Miercoles

Kopi Pahit Cinta

 

aku jatuh cinta pada kopi yang ampas di bibirmu.

di tanduk malam yang sepi. hujan bulan desember begitu luber.

panas kopi begitu dingin, tapi pelukan kita selalu bara.

 

apakah kau butuh secangkir kopi dan sebuah ciuman hitam lagi? katamu.

aku butuh kedua yang kau tawarkan; kopi untuk meringankan pekerjaan

yang edan, ciumanmu untuk edan yang tak ingin kusembuhkan.

 

jemurlah dirimu seperti kopi, katamu.

setelah ditumbuk kasar dan memar? tanyaku.

 

pelayan kafe datang, menyuruh kita haluskan percakapan,

 

siapa anak tampan bermata biru itu? katamu tak tertahankan.

impor dari Belanda kata pelayan.

bukankah mereka telah merampas sejarah juga menjarah kopi-kopi kita?

 

masa lalu nan aduh jangan lagi diseduh. tapi lelaki tanggung bermata biru

tersenyum, menjabat tanganmu, menyebut  nama. nama yang aneh katamu.

 

ia membuka peta, bertanya padamu di mana letak aceh,

gayo, dan kebun kopi yang luas itu?

 

kau tersenyum pahit, menghentikan hujan di luar.

desember jadi darah beku di ember.

 

Kubang Raya, 4 Oktober 2023 – 20 April 2026

 

 

 

G

 

 

G, aku mencopot bunga plastik dari jantungku, aromanya bangkai,

lama tak setetes parfum mewangikannya. seperti liurmu yang kesturi

dalam kecipak ciuman dangkal.

 

kukata ini kemarau. kue tart pecah-pecah, bibirku pecah-pecah,

hatiku pecah. sebab perekatnya adalah kuemu, bibirmu dan basah hatimu.

semua seperti musim api yang sebentar lagi lahir.

menggulung kerontang ilalang sepanjang dadaku.

 

apakah ada doa dalam kepala perjaka?

atau lilin di kawin yang leleh-beku.

semua kupikir sekadar melingkar kelendar,

di mana bibir membulat-bergetar:

 

haepi beirt dei, G. kita akan mengulang hari-hari kelam.

jika kau lilin, jika aku api. kita mesti kawin sebelum dipadamkan angin.

sampai leleh-beku. sebagai kerak dan sumbu. muach!

 

Kubang Raya, 20 April 2026

 

 

 

Miercoles

 

terjaga dari belalak mata yang kosong, menghindar dari omong kosong,

menatap gigiku yang ompong. ibu terlalu seratus tahun untuk mengerti

perubahan warna deritaku.

 

teman-teman telah pergi ke taman-taman tak berpenghabisan,

suster tak dikenal kembali menali seinci kenang, juga Tuhan

yang pergi ke lain hati, yang hijrah ke rumah dalam ruhku.

 

astaga, tega-teganya kau mengoleskan mentega

ke tubuhku yang belum mati, suster.

 

Kubang Raya, 14 Maret 2022 – 20 April 2026

Kelahiran Paringgonan, 1998 Memiliki guru puisi dari Sampang. Menjadi mentor menulis puisi online di Asqa Imagination School (AIS). Buku puisinya yang akan terbit: Abu Bakaran Ladang (Penerbit Lumpur, Mei 2026). Jika terjadi gejala jatuh cinta pada kata-katanya hubungi Insragram @muhammadasqalanie

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!