Mudik Itu Bukti Kita Rindu Desa, tapi Tetap Nggak Mau Tinggal di Sana

Setiap tahun, jutaan orang bergerak dalam satu waktu yang sama. Jalanan macet, kereta penuh, bandara juga gak kalah sesaknya. Semua pulang. Semua larut dalam suasana yang sama, rindu, keluarga, dan kehangatan yang terasa begitu manusiawi.

Karena semuanya itu, mudik terasa begitu wajar, bahkan sakral. Mudik sudah biasa dan, ya begitu saja hadir sebagai sesuatu yang tidak perlu dijelaskan dan “sudah dari sananya”. Namun justru karena dianggap wajar itulah, kita jarang berhenti untuk melihatnya dan memaknainya dengan lebih tertib.

Secara etimologis, mudik sering dikaitkan dengan kata “udik” dalam Bahasa Melayu, yang merujuk pada wilayah hulu, tempat seseorang kembali setelah pergi ke hilir untuk bekerja atau berdagang. Ada pula yang menghubungkannya dengan ungkapan Jawa “mulih-dilik” yang berarti pulang sebentar. Dalam pengertian ini, mudik memang memiliki akar kultural yang panjang.

Akan tetapi, mari lihat dari skala dan polanya hari ini. Saya rasa, mudik tidak lagi bisa dipahami semata sebagai tradisi budaya tok. Ini hari, mudik seperti berkembang dalam konteks sosial yang jauh lebih modern.

Di sinilah pentingnya melihat mudik dalam kaitannya dengan perubahan struktur masyarakat. Menurut Heddy Shri Ahimsa-Putra, meningkatnya mobilitas menjadi faktor penting yang membentuk praktik mudik. Sementara itu, Purnawan Basundoro menunjukkan bahwa fenomena ini berkaitan erat dengan urbanisasi. Artinya, untuk memahami mudik hari ini, kita tidak bisa mengabaikan proses urbanisasi itu ter- atau dibentuk.

Urbanisasi besar-besaran di Indonesia menguat secara sistematis pada masa Orde Baru sejak 1970-an. Pada periode ini, negara menerapkan model pembangunan yang bersifat sentralistik dan berorientasi pada kota. Industrialisasi, investasi, dan pembangunan infrastruktur dipusatkan di kota-kota besar, sementara desa diposisikan sebagai penyedia tenaga kerja.

Kondisi ini secara perlahan menciptakan ketimpangan ruang hidup. Kota menjadi pusat kesempatan sedangkan desa kehilangan daya tarik ekonominya. Akibatnya, perpindahan dari desa ke kota bukan lagi opsi yang bisa dipilih atau tidak, tapi kebutuhan untuk bertahan hidup.

Dalam konteks inilah mudik memperoleh makna barunya. Mudik jadi bukan cuma perjalanan pulang, tetapi jadi bagian dari siklus hidup masyarakat yang terpisah antara tempat bekerja dan tempat berasal. Atau sebut saja, mudik adalah konsekuensi dari cara pembangunan dijalankan.

Menariknya, ketika jutaan orang harus kembali setiap tahun, negara justru hadir sebagai pengelola utama momen tersebut. Program mudik gratis, rekayasa lalu lintas, hingga keterlibatan langsung pejabat menjadi agenda rutin. Kelancaran arus mudik kemudian diposisikan sebagai indikator keberhasilan. Memang, pada satu sisi, tampak sekali seperti bentuk kepedulian yang pro-rakyat, namun di sisi lain muncul pertanyaan yang lebih mendasar seperti:

“Bagaimana mungkin sistem yang mendorong orang meninggalkan desa, pada saat yang sama juga tampil sebagai pihak yang “membantu” mereka pulang?”

Antonio Gramsci menjelaskan bahwa kekuasaan bekerja bukan hanya melalui paksaan, tetapi juga melalui persetujuan, dan seperti yang sebelumnya dikatakan, mudik adalah bukti yang sangat akurat. Mudik terasa begitu natural saja, sehingga terkesan sangat personal, dan bahkan hampir tidak mungkin dilihat sebagai bagian dari struktur yang lebih besar.

Hal serupa juga terlihat dalam narasi ekonomi yang menyertai mudik. Sering dikatakan bahwa mudik menggerakkan ekonomi daerah. Memang benar, uang dari kota mengalir ke desa menghidupkan berbagai aktivitas lokal. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, perputaran ini bersifat sementara.

David Harvey dalam sistem kapitalisme perkotaan bilang kalau aliran sumber daya cenderung bergerak dari pinggiran ke pusat. Desa tidak hanya kehilangan uang, tetapi juga tenaga kerja produktif dan generasi mudanya. Akibatnya, setelah lebaran dan tradisi makan bakso itu selesai, kondisi kembali seperti semula. Desa tetap bergantung, dan ketimpangan akses tetap bertahan.

Di titik ini, angka-angka besar tentang mudik menjadi semakin penting untuk dibaca secara kritis. Sekitar 144 Juta orang diperkirakan melakukan perjalanan pada Idul Fitri 2026. Angka ini menunjukkan massifnya pergerakan tersebut.

Mengapa begitu banyak orang harus pulang?

Mengapa begitu banyak yang meninggalkan kampung halamannya?”

“Mengapa tempat mencari nafkah dan tempat tinggal menjadi dua ruang yang terpisah bagi puluhan juta orang?

Mudik, pada akhirnya, memperlihatkan sesuatu yang sering tidak kita sadari. Bukan hanya tradisi musiman, namun juga gejala dari ketimpangan yang terus berulang. Oleh sebab itu, setiap Lebaran sebenarnya bukan hanya tentang kepulangan, tetapi juga tentang pengulangan. Kita kembali ke tempat asal, lalu pergi lagi, dan mengulang siklus yang sama di tahun berikutnya. Bekerja, menerima upah, bekerja lagi, upah lagi, dimiskinkan negara lagi. Aduh. 

Terakhir,

Mengapa kita harus pergi sejak awal?

Selama pertanyaan ini tidak dijawab secara serius, mudik akan tetap menjadi ritual yang selalu terlihat indah di permukaan, dan kita semua tahu sisanya.

 

 

Sumber

Ahimsa-Putra, Heddy Shri. (2022). Sejarah dan asal usul mudik. Universitas Gadjah Mada. Dikutip dalam Medcom.id, 27 April 2022. https://www.medcom.id/pendidikan/news-pendidikan/eN4G9oyK-sejarah-mudik-dari-perjalanan-hulu-hilir-sungai-hingga-urbanisasi-ke-kota

Basundoro, Purnawan. (2021). Urbanisasi sebagai awal mula mudik. Guru Besar FIB Universitas Airlangga. Dikutip dalam Suara Surabaya, 7 Mei 2021. https://www.suarasurabaya.net/senggang/2021/pakar-sejarah-unair-urbanisasi-sebagai-awal-mula-mudik/

Gramsci, Antonio. (1971). Selections from the Prison Notebooks. Diterjemahkan dan disunting oleh Quintin Hoare & Geoffrey Nowell Smith. New York: International Publishers.

Harvey, David. (1985). The Urbanization of Capital: Studies in the History and Theory of Capitalist Urbanization. Baltimore: Johns Hopkins University Press.

Kementerian Perhubungan Republik Indonesia. (2026). Survei potensi pergerakan masyarakat pada masa Lebaran 2026. Jakarta: Kemenhub.

Moller, Andre. (2005). Ramadan in Java: The Joy and Jihad of Ritual Fasting. Lund: Lund University.

 

 

 

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
galabet giriş | kavbet giriş | kavbet | grandpashabet | grandpashabet giriş | grandpashabet | grandpashabet giriş | grandpashabet | betebet | meritbet | galabet | jojobet | jojobet | Meritbet | jojobet giriş | casibom |