

βAku tidak akan makan pedas lagi.β
Pernyataan itu hampir selalu terucap setelah aku menyantap hidangan yang sangat pedas. Biasanya ini terjadi ketika larut malam saat perut mulai merasakan panas dan ketidaknyamanan. Terkadang aku merasa menyesal karena telah berlebihan menambahkan sambal atau memilih tingkat kepedasan yang sebenarnya sudah di luar kemampuan. Namun, lucunya, beberapa hari setelahnya, aku mengulangi kesalahan yang sama. Membeli seblak pedas extreme, mi super pedas, atau hidangan lain yang dipenuhi cabai, lalu kembali berkata,
βIni yang terakhir.β
Ketika direnungkan, sebenarnya hubunganku dengan makanan pedas memang seperti suatu hubungan yang toxic. Aku menyadari bahwa hal itu seringkali membuat tubuhku tidak nyaman, tetapi tetap saja aku mencarinya lagi. Ada siklus yang terjadi berulang kali: menikmati, menyesal, berjanji tidak akan mengulang, lalu kembali melakukannya.
Fenomena ini sebenarnya sangat umum di kalangan banyak orang, khususnya anak muda. Makanan pedas tampak sudah menjadi bagian dari gaya hidup. Banyak orang merasa bahwa makan tidak lengkap tanpa sambal atau rasa pedas yang kuat. Bahkan saat ini, banyak makanan ditawarkan dengan tingkat kepedasan yang beragam untuk menarik minat konsumen, dari yang biasa hingga yang ekstrem. Semakin pedas, semakin dianggap menarik dan menggugah tantangan.
Di sisi lain, banyak orang yang sadar bahwa mengonsumsi makanan pedas secara berlebihan tidak selalu baik untuk kesehatan. Rasa panas di perut, nyeri lambung, atau gangguan pencernaan sering kali menjadi efek samping yang muncul setelahnya. Namun anehnya, itu tidak selalu membuat seseorang berhenti. Justru ada rasa penasaran dan kepuasan tersendiri saat berhasil menghabiskan makanan yang sangat pedas. Kadang aku bertanya-tanya,
“Kenapa manusia sering kembali pada hal yang jelas-jelas menyakitinya?”
Menurut pendapatku, makanan pedas bukan hanya tentang rasa, tetapi juga tentang sensasi dan kebiasaan. Ada kebahagiaan tersendiri saat mampu bertahan terhadap rasa pedas yang luar biasa, merasa keren sejagat!
Terkadang ada juga faktor gengsi dan mengikuti tren, terutama ketika makan bersama teman-teman. Banyak orang berusaha terlihat kuat meskipun sebenarnya sudah kepedasan sejak suapan pertama.
Tanpa disadari, hubungan dengan makanan pedas ini terasa mirip dengan banyak aspek kehidupan sehari-hari. Manusia sering kali kembali kepada sesuatu yang jelas-jelas membuatnya menderita karena sudah terbiasa. Kita tahu bahwa hal itu menyiksa, tetapi tetap sulit untuk menjauhinya karena ada rasa nyaman yang aneh di dalamnya.
Itu lah yang membuatku merasa bahwa hubungan toxic tidak selalu tentang interaksi antar manusia. Terkadang hubungan beracun bisa muncul dalam kebiasaan kecil yang selalu diulang, meskipun kita menyadari bahwa dampaknya tidak baik untuk diri sendiri.
Pada akhirnya, aku menyadari bahwa hubunganku dengan makanan pedas mungkin memang tidak sehat. Namun, seperti banyak hubungan toxic lainnya, melepaskannya ternyata tidak semudah mengucapkan βaku tidak mau lagi.β
Mungkin suatu saat aku akan benar-benar berhenti mengonsumsi makanan yang terlalu pedas. Namun, untuk saat ini, ikatan ini akan tetap berlangsung: aku selalu merasa menyesal, dan sambal yang selalu berhasil menarikku kembali. Yang paling aneh lagi, , aku tahu siklus itu akan terus berulang.
Kalau kamu, tahu kah?
Nama pena @Secretdiary_ . Akrab dengan dunia tulisan sejak 2011. Instagram @lulumuftiaa
This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!
Lebih baik menjaga daripada mengobati.Salam sehat
Siip..Teruslah berkarya π