Di Antara Kejutan-kejutan Menjelang Pilpres 2019

Akhir-akhir ini seisi negeri sedang dirundung duka mendalam. Ada banyaknya tragedi, musibah, dan bencana. Belum lagi sederet masalah-masalah kemanusiaan. Sejak bulan lalu solidaritas kita sebagai sebuah bangsa diuji. Sejak meletusnya gunung Agung di Bali, gempa di Lombok, kemudian Haringga.

Kini bencana datang lagi. Gempa dan Tsunami meluluhlantakkan Palu dan Donggala di Sulawesi Tengah, dan yang paling akhir meletusnya gunung Soputan di Sulawesi Utara.

Masing-masing meminta korban lebih dari angka yang sanggup mengejutkan kita.

Tapi di tengah-tengah duka yang dalam tersebut, nyatanya kita masih bisa dikejutkan lagi. Tak lain dan tak bukan, kabar penganiayaan yang dialami Ratna Sarumpaet; yang pada awalnya mengaku dipukuli oleh sejumlah orang di sekitar bandara Husein Sastranegara.

Di awal kejadian itu memanen banyak simpati dari orang-orang terdekatnya, juga dari pasangan capres-cawapres Prabowo-Sandi beserta jajarannya. Sampai mereka turut menggelar konferensi pers mengenai dukungannya terhadap Ratna Sarumpaet agar kasus penganiayaannya diusut tuntas, sambil tak lupa menganggap pemerintah telah melakukan pembunuhan terhadap demokrasi.

Urusan menjadi serius.

Namun tak lama setelah kabar penganiayaan dirinya di berbagai media tersebar dan mendapat perhatian publik, nyatanya ia kembali mengejutkan kita dengan konferensi pers berisi pengakuannya sebagai “Pembuat hoaks terhebat”.

Tentu ini menjadi coreng hitam bagi orang-orang yang sejak awal mati-matian membelanya. Juga menjadi bahan bakar olok-olok bagi yang sejak awal sudah tidak menyukainya. Saling lempar hujatan pun ramai kembali.

Selain urusan demokrasi olok-olok ini, di sini paling tidak kita bisa melihat satu hal. Betapa rendahnya budaya klarifikasi di kalangan elit politik kita. Maksudku, semudah itukah orang sekelas pasangan capres-cawapres yang kelak akan memimpin bangsa ini dibohongi?

Kini berdasarkan pengembangan pemberitaan yang ada, orang-orang yang sejak awal membela Ratna justru berbalik melaporkannya ke pihak kepolisian.

Apakah ini bentuk ingin mencuci tangan dari tindakan penyebaran berita bohong yang mereka ramai-ramai gencarkan sebelumnya? Bagaimana apabila nyatanya RS tidak mengklarifikasi kebohongan yang dilakukannya? Akankah drama kebohongan ini akan terus berlanjut dan berkembang untuk terus-menerus menyasar pemerintah yang dalam hal ini rival mereka dalam Pilpres 2019 mendatang?

Lucunya lagi, pimpinan DPR yang seharusnya memahami duduk masalah tentang UU ini mereka santai sekali melanggar UU ITE yang mereka sah kan sendiri. Bayangkan bila ini akan menyangkut kepada perundangan-undangan yang lainnya yang mereka sah kan, jangan-jangan mereka sendiri tak paham betul apa yang dirumuskan dan apa yang disahkan?

Jawaban paling mudah atas semua ini ya… kumadinyawelah. Atau jawaban yang agak seriusnya: elit-elit politik kita berdemokrasi seperti sekelompok penjudi amatiran.

Bukannya apa-apa, sebagai anak muda dan bagian dari sebuah negara, saya merasa bingung dan khawatir. Betapa panjangnya durasi dagelan badut ini berjalan. Seolah-olah negara kita ini cuma panggung lawak saja.

Dari pilpres 2014 hingga saat ini, tak henti-hentinya kita dicekoki hal-hal receh yang mendangkalkan nalar dan menjauhkan kita dari memahami duduk permasalahan.

Kedukaan kita pada berbagai bencana yang terjadi belakangan ini akhirnya harus terbagi fokusnya dengan isu-isu panjang seperti “pembuat hoaks terhebat” ini.

Pada akhirnya di antara semua kecemasan dalam pusaran dagelan-dagelan  yang mengejutkan ini kita hanya punya satu pilihan akhir yang sulit dijalani.

Untuk memilih arus informasi yang ingin kita terima; membudayakan klarifikasi; menilai dampak dan manfaat pemberitaan-pemberitaan tertentu; menahan diri dari keriuhan adu wacana internet yang cepat berubah-ubah.

Yang mana dalam melakukan hal tersebut bakal memerlukan energi sangat besar untuk kami: generasi multitasking, yang hidup dengan membaca ebook sambil chattingan, mendengar musik, sekaligus ngintip instagram-story si doi.

Zaman yang mengubah kesan “pemimpin masa depan” yang penuh harapan, menjadi ungkapan yang penuh kecemasan seumur hidup.

Tiba-tiba teringat omongan Bung Besar Soekarno:

“Jika seorang anak muda usia 21-22 tahun tidak punya cita-cita untuk mengubah bangsanya, gunduli saja kepalanya!”

Aduh, Bung. Kalau sekarang-sekarang ini mikirin bangsa ini mah… gak usah nunggu digundul juga, rambut udah nyingkir duluan.

Profil Penulis

Egi Irawan
Egi Irawan
Aktif di Terasbuku