi, Minggu. Seminggu sejak aku datangi Munawir di rumahnya. Nampak orang ramai di rumah Nenek Timah. Melihat itu, aku pelankan langkah. Dan singgah di sana.

“Dia hanyut di batang. Uda Dani yang menemukannya di pulau. Uda Dani capek. Mau merokok. Dia menepikan sampannya. Bertemu Nengsi tertelentang. Dia langsung istigfar,” kata Fika, istri Dani, kepada seorang Etek yang bertanya.

Aku tanya kepada Nenek Timah. Mengapa membiarkan Nengsi keluar rumah malam hari.

Ndak biasa dia keluar malam, Kuriak. Dia minta izin ke kedai. Pas jam satu atau jam dua baru ambo cari. Ambo tanya-tanya ke tetangga. Ambo jagakan mereka tidur. Kedai-kedai sudah tutup. Memang ndak ada dia,” katanya.

Ndak tidur ambo sampai Subuh. Paginya ambo cari lagi. Jam delapan tadi Dani bertemu dengannya di pulau. Sudah jadi mayat,” katanya lagi, lalu menangis.

Aku berlari meninggalkan rumah Nenek Timah.

Kucari Munawir ke rumahnya. Ke ladangnya. Dan ke kedai Etek Jaya. Tidak kudapati dia ada di tempat.

Munawir kabur?

                              ***

Aku merasa lelah. Duduk di kedai Etek Jaya. Bersandar dan memandang Batang Sadai. Matahari sudah mulai menyengatkan sinarnya tapi di kedai terasa sejuk karena atapnya dari daun rumbia. Sepi sekali rasanya diri. Aku teringat Nengsi. Disingkirkan masyarakat. Malah sudah dianggap tiada sebelum ia meninggal. Rasa jijik menguar ketika aku lihat sehelai kolor laki-laki tergantung pada sebentang tali di dalam kedai.

Kunyalakan sebatang rokok. Menghembuskan asapnya begitu perlahan. Kesiur angin di pelepah pohon rumbia mengalun lembut, tapi terdengar sendu. Tiba-tiba, aku mendengar sebuah suara.

“Kau mencariku, Kuriak?”

Suara itu berat dan bergetar. Pilu.

Dari balik pohon duku keluar Munawir dengan pakaian lusuh sekali, seperti lima hari tak berganti.

“Munawir,” kataku, lalu berdiri.

Ketika aku mendekat, tatapan Munawir kosong memandangku. Mukanya tidak punya ekspresi, pucat.

Ia tertawa sendiri, seperti ada yang menggelitiknya.

Hati pun jadi getir. Dan pilu.

Profil Penulis

Yulputra Noprizal
Yulputra Noprizal
lahir di Air Haji pada 11 November 1985. Penyuka dan penikmat sastra. Cerpennya sudah dimuat di Singgalang, Haluan, dan Rakyat Sumbar, dan takanta.id. Sehari-hari bekerja sebagai karyawan toko di Air Haji, Kab. Pesisir Selatan, Sumatera Barat.
Tulisan yang Lain