Monster di Mulut Kita itu Bernama “Body Shaming”

125

“Ih, kamu kok gendutan sekarang?”

Kita sudah tidak asing lagi dengan kalimat itu. Seringkali kalimat itu terlontar begitu saja dari mulut banyak orang, itu termasuk kita. Saat ini, memang begini keadaannya, orang-orang dengan mudah mengomentari fisik orang lain berdasarkan standar yang mereka buat sendiri.

Ini mengingatkan saya dengan tokoh Rara di film Imperfect yang selalu mendapat tekanan dari lingkungan di sekitarnya. Bahkan mamanya sendiripun selalu mengomentari tentang porsi makannya yang relatif besar dan selalu mengingatkan mengenai size pahanya yang kian melebar.

“Kamu nggak harus cantik kaya Mama,” selalu diucapkan papa si Rara untuk membuat anaknya semangat. Namun setelah papanya meninggal, rumah seakan menjadi neraka yang memberikan tekanan kepada Rara.

Begitu pula dalam hidup ini, seseorang juga perlu kata-kata penyemangat agar tidak termakan body shaming dari orang lain. Kemungkinan terburuknya seseorang bisa depresi kalau tidak ada yang mendukungnya sama sekali.

Film Imperfect ini menarik karena film ini adalah gambaran jelas dari kejamnya mulut orang hingga dapat melemahkan seseorang yang dikomentarinya. Ya, pada Rara akhirnya sadar, bahwa kita nggak perlu sempurna untuk dapat bahagia. Namun apakah orang lain dapat menyadarinya juga?

Body shaming adalah tindakan mencemooh atau mengejek penampilan fisik seseorang. Ia terjadi secara lisan maupun tertulis, bahkan dalam tindakan. Malahan sekarang, di dunia maya, orang-orang lebih berani berkomentar bahkan tanpa berpikir dulu. Body shaming jugah jenis bullying yang sering disamarkan sebagai candaan.

Sudah pernah dapat komentar buruk tentang fisik? Sebenarnya saya sering dikomentari begitu.

“Hahaha dasar pendek!”
“Kurus banget lo sekarang”
“Badanmu tuh isinya tulang-tulang tok ya?”
“Tanganmu kecil banget kaya lidi”

Kalau dipikir-pikir, mau itu dalam konteks bercanda ataupun tidak, tetap saja ya body shaming namanya. Tapi kok untungnya saya ini seringkali cuek dengan omongan-omongan orang. Mau bagaimana lagi, saya sadar diri kalau saya memang pendek dan kurus kering kerontang. Syukurlah karena itu, saya tidak pernah menganggap semua itu ejekan buat saya. Lah orang lain gimana?

Di Twitter, orang-orang cerita ia dinilai orang lain berdasarkan standar mereka, dibanding-bandingkan satu dengan yang lainnya, dan terkena body shaming juga ujungnya. Saya juga sering menjumpai cuitan tentang orang-orang yang dengan berat memikirkan apa yang diomongkan orang lain untuk dirinya.

“Selamat datang di Indonesia dimana kamu harus goodlooking dulu biar bisa dihargai, kalo kamu gak goodlooking minimal jangan miskin”

Dari cuitan semacam ini saya jadi mengerti bahwa semua orang tidak bisa disamakan. Perasaan dan pribadi seseorang itu berbeda-beda. Ada yang mentalnya kuat, ada yang tidak. Ada orang yang bisa mengontrol perasaannya untuk memilah mana yang perlu dan mana yang tidak perlu dimasukkan ke hati. Namun ada juga orang yang semua hal, bahkan hal kecil sekalipun, tetap dipikirkan dengan serius.

Memang pada dasarnya pelakunya saja yang terlalu jahat, buat apa sih menilai anak orang seenaknya. Apa orang-orang itu tidak ada kegiatan lain yang lebih bermanfaat?

Kata-kata yang keluar dari mulut jahat si tukang body shaming membuat korbannya merasa rendah diri, marah kepada dirinya sendiri, dan tidak terima dengan keadaan dirinya sendiri.

Setelah itu mereka akan merutuki dirinya sendiri dan bertanya, mengapa aku begini, mengapa aku begitu, dan semacamnya. Mereka seakan terdoktrin dengan omongan orang lain dan cenderung melihat dirinya sendiri dari sisi yang negatif.

Yang jelas body shaming ini dapat berpengaruh terhadap kesehatan mental orang tersebut. Kalau sampai si korban depresi lalu bunuh diri, siapa yang mau bertanggung jawab? Sebaiknya kita semua waspada dengan monster di mulut kita itu. Jangan sampai ia melahap orang lain.

  1. Galang Hutriadi says

    Perkenalkan saya Galang Hutriadi. Tema tulisannya menarik, Kak Nisa. Ya, memang belum lama istilah ‘body shaming’ meruak. Kalau boleh saya berpendapat, body shaming adalah komentar seseorang terhadap kondisi fisik orang lain, baik berniat bercanda maupun disengaja.

    Namun begini, Kak. Saya sebagai anak yang tumbuh-kembang di ‘jalanan’ sudah sejak kecil saling bercanda ejek fisik dengan teman saya dan seingat saya, hubungan kami tetap baik-baik saja. Andai salah satu di antara kami marah pun hanya sehari, besoknya kembali bercanda bersama.

    Nah, yang sering terlintas di benak saya, kenapa istilah body shaming baru muncul belakangan ini? Padahal, sudah sejak dulu banyak anak yang saling ejek fisik.

    Dugaan saya, ini berkaitan dengan mental tiap orang yang berbeda-beda, yang juga berkaitan dengan lingkungannya. Lantaran perbedaan itulah, tiap dari kita seyogianya mawas diri dan tidak bisa bersikap sama kepada tiap orang.

    Namun gini, Kak Nisa. Kenapa orang yang menerima ejekan fisik harus bersuara bahwa dia adalah korban body shaming, lalu berpendapat di media sosial, sehingga makin banyak pendapat dan memperkeruh keadaan.

    Kenapa korban body shaming juga gak belajar membalas ejekan secara bercanda? Pikir saya, justru dengan begitu si korban akan terbiasa bercanda seperti itu dan semua menjadi baik-baik saja. Karena dengan santai saling ejek fisik dan tidak tersinggung, juga bisa dipersepsikan bersyukur terhadap apa yang Tuhan berikan.

    Begitu kiranya pendapat saya. Terima kasih.

    1. Nisa Khuriya Gibral says

      Salam kenal, Kak Galang. Terima kasih sudah berbagi pendapat.

      Kalau menurut saya ya Kak, itu dikarenakan pribadi setiap orang berbeda-beda. Untuk orang yang terbiasa bercanda dengan hal semacam itu sih mudah saja untuk mengejek balik atau semacamnya. Namun hidup dan lingkungan masing-masing orang kan berbeda-beda. Jadi tidak heran kalau ada yang sangat keberatan dengan body shaming ini.

      Pada dasarnya, seseorang pasti akan berusaha bersyukur dengan apa yang dimilikinya. Namun bagaimana jika lingkungannya tidak mendukung? Selalu mencari kekurangan seseorang itu, misalnya. Hal tersebut akan membuat seseorang itu merasa dirinya selalu kurang dan memandang dirinya dari sisi negatif. Dan kembali lagi itu dikarenakan mental setiap orang berbeda-beda.

      Begitu sekiranya pendapat dari saya, Kak. Terima kasih.

Leave A Reply

Your email address will not be published.