Menyesal Sejak Halaman Pertama: Ulasan Buku Apa yang Kau Lupakan Hari Ini? karya Jein Oktaviany

Saya menyesal buku Apa yang Kau Lupakan Hari Ini? menjadi buku pertama yang saya baca di tahun 2026.

“Lho, Kenapa kamu bilang seperti itu?” 

Baik. Sebelum saya menyakinkanmu, saya ingin memastikan bahwa dudukmu sudah benar dan kamu sedang tidak dalam keadaan yang membuatmu tidak nyaman.

Ada tiga alasan yang ingin saya bicarakan, jadi sebaiknya kamu menyimaknya sampai habis, supaya kamu tidak menyesali hal yang sama, dan/atau bahkan, lebih baik kamu menyesali hal lain.

Alasan pertama, tahun 2026 baru saja mulai. Masih 364 hari sejak tulisan ini saya buat dan masih banyak kemungkinan untuk melupakan sesuatu yang akan terjadi di tahun ini. Misalnya rasa sakit yang akan saya alami. Dari masa lalu hingga saat ini, manusia memang suka menyingkirkan rasa sakit dari ingatan.

Oleh karenanya lupa menjadi semacam coping mechanism untuk perlindungan terhadap kehancuran dirinya sendiri. Maka, setidaknya untuk saya, melupakan menjadi satu-satunya pilihan untuk berlindung. Untukmu, bagaimana? Jawab sendiri saja ya.

Sementara judul kumpulan cerita pendek Apa yang Kau Lupakan Hari Ini? seperti mengejek saya tentang realitas itu melalui retakan dan patahan yang terus berulang. Hal ini mengingatkan saya untuk kembali memikirkan satu hal: manusia barangkali hanya berusaha melupakan peristiwa yang melahirkan rasa sakit, sementara rasa sakit itu sendiri tak pernah benar-benar hilang dari ingatan dan terus hadir sebagai mimpi buruk yang terus berlanjut.

Dalam bukunya, Jein memperlihatkan kembali kepahitan yang dengan sengaja diupayakan untuk di-lupa-kan. Melalui cerpen Di Bawah Lampion, Jein secara piawai membuka kembali tabir kengerian sejarah gelap yang diwariskan dalam ingatan kolektif masyarakat terhadap kerusuhan Mei 1998 yang menimpa perempuan-perempuan Tionghoa.

“Setiap Imlek, aku selalu ingat beberapa hal tentang Sembilan-delapan,” ucapmu setelah kunyahanmu. (2025: 59).

“Saat hal itu terjadi, Cici SMA. Sekolahnya diliburkan, tapi saat masuk sekolah, banyak sekali orang yang tidak masuk. Beberapa siswa meninggal. Beberapa siswi katanya diperkosa. Beberapa lainnya tidak tinggal di negara ini.” (2025:69)

“Nah, Cici pernah berkata, ‘Imlek diakui hanyalah sebuah permintaan maaf atas masa lalu. kita tidak butuh ini. kita lebih butuh keadilan di atas masa lalu. imlek itu malah semacam hiburan saja. Malah seperti permen yang diberikan oleh pejabat pada anak kecil yang telah kehilangan segalanya, agar anak kecil itu tidak menangis, tidak punya dendam. Kita hanya dianggap anak kecil itu, padahal dirayakannya Imlek tidak sepadan dengan derita Sembilan-delapan.” (2025:69-70)

Kutipan terkait ingatan itu dihadirkan cukup kuat sebagai luka yang terus muncul pada tubuh dan kesadaran para tokohnya.

Kegetiran serupa juga tampak dalam cerpen Enam Hal yang Terjadi Sebelum Anjani Mati. Pada cerpen ini, pembaca diajak menyaksikan nasib tragis seorang pelacur yang berhadapan dengan kematian.

Anjani, pelacur yang mati karena diperkosa itu sangat menyukai angka genap. (2025:9)

Tidak ada yang Anjani ingat kecuali rasa sakit yang terasa di sekujur tubuhnya.  (2025:10)

Jein tidak menempatkan tokohnya sebagai “pemain tambahan” saja, melainkan sebagai manusia dengan tubuh yang menyimpan rangkaian kekerasan, penolakan, dan kesepian yang berlapis-lapis.

Sementara, dalam Twitter Titha: Secerpen Thread, Jein menggunakan majas personifikasi terhadap benda mati. Ponsel dihadirkan sebagai narator yang jujur dan bernyawa untuk menyingkap tragedi yang menimpa Titha.

Sebelum itu terjadi, saya membuat thread ini. sekalian memberi pesan “Bangsat, kau!” kepada Jimmy. Untuk ponsel lain, kita ini pintar. Persetan dengan etika pergawaian. Tunjukkan hati nuranimu yang tertutup baterai itu. (2025:8)

Pilihan sudut pandang ini mempertegas bagaimana kekerasan dan duka kerap disaksikan oleh benda-benda yang kita anggap remeh dalam keseharian, semacam “saksi bisu” begitu.

Dari ketiga cerpen tersebut, saya merasa Jein seolah mengingatkan kita bahwa apa yang berusaha kita lupakan justru berpotensi menjadi bayangan yang paling mengerikan.

Menariknya, Jein menghadirkan ingatan-ingatan kelam itu melalui seks. Bagi Jein, seks bukan semata aktivitas untuk menyatukan dua jiwa, melainkan lorong gelap tempat tubuh dipahami. Tubuh menjadi teks yang dibaca secara paksa, dan jujur saja membuat saya sebagai pembaca ikut merasakan sesak dan kengerian para tokohnya.

Alasan kedua, ketika masuk ke dalam imajinasi Jein, saya membayangkan sebuah labirin emosional yang membelit pembaca di setiap cerita-ceritanya. Misalnya dalam Lukisan Petani dalam Mimpi. Kisah ini dimulai oleh romantisme ingatan yang lama terkubur dalam diri tokoh utama. Ingatan itu awalnya seolah menjanjikan keselamatan, namun ketika cerita bergerak menuju akhir, Jein justru mengubahnya menjadi kegelapan yang benar-benar gelap.

Dalam cerpen Apa yang Kau Lupakan Hari Ini?, saya menghayati pengalaman yang jauh lebih intim. Di ambang kematian, ketakutan dan kepanikan seolah bukan datang dalam kehangatan yang menenangkan. Kematian tidak lagi tampak sebagai musuh, tapi sebagai teman saja. Bahkan ketika cerita bergerak ke wilayah penyimpangan, nuansa emosional itu tidak menghilang, justru tetap nyala seperti dalam cerpen-cerpen seperti Godphobia, Hikayat Olive, dan Penangkal Dewi Fortuna.

Emosional yang saya maksud di sini terletak pada pemaknaan yang kabur, sengaja tidak dipertegas. Pembaca dibiarkan berjalan sendiri di lorong-lorong makna yang remang dan menggantung.

Lantas di mana letak penyesalan saya?

Saya menyesal karena setiap cerpen Jein terasa seperti membawa sesuatu yang retak, dan kita, pembaca, terjebak di dalam keretakan itu tanpa pernah benar-benar diselamatkan. Penyesalan itu tidak berhenti di sana. Menurut saya, setiap cerpen yang ditulis Jein menuntut ruang-ruang khusus untuk direnungi. Cerita-ceritanya tidak selesai saat halaman terakhir ditutup, tapi aftertaste-nya menuntut pembaca untuk tinggal lebih lama di dalam ketidaknyamanan yang ia ciptakan. Argh! Tydack! 

Buku ini berisi delapan belas cerita pendek yang menjadi jejak proses kreatif penulis sejak 2018 hingga 2024, dihimpun dari berbagai media massa. Tema besar antologi ini tentu adalah ingatan.  Dalam antologi ini, ingatan bekerja sebagai tempat rasa sakit dimunculkan dan selalu membawa luka yang sama.

Namun, Jein pun menulis buku ini sepertinya bukan sebagai penghakiman masa lalu benar atau salah, tapi ya cukup pengingat saja. Jein tidak menawarkan katarsis yang menenangkan, cukup ruang untuk mengakui kenyataan pahit tersebut.

Alasan ketiga barangkali berada di wilayah yang sekaligus menjadi kekurangan dan kelebihan antologi cerita pendek ini, dan karena itu layak diletakkan sebagai paragraf penutup. Alasan ini bersifat personal. Saya merasa cukup dekat dengannya, mungkin karena kami pernah berada dalam ruang yang sama, dan hampir seluruh cerita pendek dalam buku ini telah lebih dulu saya baca di media massa.

Karenanya, ketika membacanya kembali dalam bentuk buku, saya tidak merasakan kesegaran apa pun. Tapi justru di situlah keanehannya. Pemuatan cerpen-cerpen tersebut berlangsung dalam rentang waktu yang berbeda, bahkan sebagian sempat saya lupakan. Meski demikian, Jein berhasil menggedor ingatan saya dan mengajukan ulang pertanyaan yang sama seperti judul bukunya: barangkali selama ini saya hanya berusaha melupakan cerpen-cerpennya, sementara rasa ketika membacanya pertama kali dan hari ini tetap sama, tak pernah benar-benar hilang dari ingatan.

Author

  • Tegar TP

    Lahir di Cirebon. Seorang mahasiswa Ilmu Pemerintahan di Universitas Muhammadiyah Cirebon. Sejak 2020 aktif di Tjirebon Book Club dan Rumah Rengganis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You might also like