

Langit biru menjadi padam berselimut hitam
Titik air perlahan mulai jatuh, basahi bumi
Angin kerinduan temani kelabu
Debu berebut menari bersamanya
Sementara merpati meringkuk dalam sarang ilalangnya,
menunda sebar kabar yang dititipkan padanya.
Tanah bumi semakin cokelat menghitam:
di antara legam tanah berbaur deburan pasir.
Nestapa tak lain hanya menepi pada tuannya,
tak pernah benar-benar menetap.
Mereka pergi saat masanya selesai
Pun senang senda gurau.
Mereka memiliki masa dan ujiannya;
menjadi congkak atau sikap syukur.
Tuhan semesta alam,
Maha dari segala maha.
Arah hamba Kau simpan,
pada peta tak kasat mata.
Restuilah setiap langkah,
Dan keputusan yang hamba ambil.
Cilacap, 30 Juni 2026
Dengung langit malam lalu,
terpantau langka bercak gemintang.
Namun terurai corak petir saling sambar
Wangi khas tanah basah menyelinap masuk
Hingga tercium tak terhitung helaan napas
Ia berpadu tangis nirsuara
Sebab rasa yang layu tumbuh subur,
akibat angkuhmu selalu dirawat.
Singgasanamu terancam runtuh
Jika melawan tuan dalam dirimu sendiri
Meski demi kesejahteraan sang dewi pujaan.
Ikrar adalah sisa ucap berselimut aksara semu.
Membuat sesak hingga embun pagi menyembur
Nasib malang,
rupanya kau lebih bersiap untuk merobohkan kerajaanmu.
Cilacap, 30 Juni 2026
Olesan kuning semu oranye dilukis Tuhan,
Menggores anggun di dasar cakrawala.
Menjadi latar bagi layang-layang,
yang terbang tinggi menemani waktu senja.
Kuntul kecil terbang rapi berkelompok,
menuju rumah hangat bersama keluarga.
Setiap kepak sayapnya membawa harap:
persediaan makanan untuk menemani petang,
sebagai bekal mengais rezeki esok hari.
Tarhim, lantunan khas tradisi Islam, saling bersahut,
dikumandangkan sebelum azan Magrib.
Menjadi penanda menyambut petang,
khusyuk mengingat dan berzikir kepada-Nya.
Cilacap, 1 Juli 2026
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!