Mulai Hari Ini Jangan Segan-Segan Menonton Adegan Kekerasan!

Malam ini Padang diguyur hujan deras lagi. Dua malam berturut-turut. Suara hujan itu menempel di dinding kamar sewaku yang lembab dan murah meriah, membuatku pasrah rebahan sambil menatap langit-langit. Tapi untungnya malam ini aku nggak sendirian. Ada Bang David (25), senior sekaligus kawan lama, yang menginap karena besok katanya mau nembak gebetan.

Mukanya cemas banget. Aku ngakak.

Perut kami bunyi bersahut-sahutan, ikut meramaikan obrolan absurd kami yang rasanya nggak layak diputar ulang di forum RT. Topiknya ngalor ngidul, dari gosip alumni sampai teori konspirasi. Sampai tiba-tiba kami terdiam saling menatap dalam hening yang… awkward. Demi menyelamatkan malam, aku lempar satu pertanyaan yang sebenarnya udah lama ingin kutanyain:

“Kenapa sih kita membenci kekerasan, tapi masih suka nonton adegan kekerasan?”

Kayaknya kamu juga pernah mikir begitu, ya nggak?

Jujur aja deh. Ada rasa puas kan, waktu karakter jagoan favorit kamu menang dalam adegan baku hantam? Atau ketika musuh yang menjengkelkan akhirnya ‘dibalas’? Ngaku aja lah. Apa aku doang? 🙁

Setelah diskusi ngalor-ngidul yang didominasi logika sok tahu dan teori semaunya, kami menyimpulkan (dengan sangat tidak ilmiah) tiga alasan. Catat ya, ini bukan jawaban akademis. Jangan percaya-percaya amat. Apalagi sama negara:( Ydahlah.


1. Kita Benci lihat Junjungan Kita Disakiti

Simple aja: kita membenarkan kekerasan kalau dilakukan oleh orang yang kita dukung. Apalagi kalau mereka duluan disakiti. Misalnya nih, waktu pertarungan Conor McGregor vs Khabib Nurmagomedov. Masih ingat?

McGregor ngatain ayah Khabib teroris, nyodorin alkohol, bahkan menghina agama Islam. Kebayang dong betapa banyak orang akhirnya jadi mendukung Khabib habis-habisan? Dan waktu Khabib menang lewat kuncian, semua ikut sorak sorai. Kekerasannya nggak penting — yang penting balas dendamnya terbayar.

Kita membela kekerasan asal pelakunya ada di pihak kita. Apakah ini adil? Nggak juga. Tapi begitulah manusia. Kalau idolanya disakitin, merasa layak ikut menyakiti dan membalas.

2. Adrenalin Butuh Asupan
Coba ingat perasaan kamu pas nonton adegan perkelahian intens. Deg-degan, kan? Tapi juga nagih. Sensasi itu datang dari adrenalin, dan otak kita suka banget dikasih kejutan — asal aman dari bahaya nyata.

Menonton kekerasan itu kayak naik roller coaster emosional. Kita tahu itu tidak sungguhan (atau setidaknya bukan kita yang jadi korban), jadi kita bisa menikmati ketegangannya tanpa resiko. Tapi jangan salah kaprah. Beda lho antara nonton baku hantam di film dan nyorakin orang tawuran beneran di jalan. Jangan ya, dek.

3. Estetika dalam Perkelahian
Aku akhir-akhir ini demen banget nonton WWE dan gulat profesional. Awalnya iseng, sekarang jadi candu. Tapi yang paling bikin jatuh cinta tuh gulat Meksiko — dengan aksi akrobatik, busana warna-warni, dan topeng penuh filosofi. Rasanya kayak nonton tarian perang yang dramatik. Indah sekaligus brutal.

Di Meksiko, para pegulat dianggap pahlawan lokal. Mereka berperan nggak cuma sebagai atlet, tapi juga tokoh mitologis yang menghidupkan cerita rakyat lewat pertarungan. Dan topeng mereka? Bukan sekadar aksesoris. Setiap warna dan bentuk punya makna — personal, spiritual, politis. Estetika perkelahian, menurutku, sah-sah aja dinikmati… asal tetap sadar ini semua performa. Bukan panggilan untuk beneran baku hantam di parkiran minimarket.

Begitu kira-kira hasil perdebatan kami malam itu. Sampai akhirnya hujan reda, Bang David buru-buru pakai baju (yang sejak tadi ditaruh sembarangan), dan ngajak aku cari lontong malam yang jaraknya 2 KM dari kamar sewaku. Karena ya… begitulah hidup: penuh pertanyaan, tapi akhirnya kita tetap cari makan.

Lalu kami pun melupakan semua teori tadi. Karena mungkin jawaban terbaik bukan yang bisa dijelaskan tapi yang bisa dijalani. Anjay.

Kamu sendiri gimana? Pernah ngerasa kayak gitu juga?
Apa kamu juga diam-diam menikmati kekerasan — asal dikemas dengan sinematografi cakep dan narasi balas dendam yang greget?

Pesanku cuma satu:
Jangan jahat sama orang lain.
Pukul-pukulan cukup di layar kaca, jangan di hati. Minimal biar gak kaget juga kalau lihat paladusing pukulin orang lagi demo. Biar kamu bisa bantuin orangnya.

Gilak!

Mahasiswa akhir Sastra Indonesia di satu universitas swasta di Kota Padang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!