Muak dengan Kapitalisme, Cobalah Berkolektif

16

Sebelum 2019 berakhir seorang kawan curhat. Ia khawatir dengan apa yang akan terjadi di 2020—lucunya baru masuk bulan pertama perang dunia rasanya sudah di depan mata. Namun kekhawatirannya saat itu bukanlah soal sebesar perang nuklir. Ia khawatir, seperti yang dia bialng tidak akan beranjak dari keadaan seperti yang ia bilang moneyless, jobless, dan semuanya yang serba less.

Mereka yang memasuki usia dua puluhan saya kira punya masalah yang sama. Saya juga begitu. Apa lagi sekarang resmi berhenti mengajar. Dua bulan sebelum saya betul-betul berhenti mengajar (yang mana itu menjamin penghasilan tetap saya) bayangan akan tagihan bulanan dan biaya hidup membuat saya bergidik. Sampai kemudian saya curhat untuk meyakinkan diri. Dia tanya balik dengan serangkain pertanyan, seperti berapa rupiah yang hilang jika berhenti; berapa yang bisa dihasilkan dengan seluruh daya kerja dan skill ini-itu yang saya kuasai; juga yang tak kalah penting, berapa besar beban stress yang akan terangkat jika berhenti. Kemudian ditutup dengan mari kita rasonaliasakan semuanya dalam pertanyaan konkret: apakah berhenti sepadan dengan potensi penghasilan dan beban stress yang terangkat?

Awalnya saya bilang sepadan. Sekarang sudah sebulan berhenti mengajar dan saya mulai ragu. Memang betul saya memutuskan membuka kedai kopi dan mulai fokus pada bisnis penerbitan. Tapi ada masalah khusus dengan memenej bisnis sendiri. Anda tahu, sebesar apapun potensi bisnis yang anda kelola, maka sebesar itulah resikonya. Dalam jenis pekerjaan yang tetap, anda hanya mengurus hal tertentu, tapi dalam entrepreneruship anda sendirilah yang mengurus seluruh aspek bisnis: keuangan, marketing, manajerial, sampai keputusan-keputusan perintilan.  Menang berwiraswasta bukanlah hal baru bagi saya. Yang agak baru adalah, ketika sudah tidak lagi menjadikannya sampingan seperti hari ini.

Tapi hidup seringkali adalah perjalanan dengan satu tiket pergi. Agaknya saya perlu mengubah perspektif yang terlalu hitam-putih dalam memandang entreprenership dan bekerja seperti sebelumnya. Ayah saya adalah model bagaimana menerapkan perspektif bekerja-di-bisnis-nya-sendiri.

Kerja, dalam term fav bapak sa adalah bentuk tawakkal yang paling radikal. Ia tidak melulu dipandang sebagai cara mengisi hajat materialistik, namun juga menyirami kebun spiritualitas kita.

Hal semisl kita bisa  lihat pd kredo anak2 penggemar Marx. Kerja menciptakn nilai. Atau singkatnya, nilai manusia ada pada kerja.

Umur bapak sa mungkin sekira 60-an. Dia sekarang mulai pakai kacamata untuk menggambar obyek2 dg detail yang tipis dan kecil. Di usia dia, ceritanya, sudah banyak pelukis yang beralih ke obyek2 yang lebih lebar karena pandangan mulai terbatas, dan punggung sudah tak tahan diajak membungkuk. Tapi dia masih menggunakan seluruh daya yang dia punya sejak muda. Tentu dg jangka waktu yg lebih singkat. Ia bekerja dari jam 9-11 lalu istirahat sampai dzuhur. Habis dzuhur dia lanjut sampai jam 2 lalu istirahat dan Ashar. Habis ashar dia berkebun dan minum teh spt raja inggris.

Penting untuk melihat semua yang kita lakukan sebagai kerja, di luar itu menghasilkan uang atau tidak. Tidak ada yang hobi saja, atau kerja saja. Keduanya menciptakan nilai dalam hidup kita, makanya sebut saja kerja. Percaya bahwa hobi juga kerja, akan membuatmu berpikir jika ada yang seenaknya “menggunakanmu” kamu bisa bilang: kalau mau gratisan, kenapa gak belajar dan bikin sendiri? Gitu.

Sejak kecil saya melihatnya bekerja, membandingkannya dg orang tua teman-teman saya, dan membatin bahwa tidak ada kehidupan dewasa yang lebih keren dari yang bapak saya punya. Orang bisa jadi apapun yang dia mau tapi seringkali dia merasa dunia menghalanginya. Bapak saya tidak melihat apapun kecuali bahwa hajat kita pada ridho Allah harus melampaui hajat kita pada ridho makhluk. Dua jam di rumah serasa diceramahi 3 hari. Jadi di tengah2 bapa sa bicara, sa pesan gojek. Wkwk.

Cobalah Berkolektif

Cobalah bagi waktu untuk pekerjaan yang sekiranya bisa menjamin penghasilan bulanan—misalkan saya mengajar dan melayout majalah yang terbit setiap triwulan. Atau jika itu teralu memberatkan karena waktunya tidak flexible. Bukalah lini bisnis yang profitable. Baca peluang permitaan, lalu sediakan jasa atau barangnya.

Bagaimana jika kedua hal tadi terlalu berat? Cobalah berkolektif.

Saya akan ambil contoh cara kerja kolektif yang saya tahu, Kolektife.ink yang diinisiasi Asep Derik dan teman-temannya di Purwakarta. Persinggungan saya dengan Derik dua bulan ke belakang sangat menarik, semua bacotnya selalu bermula pada “apa imajinasimu?”

Anda tahu, imajinasilah yang membuka alternatif-alternatif perspektif baru di hadapan realitas yang begitu itu-itu saja: yg brutal, agresif, mengalienasi, dan selalu menolak bentuk asli kita. Singkatnya seperti dlam istilah Dea Anugrah yang jenaka: “mengganti isi kepala dengan mesin bubut”.

Secara garis besar topik pembicaraannya mirip dg om Wid. Hanya perbedaan itu ada pada pilihan-pilihan kata kuncinya. Jika Derik lebih suka dengan kata kunci semisal: imajinasi, akumulasi, kolektif, struggle, kebutuhan pokok, dan gasss. Sementara om Wid lebih suka dengan kata kunci: kerja, akumulasi, breakdown, dan struggle. Ada beberapa kata kunci yang mirip antara keduanya, barangkali karena secara ideologis (utamanya sosial-ekonomi) mereka beririsan.

Di tataran konsep dan gagasan Derik sungguh menarik. Tapi pada sisi praktek, tangan dingin om Wid hampir tyda ada duanya.

Andai ini musti dibagi dalam 3 tipe orang…  maka Om Wid adalah tipe hustler, Derik ialah hacker, dan saya tentu saja sisanya, hipster.  Btw, komposisi hacker, hipster, hustler adalah 3 yg musti ada dalam startup-startup (atau dalam hal ini sebutlah bisnis-rintisan)

Andai kami bertiga bersatu, anda tahu apa yang akan terjadi? Tidak ada sih. Saya akan tetap bertanya2: kenapa ya saya tetap saja miskin dan bau? Hehe.

Pada akhirnya, semua yang menyakitkan tidak punya tingkatan antara satu dan lainnya. Semua sama menyakitkannya. Sama rata menyiksanya.

Memutuskan pergi, atau melihat orang pergi sama saja rasanya. Tiba-tiba cuma ada lubang kosong dalam dada kita, terbuka dan menganga begitu saja. Seperti pertanyaan retoris. Seperti titik di bawah tanda tanya.

Derik punya model-bisnis (dia lbh suka menyebutnya Corak Produksi) yang menakjubkan sejak awal saya tahu dia. Dia membuat kolektife-ink lebih mirip kampus bisnis dan badan amal daripada sekadar bisnis belaka. Kalimat kuncinya yang akan terus saya distribusikan lagi dalam (semoga saja serial konten “bertahan hidup”) adalah: apa imajinasimu?

Setelah “apa imajinasimu?” Derik lanjut ke: berapa kebutuhan bulananmu?”

Kebutuhan, bukan keinginan. Sebuah mindset bisnis yang membuat kita berpikir ulang soal “untuk apa kita bekerja?”

Mau kaya sendirian atau bermanfaat. Dari situ juga kita tahu kapan saatnya berbisnis, kapan saatnya mendukung kawan yang lain.

Jadi kalau ada penghasilan lebih dr kebutuhan, musti didistribusikan ke kerja amal.

Saya sejak lama sekali sering diskusi soal gimana caranya, kerja-kerja kebudayaan bisa “kacabak” progresnya… kemudian dari diskusi- itu mulai menyadari satu hal yang gak kalah penting dari gerakan sosial dalam lanskap gerakan anak muda, yaitu gerakan ekonomi.

Lagi kontak2 yang di Bandung. Kami berharap banyak dari sini muncul inisiatif2 baru dan tercipta rantai jaringan baru yang lebih jauh dan lebar. Begitu.

Tentu banyak betul orang yg pioneer di bidang (gerakan ekonomi dan sosial) ini. Tapi kucuma bisa menjangkau yang ini dulu. Ke depan, kalau teman-teman punya nama-nama baru yang sama “impactfull-nya” (syukur2 kalau lebih) spt mereka tolong kontak saya, ya.

Ciri umumnya dia menginisiasi wadah/komunitas yang punya kegiatan ekonomi. Harapannya kita semua bisa bertukar pikiran tentang bagaimana membangun komunitas kerja sosial yang solid, mandiri, dan syukur-syukur kalau sampai mensejahterakan.

Kuncinya itu: kesejahteran. Bukankah akan sangat keren kalu misalnya ada 300 komunitas (isinya ya gaj banyak juga gak papa) yang menjamin anggotanya punya akses mata pencharian, health care, pendidikan, dan tempat tinggal.

Ya emang agak muluk sih. Tapi ya ampun, belakangan saya mulai menyadari, bahwa ternyata ada banyak pola pendidikan dan ekonomi yang belum dicoba di komunitas. Berkoperasi misalnya. Masalahnya satu, koperasi yang kita lihat pada umumnya ternyata seringkali melakukan praktek yang mengkhianati semangat berkoperasi itu sendiri. Koperasi malah menyaru jadi bank-bank konvensional, yang bisa jadi lebih galak jumlah bunganya dan lebih jahat cara kerjanya.

Untuk teman saya itu, saya gak bisaa bilang apa-apa selain sebaiknya kita bertemu di darat. Dengan begiru saya berharap kami bisa bicara dan sama-sama menemukan jalan keluar. Entahlah, rasanya itu seperti hal baik yang bisa dilakukan seabagai teman. Barangkali kami bisa berbagi padangan yang saling meluaskan. Jika ia punya masalah dengan pekerjaan, saya punya masalah dengan hampir keseluruhan model bisnis dari unit usaha yang saya jalankan.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More