Menyeduh Air Mani

Malam ini aku lihat lagi Mama  menyeduh air di depan ponselnya yang menyala. Kata Mama, paman yang sedang video call bersamanya suka kalau Mama menyeduh air. Air yang Mama seduh katanya tidak panas, namun setiap kali Mama melakukan kegiatan itu, Mama sampai berkeringat, dan suara Mama terkadang seperti orang kepedasan, ya mungkin seperti orang kepedasan dan terengah–engah kehabisan napas.

Mama bilang kalau kegiatannya menyeduh air itu merupakan pekerjaan Mama, aku tak berani juga bertanya panjang lebar. Sepertinya memang sebuah pekerjaan, sebab setiap kali aku lihat Mama selesai menyeduh air, Mama terlihat lelah, dan setahuku orang dewasa kalau sudah bekerja pasti capek. Ya, Mama memang bekerja keras, sebab aku tak punya Bapak.

Setiap kali aku bertanya perkara Bapak, Mama selalu menjawab dengan nada gusar, “Bapakmu itu bajingan, penipu, kalau kamu besar nanti jangan jadi penipu.”

Sampai detik ini aku belum pernah melihat batang hidung bapakku. Kalau menurut Tante Neneng, ibunya teman sekolahku, bapakku ganteng, hidungnya mancung macam hidungku. Alisnya tebal, dagunya sama seperti daguku, terbelah. Kata Tante Neneng sih, bapakku keturunan Pakistan. Di benak anak kelas 3 SD sepertiku, membayangkan orang Pakistan itu seperti apa saja aku tak tahu.

Hampir setiap malam aku lihat mama menyeduh air di depan Hpnya. Dan yang aneh lagi kalau Om Banar di samping rumah hari minggu pasti libur bekerja, tapi tidak dengan mama. Mama selalu lebih semangat meyeduh air saat malam minggu. Katanya banyak paman – paman yang membayar mama di malam minggu.

Terkadang aku hanya terbaring miring membelakangi Mama saat bekerja. Aku juga sempat berpikir,

“Apakah Mama juga jualan minuman lewat HPnya?”

Sebab Tante Meli juga jualan es di depan rumahnya.

Tante Meli jualan es juga terkadang pegang HP, cuma tidak disandarkan  seperti Mama sekarang. Paling Tante Meli memainkannya di tangan. Satu lagi, Tante Meli memang keringatan saat menjual esnya di teras rumah, mungkin tante kepanasan, tapi Mama, apakah Mama juga kepanasan sampai membuka baju segala sambil menyeduh airnya? Sampai terlelap pun aku belum bisa menebak pekerjaan Mama.

“Ma, aku mau juga main hp biar bisa main game kayak Bagas.” rengekku keesokan paginya.

Mama terlihat lelah, dengan pakaian tidurnya yang hampir terbuka. Mata Mama mirip panda, sambil menguap Mama tersenyum kepadaku, “Hari Minggu besok kita beli HP baru buatmu.”

“Benar, Ma?” senyumku lebar.

Mama hanya mengangguk dan tersenyum capek.

Aku tak sabar akan menunggu hari minggu tiba. Akhirnya aku juga bisa main game bersama teman–teman yang lain.

Malam minggu ini Mama terlihat sangat cantik. Mata mamaku terlihat bersemangat, beberapa kali Mama melihat dirinya di cermin. Malam ini pasti Mama akan bekerja sangat keras. Aku berusaha tidak terkantuk, aku ingin melihat usaha keras mamaku dalam mewujudkan keinginan anaknya ini.

Mama mulai menghadap layar hpnya. Menyeduh air di depan paman–paman yang ada di ujung layar sana. Terkadang Mama tertawa, sesekali mengucapkan terima kasih, lalu menyetel lagu kesukaanya lalu menggoyang–goyangkan tubuhnya yang lentur. Mama terlihat sangat bersemangat, ya kata Ibu Guru setiap melakukan pekerjaan memang harus bersemangat, dan itu terlihat jelas pada mamaku.

Entah berapa kali mulut ini menguap, jam berapa ini aku tak tahu, mata  ini sempat melihat lirikan  Mama ke arahku, dan beliau tersenyum. Berat sekali mata ini, tertutup pelan, lalu seketika terbuka lagi, terlelap lantas terbuka lagi. Aku berusaha untuk menemani Mama bekerja keras untuk membeli HP baruku besok.

Sampai akhirnya mata ini sudah terlelap, namun telingaku masih mendengar alunan lagu dari HP Mama. Sayup–sayup kudengar Mama seperti orang kelelahan lagi, napas Mama seperti orang memakan cabe yang banyak. Lantas mulut ini seperti orang mengingau, “Mama kuat ya kerjanya,” lirihku tanpa sadar. Suara Mama semakin bersemangat, aku berusaha melihat Mama menyeduh air untuk paman–paman di sana, samar–samar kelopak mataku yang sudah sendu ini melihat Mama melepaskan pakaiannya. Aku tersenyum dalam lelap, Mama begitu lelah dan berkeringat demi anaknya.

Aku sangat senang sekali, mama benar–benar membelikanku HP baru. Aku segera pergi ke rumah Bagas, hendak memamerkan HP baruku dan bermain game bersama. Kulihat ada Tante Neneng dan Tante Meli juga di rumah Bagas, tampaknya lagi ngobrol dengan Ibu Bagas.

“Wah HP baru ya. Siapa yang beli?” tanya Tante Meli.

“Mama,” jawabku gembira.

“Hebat ya mamanya bisa beli hp baru. Mamanya kerja apa sayang?” kali ini tante Neneng yang bertanya.

“Mama … jualan, Tante,” jawabku datar sambil tetap bermain game dengan Bagas.

“Jualan? Jualan apa sayang?” kali ini Ibu Bagas yang terlihat penasaran.

“Mama jualan air, kalau malam mama bikin air dan dijual lewat HP.” jawabku bersemangat.

“Air apa, Sayang?” Tante Neneng tak kalah penasaran.

“Kata Mama, Mama menyeduh air, lalu dijual ke orang–orang lewat hp.” jelasku lagi.

Tante Meli, Neneng, dan Ibu Bagas saling tatap. Sejurus kemudian mereka bertiga kompak tertawa. Aku tak tahu apa yang mereka tertawakan, itu adalah tertawa orang dewasa dan aku sebagai anak kecil hanya bisa bermain bahagia.

 

Sanggau, 23 Maret 2026

Author

  • Dodi Goyon

    Asal Bumi Daranante, Kalbar. Suka kucing dan menulis puisi sejak kelas 5 SD. Sudah menerbitkan buk Suara Azan Di Atas Kelenteng, Negosiasi
    Musang dan Seorang Gadis, Besar Mulut Besar Perut, Di Kasur, Burungku Bukan Pisangmu, Pusaka Tanah Batas. Instagram @dodi_goyon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
casibom | parmabet | roketbet | jojobet | jojobet giriş |