

Sudah empat belas hari Elis menunggu kabar tulisan yang ia kirim ke salah satu surat kabar di Medan. Selama itu pula wajahnya muram. Hingga dini hari itu, kesabarannya sudah tiba di ujung yang paling tipis.
“Ck.” ia mendecak pelan. Lalu mengumpat lirih, berulang-ulang, seperti berbicara kepada dirinya sendiri.
“Eee ... Anjing! Babi!” nama hewan itu diucapnya dua kali.
Kamar kos kami mendadak terasa lebih pengap. Ukurannya hanya tiga kali empat. Dua kasur tipis diletakkan berdempetan. Pakaian kotor menumpuk di ember dekat kamar mandi. Di lantai itu, kipas angin yang nyaris ringsek berputar pelan sambil mengeluarkan bunyi berdecit kecil.
Aku tidak mengajaknya bicara. Aku paling tahu Elis. Ia tidak benar-benar marah pada orang. Kemarahannya selalu berakhir di tubuhnya sendiri lalu mengendap di dada, dan naik perlahan seperti asam lambung kambuh.
Tulisan yang ia kirim dua pekan lalu belum juga dimuat. Padahal ia sudah hafal nama redakturnya, alamat kantornya, bahkan sudah juga membayangkan namanya akan tercetak di halaman sastra akhir pekan.
Namun seperti biasa, tak ada kabar. Penolakan atau penerimaan, semuanya tak ada. Menggantung begitu saja. Elis kembali menatap layar ponselnya yang retak di sudut kanan. Tidak ada notifikasi masuk.
“Ck.”
Kerutan di dahinya bertambah. Rambut panjang yang mulai menutup telinga tampak kusut seperti kumparan benang kusut.
Aku menyodorkan tembakau yang tinggal sedikit di plastik bening bekas, “Hisap dululah, Lis. Biar jangan terlalu kepikiran.”
Ia menerimanya tanpa bicara. Setelah papir terbakar, ia menarik dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan ke langit-langit kamar yang mulai menguning oleh tahun-tahun rokok murah.
Aku membuka pintu lebar-lebar agar udara masuk. Seketika aroma tumpukan sampah di depan samar-samar ikut masuk bersama angin malam. Setelah itu, aku duduk bersandar di dinding.
“Belum dibalas juga?”
Elis tertawa kecil. Pendek sekali. Lebih mirip bunyi orang mengejek dirinya sendiri.
“Dibaca pun kayaknya enggak.”
Aku tidak menjawab.
Dari luar sana terdengar suara kendaraan yang melaju. Aku menjangkau asbak yang berada di dekatnya.
“Elis,” kataku hati-hati, “Kerjaan di Batam itu masih ada katanya.”
Kali ini, Elis yang tidak menjawab.
“Aku serius. Gajinya lumayan. Daripada begini terus.”
“Ah, nanti sajalah itu. Aku gak cocok kerja begitu. Aku mau jadi penulis.”
Sebagai pegawai swasta, aku sering tidak mengerti cara berpikir orang seperti Elis. Padahal kami sama-sama tahu, gaji kerja di Batam kalau dikumpulkan lima bulan saja sudah cukup membeli gawai keluaran terbaru.
“Halah. Tidak juga kulihat tulisanmu itu.”
“Heboh kali kau, Cok.” Elis tersenyum tipis. “Aku gak mau hidup dalam cengkeraman kapitalisme.”
Saat ia mengucapkan itu, aku merasa dirinya seperti akademisi yang sering tampil berdebat di televisi.
“Aku tahu mana yang layak buat hidupku.”
Sejak kuliah, Elis memang gemar berkumpul dengan orang-orang yang bicara soal perubahan sosial, hak asasi manusia, masyarakat adat, sampai kekerasan seksual. Meski akhirnya drop out, aku selalu merasa ia pandai bicara. Dulu aku pernah merinding mendengar suaranya memecah jalanan lewat pengeras suara. Istilah-istilah asing dan isme-isme melompat begitu saja dari mulutnya seperti batu kecil yang dilempar bertubi-tubi.
Namun itu cerita lama. Sudah kusam. Sekarang semuanya berbeda. Menurutku sudah waktunya bekerja. Apa pun pekerjaannya. Setidaknya bisa makan tanpa berutang.
Meski begitu, terkadang aku juga iri kepadanya. Elis masih punya sesuatu yang diperjuangkan. Sedangkan aku, tiap pagi bangun hanya untuk bekerja, pulang dalam keadaan letih, lalu tidur sebelum hidup sempat kupikirkan terlalu jauh.
Dua bulan lalu aku mencicil motor baru. Uang mukanya hampir menghabiskan tabunganku sendiri, bahkan sampai sekarang aku masih menghitung-hitung uang bensin sebelum berangkat kerja. Namun hal-hal seperti itu tidak pernah kuceritakan kepada Elis.
Pembicaraan soal pekerjaan malam itu berlangsung hampir setengah jam. Selama itu pula aku berusaha menjaga perasaannya dengan tidak terlalu menunjukkan yang sudah kupunya setelah empat tahun bekerja.
Ketika pertama kali melihat motor itu terparkir di depan kos, Elis hanya melirik sebentar lalu masuk kamar tanpa banyak bicara.
“Ingat umur, Lis,” kataku pelan malam itu. “Dua tahun lagi kita tiga puluh. Kau gak resah dengan keadaan sekarang?”
“Lama-lama kau makin bijaksana ya, Lif. Kau bicara seolah kesempatan gak akan pernah datang padaku.” suaranya mulai meninggi. “Ini soal idealisme. Kau gak akan paham itu.”
“Jujur sajalah, Lis. Aku capek lihat hidupmu begini. Kadang untuk makan pun masih aku bantu.”
Aku hanya ingin membantu membuka pikirannya malam itu. Tidak ada bentakan. Tidak ada suara yang tinggi. Kami hanya bercerita sebagai karib.
Namun setelah malam itu sesuatu seperti berubah di antara kami. Elis lebih banyak diam. Terutama kepadaku, dan aku tidak benar-benar tahu mana yang lebih melukai dirinya omonganku, umur yang terus bertambah, atau hidup yang tak kunjung bergerak.
Suatu sore Elis duduk sendirian di depan pintu kos. Ia membawa bangku plastik merah yang dudukannya mulai retak. Celana pendeknya kusut. Kaos hitam yang dipakainya melar di bagian leher.
Di dekat kakinya ada gelas kopi hitam sasetan yang dibelah dua dan sepotong roti tawar yang mungkin disimpan sejak pagi. Aku baru pulang kerja ketika melihatnya. Ia membuang muka.
Langit sore sebenarnya cukup cerah. Namun kamar kos kami terasa seperti sedang menunggu hujan. Tidak ada percakapan. Aku juga tidak menawarkan tembakau seperti biasanya.
Hingga beberapa menit kemudian Prya datang.
“Halo, Bang Alif.”
“Dari mana kau?”
“Dari kos, Bang.”
Prya langsung menghampiri Elis. Ia membisikkan sesuatu pelan. Aku tidak mendengar jelas. Namun wajah Elis mendadak berubah.
“Apa sih? Lihatlah kondisi orang sekarang. Aku belum bisa untuk itu.”
“Tapi ini sudah mendesak, Bang. Aku juga bingung.”
Suara Prya pelan sekali. Seperti orang yang takut didengar tetangga kos.
Tiba-tiba Elis membanting gelas kopinya. Cairan hitam itu muncrat mengenai celanaku. “Kau ini kenapa?” kataku spontan. “Kau tengoklah ada orang di sini.”
“Diam sajalah kau. Bukan urusanmu.”
Tidak ada kata maaf. Aku menahan diri untuk tidak ikut marah. Setidaknya untuk sementara.
Prya tampak menunduk. Jemarinya saling menggenggam seperti sedang menahan sesuatu. Aku masuk ke kamar dan membiarkan mereka bertengkar di luar.
“Kau mau sampai kapan begini, Lis?”
Suara Prya terdengar pelan, tetapi cukup membuat Elis meledak.
Ia masuk ke kamar dan membanting pintu keras-keras. Emosiku yang sejak tadi kutahan mendadak pecah.
“Mau kau sebenarnya apa?” bentakku. “Kau kira ini kamarmu saja?”
Elis berdiri menatapku. Rahangnya mengeras.
“Kenapa? Gak suka kau? Jangan terlalu ikut campur hidup orang!”
Darahku naik ke kepala. Untuk tubuh Elis yang sekarang kurus dan berantakan, aku bahkan merasa bisa menjatuhkannya dalam sekali pukul. Begitu juga sebaliknya.
Prya buru-buru berdiri di tengah kami, “Sudahlah kalian.”
Napasnya terdengar gemetar. Kamar sempit itu tiba-tiba terasa asing.
Di luar, motor-motor lewat satu-satu di gang sempit. Suara keran air dari kamar sebelah terdengar samar. Entah mengapa semuanya terasa jauh. Prya lalu duduk perlahan di tepi kasur Elis.
“Aku telat dua bulan, Lis.”
Setelah itu sunyi. Kipas angin di lantai itu terus berputar sambil mengeluarkan bunyi berdecit kecil. Elis perlahan duduk di lantai. Kepalanya tertunduk. Rambut panjangnya jatuh menutupi wajah.
Untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, aku melihat ia benar-benar takut. Bukan takut berkelahi. Bukan takut miskin. Melainkan takut terhadap hidupnya sendiri.
Malam itu aku sadar, mungkin yang paling menakutkan dari usia tiga puluh bukanlah gagal menjadi apa-apa, bisa jadi kita tahu hidup terus berjalan sementara kita belum siap menjadi siapa-siapa.
Tinggal di Medan. Lebih sering menghabiskan malam di warung kopi dari pada tidur tepat waktu. Instagram @aku.zai
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!