Awal tahun lalu temanku mengomentari kehidupaan asmaraku. Katanya, hari gini, masa laki-laki diputusin? Pertanyaan retorik belaka. Meskipun bentuknya kelakar, kita tahu sebenarnya ini contoh kecil ‘stereotyping’ dan bagaimana pandangan umum relasi-relasi sosial berbasis gender terbentuk.

Cara kerja stereotip sepahamku adalah kotak-kotak kategori manusia yang terbangun oleh kesadaran moral tertentu masyarakatnya. Misalnya, jika kau lahir dengan ciri-ciri biologis laki-laki maka kamu wajib masuk dalam sebuah kategori ‘laki-laki’ yang disepakati oleh masyarakat tempatmu lahir dan tumbuh.

Nah, dalam kategori tersebutlah kamu akan dapati apa-yang-boleh dan apa-yang-tidak-boleh kamu lakukan, putuskan, bahkan pikirkan. Dari yang mulai paling sepele, sampai di tahap yang paling serius.

Dari persoalan laki-laki tidak boleh menangis dan perempuan semestinya tidak nembak cowok, sampai laki-laki boleh menggunakan tangannya untuk memimpin keluarga dan wanita selalu berada dalam posisi serba bingung.

Masalahnya adalah, apa yang dapat dilakukan ketika banyak orang (yang terpaksa masuk oleh keadaan) dalam kategori-kategori ini ternyata tidak cocok lagi dengan semua apa-yang-boleh dan apa-yang-tidak-boleh dalam kategori tersebut?

Misalnya, aku menangis ketika diputuskan. Aku tidak nyaman dengan joke-joke receh misoginis bapak-bapak di grup whatsapp.

Dalam tahap yang lebih serius ia akan mendorong bahkan memaksa orang-orang yang berada di luar setereotip tadi untuk masuk ke dalamnya. Ingat, memaksa. Awalnya laki-laki tidak boleh menangis, nantinya laki-laki tidak boleh mengadu ke polisi karena bijinya ditendang perempuan. Awalnya perempuan tidak perlu sekolah tinggi-tinggi, nantinya perempuan tidak boleh menendang biji laki-laki yang brengsek.

Meskipun permasalahan ini terkesan sepele, yang namanya stereotip akan menimbulkan diskriminasi. Baik laki-laki maupun perempuan, yang tidak dapat memenuhi peran sesuai stereotip gendernya, akan mengalami diskriminasi.

Sekarang aku mendapati dua persoalan. Persoalan pertama, betapa repotnya menjadi ‘laki-laki’ ideal—yang mana masalah itu ternyata malah membuka pintu masalah baru—persoalan kedua, menyikapi ketimpangan-ketimpangan relasi sosial berbasis gender dan kecenderungan seksual, berdasarkan data-data yang sudah disebutkan.

Di sisi lain ada feminisme; sesuatu yang akrab sekaligus asing. Dia akrab karena mengungkap lebih banyak dan lebih baik soal ketimpangan-ketimpangan dalam kehidupan sosial kita. Tapi juga asing karena di kehidupan sehari-hari kesetaraan gender adalah objek pembicaraan yang tidak menyenangkan.

Barangkali perasaan tidak menyenangkan itu timbul karena persepsi kita pada femenisme keliru. Jika kamu berpikir feminisme adalah soal ‘pemberontakan’ wanita saja, maka kau sudah salah duga. Bahkan jika kau mengira dirimu sebagai feminis sekali pun.

Feminisme hari ini kukira bukan lagi soal perempuan yang meminta hak-hak dasarnya sebagai manusia disetarakan dengan laki-laki. Ya, memang angka pelecehan seksual masih tinggi, pernikahan dini kerap merugikan pihak perempuan, dan pelecehan seksual kerap menjadikan pihak perempuan sebagai korban. Tapi feminisme lebih dari itu semua.

Feminisme pada akhirnya adalah ikhitar mengantisipasi atau melindungi diri dari penindasan berbasis gender. Well, memang sebegitu seriusnya sampai aku sendiri hampir tidak percaya bahwa suatu hari perjuangan ini akan berhasil. Meski begitu harapan harus terus ditegakkan. Dengan jalan ini, atau dengan jalan lain.

Hampir  setahun yang lalu seseorang bilang pada saya: “kayaknya kita musti berhenti di sini. Sayang saja gak cukup. Untuk mereka yang pacaran di usia kita, ada hitungan lain selain perasaan saja.”

Saya tidak sanggup menatap matanya. Rasanya ingin menangis saat itu juga. Ingin sekali. Tapi laki-laki bodoh di dalam kepala saya bilang: jangan nangis, anjing! Kita ini laki-laki.

Setelah proses putus baik-baik itu selesai, saya mengantarnya pulang. Kami saling mengucapkan “terima kasih untuk semuanya” sepanjang jalan. Saya memacu motor 30km/jam. Pelan sekali. Itu malam terakhir kami berpegang tangan, memeluk, dan saling mencium tangan. Saya tidak mau itu cepat berlalu.

Sepulang dari rumahnya saya kembali ke kosan. Malam itu saya tidak bisa tidur. Persetan dengan menjadi laki-laki. Kemudian saya menangis.

 

Profil Penulis

Ahmad Farid
Ahmad FaridMuda dan tak berdaya. Hiks~
Ketua kelas Nyimpang, pustakawan di @pustakaki, aktif di Forum Taman Baca Masyarakat, Gusdurian Purwakarta dan Sanggar Sastra Purwakarta.