

Karhutla
Karhutla
Karhutla
Jejak jejak jejak
Kar-hut-la!
Jejak jejak jejak
Asap?
Kar-hut-la!
(yang membakar, yang lamban menapak)
Di tengah asap
Di tengah air kerontang
Di tengah selang-selang keringat
(yang membakar, yang diam, yang kepalang)
Membasuh api seluas pandang
Hujan tertahan, bersisa asam
Jejak dalam asap
Kar-hut-la!
Kenapa alam bawah sadar
Menyimpan luka sendirian
Lalu merangkainya jadi hitam
Di malam yang berusaha istirahat
Tak sanggup bergerak dengan keputusan
Apalagi kebebasan
Telah dipenjara aku oleh
Mimpi buruk pukul dua pagi
Dan hampir setiap hari
Belakangan ini, hari-hari berisi rindu
Tak tersampaikan tetapi menyakitkan
Sedihkah kiranya hanya memendam
Menimbun rindu dalam-dalam sampai
Mimpi menumbuhkannya
Ah, aku benci kepala
Negara yang tak sanggup berbuat
Di tengah bencana
Kepala yang acuh
Kepada kata-kata, setidaknya coba
Dengarlah rindu yang menyawit
Mimpi buruk warga setiap waktu.
Pada suatu hari, hiduplah seorang raja di negeri kaya raya
Kaya udara, tanah, air, dan makhluk-makhluk.
Raja hidup di singgasana buat goyang-goyang kakinya
Raja itu memiliki beragam kuasa, yang tak banyak dimiliki
Kerajaan tetangga, tetapi justru keragaman itulah
Yang disimpan raja dalam sebuah
Korek api.
Pada hari peringatan delapan satu tahun kerajaan,
Raja tiba-tiba kehilangan korek apinya.
Padahal raja sedang sangat membutuhkannya,
Buat memantik cahaya perayaan.
Raja pun membuka sayembara:
Siapa yang dapat menemukan korek api raja,
Dapat sepetak lahan buat menyawit impian.
Pada hari penentuan, raja akan mengumumkan pemenang
Sayembara korek api. Namun, siapakah pemenangnya?
Tak ada yang dapat hidup lebih lama,
Hanya demi lahan oligarki.
Lahir dan tumbuh di Sumatra Barat. Instagram @sekarapidali.
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!