Sudah beberapa lama ini saya ngga nulis hal-hal pribadi. Maklum, kerjaan lagi ada. Meski ngga pede untuk bilang banyak. Takut dikira lebay.

Begini, sejak awal tahun 2019 saya rajin merapal mantra yang sudah saya yakin-yakinkan: “saya bisa hidup berkecukupan dari kata dan teks”. Dengan kata lain, bisa hidup lebih dari sekadar bayar angsuran dari nulis.

Jujur, ini obsesi saya sejak dulu. Obsesi yang ironisnya tidak pernah jadi prioritas, karena selalu saya kompromikan. “Pengen fokus nulis tapi takut ngga bisa jadi duit,” selalu saja jadi bisikan paling taik, yang berdengung di pikiran saya kemarin-kemarin. Persepsi yang terbukti salah sama sekali. Dan saya akui sebagai lima kegoblokan ‘terbaik’ dalam hidup saya. Yang pertama apa ya? Sok-sok jadi libertarian ekstrem waktu kuliah mungkin?

Bangsat betul. Butuh puluhan tahun bagi saya untuk berani menempatkan tulisan (dan profesi nulis) sebagai tumpuan hidup. Padahal selama tahun-tahun tersebut, tulisan sudah membuktikan jasanya kepada saya.

Sebagai sesuatu yang komersil, kemampuan nulis bisa membantu saya bertahan di rimba kehidupan mahasiswa marxis kalengan saat itu. Ya, minimal dua tulisan yang naik di kolom opini Pasundan Ekspres tiap minggu bisa membantu saya meringankan cicilan utang ke warung dekat sekretariat. Senang rasanya. Belum lagi kalau diminta ngerjain tugas teman-teman sekelas. Lumayanlah buat bekal hidup barang seminggu.

Tulisan pula yang nyata-nyata membantu dapur rumah tangga saya tetap ngebul meski usaha saya yang lain megap-megap. Terutama di tahun 2015, sejak para kapitalis besar mulai ngelirik pasar kedai kopi Purwakarta, usaha saya mulai kelabakan. Saat itulah saya tiba di titik terendah dalam hidup saya di tahun 2016 – 2017. Masa terjahanam yang pernah saya rasakan bareng istri. Namun, lagi-lagi tulisanlah yang membantu saya bertahan. Pernah dari tulisan saya closing pendapatan satu bulan sebanyak 20 juta. Sedangkan kedai kopi saja tak pernah setinggi itu. Paling mentok sampai di angka 8 juta. Bagai bumi dan langit, kawan! Pedih!

Namun, bukti-bukti itu sebelumnya tak cukup untuk bikin saya berani menjadikan tulisan sebagai tumpuan. Itu yang saya sebut goblok. Ditambah, saya lulusan jurusan akuntansi yang tahu betul urusan ngitung duit. Gobloknya dua kali.

Setelah mencoba sadar sesadar-sadarnya, genap sudah putusan saya. Nulis, tok! Saya ngga mau kegoblokan ini berlanjut, apalagi sampai diwariskan sampai bergenerasi segala.

Pikiran itu lalu saya coba sampaikan ke istri. Alasannya saya buat semeyakinkan mungkin. Saya bilang, berkali-kali kerja formal, tapi upah tidak pernah sampai kualifikasi layak seperti kata Marx: sama ena sama banya. “Hmm”, kata dia. Lalu, saya juga bilang: sudah pernah bisnis ratusan juta dan selalu nyungsep. “Hmm,” lagi respon dia.

“Di antara dua pilihan ekstrem itu, ya kayaknya mending bisnis sendiri tapi tidak dengan modal ratusan juta,” tandas saya.

“Wah, bagaiaman itu?” tanya istri saya penasaran, terkejut dan terheran-heran.

“Nulis!” Jawab saya yakin. Selanjutnya, istri mengukur risiko dari sudut pandangnya sebagai ‘komandan’ dapur.

“Tapi, bisa bayar angsuran, Ba?”

“Bisa”

“Bisa buat makan sehari-hari?”

“Bisa”

“Buat bayar listrik dan kebersihan?”

“Aman!”

“Buat belanja baju dan kebutuhan lebaran?”

“Kalem.” Saya mulai terganggu interogasi gaya-gaya MOSSAD ini. Saya harus pungkas ini semua. “Semua bisa. Termasuk urusan riya’ dan tambah istri!” Seru saya.

Dia nyengir. Lalu anteng lagi di layar handphone-nya. Main game. Saya pun lanjut nulis naskah lagi dengan damai.

Profil Penulis

Widdy Apriandi
Widdy Apriandi
Penulis adalah suami siaga, barista dan kerja apa saja yang penting asoy