Generasi milenial yang katanya lekat sama teknologi, internet, dan hal-hal maya lainnya, punya kesan sengklek dan gila popularitas. Berburu viewers, beli followers, sampai mati-matian nyari ide buat menyajikan konten media sosial demi viralitas dan agar dibilang “unik”.

Ya, emang sih, itu dampak negatif dari kemajuan zaman. We know that, ya.

Lo tau sendiri, kan? Kita ini sering kali dilekatkan dengan kesan kerusuhan. Banyak hal konyol yang dilakukan muda-mudi yang sampai bikin seluruh warga negara Indonesia membicarakannya.

Media sosial lagi bising banget ngebahas soal kelakuan kaum milenial. Walaupun masih lebih ramai tempurnya dua kubu tim sukses pasangan calon presiden, sih. Namun tetap saja, ini merupakan masalah besar dan serius. *haiyyah santai aja kali, hehe.

Sebagai bagian dari generasi sengklek ini, gue bener-bener nyesek lihat saudara-saudara gue diomongin sana-sini, dicemooh, dihujat, dan di- di- di- lainnya. It hurts my heart, guys, huhu.

Baru kemarin, media sosial riuh banget sama kasus cowok unboxing Scopy merah sampe ancur motor ceweknya karena kena tilang polisi. Bahkan di twitter sampe jadi trending.

Nah, baru aja, gue lihat banyak tangkapan layar bertebaran di sosial media yang menampilkan status facebook si cowok genjiaa~ itu. Katanya sih, dia gitu cuma akting buat konten youtube biar viral dan dapet duit dari iklan, trus duit iklan mau dibikin beli motor baru yang keren. Motor apa ya, gue lupa. Namun apesnya, dia malah kena sial karena kamera perekamnya error. Gue enggak tau ini bener apa boongan, dan nggak pengen tau juga. Males kepo. Tapi kalo emang bener, huaaaa pengen nangis sejadi-jadinya setelah tau alasan dari dia. Huhuhuuuu. Lo maunya apa siiih?

Terus ada lagi nih. Beberapa waktu lalu, viral video “klarifikasi kenapa kita selesai…” Lo tau, kan, mana yang gue maksud? Hyaaa betuuul, ialah tentang si couplegram (pasangan romantis instagram) dambaan warganet yang tiba-tiba putus karena si cowok selingkuh. Mereka bikin video klarifiasi alasan mereka putus. Dan penontonnya? Berjuta-juta! 

Jadi inget Awkarin sama si Gaga. Entah itu putus beneran atau cuma settingan, bodo amat lah. Akan tetapi, pantes nggak sih nampilin konten yang blak-blakan? Maksud gue, emang kontennya tuh tanpa privasi banget. Soalnya di videonya, nyebutin soal nginep sama cewek lain di hotel segala masa. Itu aib nggak sih? Masak si cowok mau dibuka aibnya? Lagian nih ya, bukankah enggak pantes ya pembahasan semacam itu buat konsumsi publik? Hmmm, kalo menurut lo gimana?

Sebenernya masih banyak lagi kasus konyol para milenial, tapi gue udah nggak kuat ngetik. Hati gue teriris-iris *yaelah lebay lo ndro. Tapi beneran, gue sedih banget.

Yang lebih mirisnya, mereka jadi topik pembicaraan yang konteksnya negatif di mana-mana.

Sebenarnya apa sih yang salah sama generasi kita? huaa, gue pengen nangis nih, tisu mana tisu?

Jujur, gue merasa kaum gue ini tercemar nama baiknya. Gue enggak nyalahin yang bikin rusuh sih, karena ini bukan 100% kesalahan mereka. Banyak faktor yang mempengaruhi kemiringan-kemiringan seperti ini. Salah satunya kemajuan zaman yang menuntut kita eksis di platform semacam twitter, youtube, bahkan instagram. Belum gengsinya, bersaing sama pacar si mantan (upss). Seolah kita wajib mencolok dan terkenal dulu baru sah jadi “orang”.

Kalau bagi generasi zaman old, kelas sosial tinggi adalah soal pangkat, keturunan dan jabatan, bagi kami -kaum milenial- kelas sosial itu diukur dari seberapa populer kami di dunia maya. Berapa pengikut kita, berapa yang love postingan kita, berapa yang liat konten kita, berapa viewer vlog kita, semacam itu lah.

Warganet enggak terlalu peduli si A anak siapa, mereka cuma mengukur kami dari bagaimana kita nampilin diri di media sosial. Miris, tapi emang itu kenyataannya.

Sebagai anak zaman now, milenial yang berlumuran dosa-dosa digital dan enggak bisa jaga jarak pula dari gadget, yang menganggap bahwa kesan di media sosial dalah segalanya, ingin gitu bareng-bareng melakukan muhasabah, atau refleksi-lah..

Daripada bikin konten-konten yang menyimpang atau menimbulkan kebencian, gimana kalo buat karya-karya yang bikin mereka melek bahwa kita enggak seburuk yang mereka kira?

Ubah kesan-kesan itu. Bubkankah kita ini adalah generasi waras yang punya kreativitas. Punya kelebihan-kelebihan yang bisa ditonjolkan, dipamerkan. Bungkam mulut mereka dengan partai berkarya.

Gue bukan mau niat nyeramahin, cuma ngajak muhasabah bareng. Yuk, udahan sengkleknya. Kalo emang belum bisa bermanfaat untuk orang lain, seenggaknya kita enggak bikin orang lain gedeg atau muak.

Eh, kayaknya asik deh kalau kita adain semacam acara muhasabah akbar, kalau perlu berjilid-jilid, ala-ala ESQ gitu. Terus entar para alumnusnya, mendadak akun IG-nya berubah jadi beranda musholla. Hehe.

Tapi, ya, kalau itu gak mungkin. Ya istighfar aja kali ya.

Jamaah! Eee… jamaah… gimana, gimana?

Profil Penulis

Dwi Susilowati
Dwi Susilowati
An editor of Graf (IG: Graflit.id) | An Author of Surat-Surat Kenangan | Kata-kata membuatku ada.