Merelakanmu di Kota Baru

telah aku sampul beratus lembar puisi

untuk merelakanmu

menguburnya dalam reruntuhan

tempat aku berharap menjadi selamanya

ada tapi datang dari bibirmu

mematahkanku di kota lama

tanpa kau, tanpa tapi

di sini, di kota baru

            yang mawarnya jujur berduri

di antara lampion pasar jumat dan cinta

bayang wajahmu terkurung kerlip malam

kuat melekat menghancurkan makna

segala sungguh rapuh runtuh mengeruh jauh

tidak lagi menjadi titik

Karawang, Desember 2018

Anjing Melolong

Anjing melolong sejauh cinta pergi

kandang kosong di seberang rumah

pagi menyiram rumput belum menghapus

            jejak jatuhnya kaki sisa semalam

di kepala godaan datang sepanjang hari

merayu berkeping-keping duka sejak itu

malam panjang buat pagi mengambang

anjing melolong mengingat diri

            kulitnya robek berdarah-darah

perlahan tulang membuat malu

            terkapar sebanyak hari di halaman

daging dan jeroan dari dubur terbakar

sisa kepala dengan isi pemandangan

musim cinta yang menjauh

            naik mobil putih ke rumah baru

melewati minggu

kandang di depan rumah masih tetap 

            telinga mendengar sepi yang kering

anjing melolong mengubah cinta

            menjadi harimau yang meraung-raung

Karawang, Desember 2018

Yang Muncul Pada Kencan Pertama

Bingung adalah kata yang pas dan menarik

siapakah aku dan kamu di hadapan rahasia

potongan kentang goreng sampai dingin

            basa-basi yang gagal dan canggung

dari jendela matahari ikut gugup bertemu magrib

sialnya bintang tertutup langit-langit, ah

            kencan pertama selalu tanggung, begitu

rumah dan tentang sepatu jahil menabrakan diri

            serupa camar dan sore di pantai

macet dan pertemuan tak sesuai rencana

            memperpanjang diam, sunyi yang baik

hati-hati memandang, irit dan singkat bertutur

            memintal percakapan tak bertitik

persitwa hari dalam janji

Karawang, Desember 2018

Barangkali

barangkali begini aku mencintaimu

mari bayangkan suara ombak di tepi laut kita

tidak sungguh-sungguh ada untuk didengarkan

            tapi tak juga pernah padam di telinga

apa pernah ia berhenti dan menyerah

pada penyair yang kalah dan lari

            atau mata yang hanya ingin tahu

            pantai dan sore adalah cinta

adakah pernah aku bagai camar yang pulang

            tanpa kesetiaan sangkar dan anak-anak?

Karawang, November 2018

Profil Penulis

Rizki Andika
Rizki Andika
lahir dan tinggal di Karawang. Belajar menulis di Rumah Seni Lunar. Berkegiatan di Perpustakaan Jalanan Karawang dan menjadi mahasiswa di Universitas Singaperbangsa Karawang. Salah satu penulis dalam antologi puisi: The First Drop of Rain (Banjarbaru’s Literary Festival, 2017), Anggrainim, Tugu dan Rindu (Temu Penyair Nusantara di Pematangsiantar, 2018). Puisinya tersiar di media cetak dan dalam jaringan. Dapat dihubungi melalui twitter @rizkiandikaa08.