

Beberapa hari belakangan ini hujan selalu menghampiri bumi. Mungkin barangkali hujan tengah berdiskusi panjang dengan bumi hingga lupa waktu. Ibu pun jadi sering berbicara pada pakaian yang tak kunjung kering, Bapak pun menjadi lebih sering mengopi dengan jaket tebalnya di depan televisi. Aku sendiri tidak bisa bersinar cerah dan hangat seperti biasanya.
Bapak dan Ibu memberiku nama Mentari. Ibu mengatakan aku lahir di hari hujan yang berkepanjangan seperti belakangan ini. Oleh karena itu Bapak memberiku nama Mentari, agar matahari yang hangat itu juga ikut datang bersama hari kelahiranku. Seperti kata pepatah, nama itu adalah doa. Mentari yang cerah pun mulai kembali bersamaan dengan hari kelahiranku.
Aku selalu membanggakan cerita ini pada orang-orang di sekitarku. Ya walaupun tidak banyak orang yang aku temui di usiaku saat ini. Bisa dibilang mereka yang aku temui sudah bosan dengan cerita mentari yang cerah ini. Dari sorot mata mereka aku bisa menebak apa yang mereka pikirkan “Namaku tidak sesuai dengan diriku”.
Tapi ada satu sorot mata yang berbeda. Sorot mata itu selalu konsisten pada tempatnya. Sorot mata itu selalu tersenyum padaku. Sorot mata yang selalu duduk di sampingku, sembari mengusap rambutku yang sudah muncul sehelai dua helai uban. Itu terasa hangat. Sungguh aneh, padahal aku adalah mentari, tapi ada yang lebih hangat dibandingkan diriku. Atau mungkin aku yang sudah kehilangan hangatnya mentari?
“Mentari!”
Aku kenal dengan suara ini. Itu dia, Pagi. Pagi yang selalu aku nantikan kedatangannya. Aku berlari keluar dari kamarku menuju taman di belakang rumah. Ini adalah tempat favoritku dan orang rumah pun tahu ini adalah ruang pribadiku. Saat Pagi datang, mereka pun akan membiarkanku menghabiskan waktu dengan Pagi. Mereka tahu Pagi adalah sahabatku.
Bagiku, Pagi lebih dari seorang sahabat. Dia selalu mengerti aku dan aku juga selalu mengerti dia. Sorot matanya selalu tulus dan aku tahu dia tidak pernah berbohong padaku. Dia selalu bersemangat mendengarku bercerita tentang mentari yang hangat. Dia pun bisa merasakan kehangatanku. Kami sangat cocok, Mentari dan Pagi.
Seperti namanya, Pagi selalu datang di pagi hari. Aku pun sudah hafal dengan jam kedatangannya. Sebenarnya aku ingin selalu terus bersamanya, tapi laki-laki berjas putih itu selalu datang mengganggu waktu kami dan akhirnya memisahkan kami berdua.
Laki-laki itu mengatakan, “Ini sudah saatnya Pagi pulang karena Siang sudah datang.”
Aku tidak menyukai laki-laki berjas putih itu, tapi aku tidak membencinya. Lebih tepatnya aku tidak boleh dan tidak bisa membenci laki-laki itu. Sebelum aku kenal dengan sahabatku Pagi, laki-laki ini adalah orang yang selalu kutemui dan dia juga paling sabar mendengar ceritaku. Ya, walaupun sorot matanya juga tidak bisa berbohong, tapi aku tahu dia adalah orang yang baik.
Laki-laki berjas putih ini selalu datang di siang hari. Dia akan menggantikan Pagi untuk menjadi pendengar ceritaku. Aku tidak tahu entah mengapa setiap kali aku bercerita dengan laki-laki ini, rasa kantuk diriku tidak tertahankan. Padahal aku tidak meminum atau menghirup apapun yang bisa membuat tertidur. Awalnya aku kesal karena seperti diberikan obat tidur, tapi lama kelamaan aku tidak mempermasalahkannya. Aku akan tertidur dengan lelap karenanya. Laki-laki berjas putih ini sudah lama tahu jika aku memiliki gangguan tidur.
Sekilas aku mendengar percakapan antara laki-laki berjas putih itu dengan ibuku. “Pagi memang memberikan banyak perubahan padanya, tapi jika dibiarkan terlalu lama itu akan berdampak buruk kedepannya.”
Kenapa laki-laki berjas putih itu selalu ingin memisahkanku dengan Pagi? Aku ingin bertanya padanya, aku ingin teriak padanya dengan penuh kebencian yang aku pendam, aku ingin … aku ingin …
Ah! sepertinya rasa kantuk ini mengalahkan semua amarahku pada laki-laki berjas putih itu. Aku harus tidur.
Aku tertidur lelap. Ketika lelapku sudah berangsur pergi maka itu saatnya aku bertemu dengan Pagi lagi. Aku akan mengadukan ini semua pada Pagi. Pagi pasti akan ikut marah pada laki-laki berjas putih itu. Pagi pasti akan membelaku. Aku tidak ingin berpisah dengan sahabatku Pagi. Aku tidak ingin kehilangan siapapun lagi, seperti aku kehilangan nyawa yang ada di dalam perutku dulu.
Ah, aku teringat sesuatu. Nyawa itu, apakah dia benar-benar melihatku di atas sana sekarang? Bapak selalu mengatakan itu padaku. Aku benar-benar malu pada nyawa kecil itu. Nyawa itu, mentariku, duniaku, buah hatiku yang tak sempat aku panggil namanya di dunia ini.
Lulusan S1 Sastra Indonesia. Lahir di sebuah desa kecil Sumatera Barat, membuatnya berkeinginan besar merasakan mengelilingi dunia dengan tulisan-tulisannya. Senang berbagi dan mendengar cerita lewat Instagram @dinyaprilisyanda
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!