

Jakarta di Bulan Juni adalah sebuah tungku raksasa yang menguapkan sisa-sisa kewarasan. Di tengah kemacetan Jalan Sudirman, udara berbau karbon pekat yang menusuk hidung, aspal yang dipanggang seharian kini memuntahkan uap panas, dan keringat orang-orang yang lelah oleh jam kerja meresap ke dalam kain-kain kemeja murah. Namun, di atas jok Vespa tua yang bergetar pelan, Geno merasa ia sedang mengambang di luar angkasa, jauh dari jangkauan aspal yang mendidih dan klakson yang memaki. Ia melingkarkan lengannya di perut Kavin. Kemeja linen Kavin basah oleh keringat di bagian punggung, menempel pada otot-ototnya yang bergerak ritmis setiap kali ia memutar tuas gas.
Geno menyandarkan pipinya di bahu Kavin, menghirup aroma tengkuk laki-laki itu; campuran antara wangi sabun sereh, tembakau tipis, dan feromon yang selalu berhasil meruntuhkan gravitasi di kepala Geno.
Tubuh laki-laki, selama berabad-abad, didikte oleh dogma untuk menjadi benteng. Harus keras, bersudut tajam, bersiap menyerang, dan diharamkan secara mutlak untuk melunak atau meminta pelukan. Namun, pelukan Geno di pinggang Kavin sama sekali tidak meminta perlindungan; itu adalah sebuah perayaan. Ia menyentuh perut Kavin, membiarkan ujung-ujung jarinya membaca denyut nadi di sana, merasakan getaran tawa laki-laki itu saat mereka mengobrolkan betapa konyolnya presentasi klien mereka hari ini.
“Kau tahu,” teriak Kavin agar suaranya mengalahkan deru di sebelah mereka, “Wajah Pak Direktur tadi persis seperti ikan pesut yang tersedak biji duku!”
Geno tertawa lepas. Tawanya memecah udara pekat Jakarta. Dan saat itulah, keajaiban kecil yang belakangan ini sering terjadi, muncul kembali. Setiap kali Geno dan Kavin tertawa bersama tanpa sedikit pun sisa rasa takut, udara di sekitar mereka berubah. Suara bising klakson tiba-tiba mereda, berubah menjadi dengung ritmis seperti suara lebah di kebun bunga.
Lampu merah di depan mereka mendadak berpendar merah jambu sebelum berganti hijau dengan riang. Bahkan asap knalpot yang pekat di sekitar mereka mengurai, berubah menjadi gelembung-gelembung sabun transparan yang terbang ke udara. Orang-orang di sekitar mereka yang tadinya merengut di balik visor helm peluh, tanpa sadar mengendurkan rahangnya, seolah ada angin sejuk yang tiba-tiba menyapu tengkuk mereka dari dimensi lain.
Mereka berhenti di sebuah warung tenda pecel lele di daerah Kemang. Lampu neon 5 watt berkedip-kedip di atas mereka, melemparkan bayangan ganda ke atas meja kayu yang lengket oleh sisa minyak. Dulu, tempat-tempat publik seperti ini adalah medan ranjau. Setiap pasang mata adalah senapan runduk, dan setiap meja adalah pos penjagaan. Geno biasanya akan duduk berjarak, menjaga intonasi suara, menekan gerak tangannya agar tidak terlihat ‘terlalu lentik’, dan memastikan tidak ada tatapan curiga dari meja sebelah. Ia dulu adalah arsitek yang sibuk membangun lemari kaca di sekeliling dirinya sendiri. Namun malam ini, Kavin duduk di sebelahnya, paha mereka bersentuhan erat di atas kursi plastik yang sempit. Saat Geno sibuk memisahkan duri lele dengan jarinya yang belepotan sambal terasi yang pedasnya menggigit, Kavin dengan santai mengulurkan tangan, mengusap noda minyak di sudut bibir Geno dengan ibu jarinya. Sentuhan itu ringan, tanpa ragu, dan sama sekali tidak meminta persetujuan dari mata-mata di sekeliling mereka.
Seorang bapak tua di meja seberang menoleh, matanya menyipit berusaha menerjemahkan keintiman yang asing baginya. Dulu, tatapan itu akan membuat jantung Geno mencelos, mengubah darahnya menjadi es, dan memaksanya menyingkirkan tangan Kavin dengan panik. Tapi kali ini, Geno hanya balas menatap bapak itu dan tersenyum lebar, memamerkan giginya. Sebuah senyum yang tidak menuntut penerimaan dan tidak meminta maaf atas eksistensinya. Melihat senyum Geno yang begitu utuh dan tanpa beban, bapak tua itu berkedip bingung. Kerutan curiga di dahinya mengendur, dan tanpa ia sadari, bapak itu ikut tersenyum kecil sebelum kembali fokus pada tempe gorengnya. Ketakutan, rupanya, adalah parasit yang hanya bisa hidup jika diberi makan.
Ketika Geno dan Kavin menolak memberinya makan, ketakutan itu mati kelaparan, digantikan perasaan hangat dan hijau yang menjalar cepat di bawah kulit mereka, membuat segala sesuatu terasa mungkin dan ringan.
Seusai makan, mereka berjalan kaki menuju minimarket untuk membeli es krim. Kavin menggenggam tangan Geno di trotoar yang tidak rata. Jari-jari mereka bertaut. Bukan tautan putus asa orang yang diam-diam bersembunyi di gang gelap, melainkan genggaman kokoh dua manusia yang sedang memproklamasikan bahwa trotoar ini, kota ini, udara ini, juga milik mereka. Setiap kali langkah kaki mereka menyentuh paving block yang retak, dari sela-selanya tumbuh pucuk-pucuk pakis kecil yang bercahaya keemasan. Bunga-bunga pukul empat mekar secara prematur saat mereka lewat. Kota yang bising dan keras ini seolah menyerah pada kebahagiaan mereka, ikut merajuk dan melembut.
Di depan pintu minimarket, Kavin menarik Geno ke dalam pelukannya. Ia mengecup dahi Geno dengan bunyi cup yang konyol dan keras.
“Untuk apa itu?” tanya Geno, matanya berbinar, memakan es krim rasa mangga sementara tangan kirinya masih di genggaman Kavin.
“Untuk merayakan hari Kamis,” jawab Kavin asal-asalan, tawanya berderai. “Dan merayakan fakta bahwa kau belepotan es krim.”
Di malam Jakarta yang biasanya mengasingkan, Geno menyandarkan kepalanya di dada Kavin. Ia mendengar detak jantung Kavin yang tenang dan berirama: hidup-hidup-hidup. Tidak ada ruang bawah tanah yang pengap. Tidak ada tanaman berduri yang menyumbat telinga. Yang ada hanyalah sepasang laki-laki yang merayakan tubuh mereka, merayakan cinta mereka di bawah lampu jalanan. Cahaya neon minimarket kini terasa seperti lampu panggung yang menyorot eksistensi mereka: utuh, bahagia, dan mutlak tak tersentuh oleh apa-apa selain cahaya.
Akan menerbitkan kumpulan cerita pendek terbarunya bertajuk Toko Barang Hilang (Langgam Pustaka), persembahannya untuk Mamak yang berpulang 2023 silam. Instagram: @misaelhtmn
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!