Mengulik Patriarki dan Ketidakadilan melalui Dracin

Kamu suka nonton dracin?

Kalau iya, tos dulu.

Tokoh utama pria tampan dan tokoh utama wanita cantik memang selalu jadi ikon utama dalam dracin. Kondisinya pun berfokus pada kehidupan mewah CEO perusahaan besar, kerajaan dengan banyak pelayan, atau bahkan reinkarnasi seseorang untuk mengubah nasibnya.

Biasanya, awal ceritanya begini:

Tokoh utama menyedihkan -> lalu muncul teh hijau (villain) -> tokoh utama tersakiti -> fakta terungkap -> teh hijau mendapat balasan atas tingkahnya -> tokoh utama bahagia

Bagian yang menurut saya paling seru dari sebuah drama China (dracin) adalah kemunculan tokoh-tokoh figuran yang berisik. Mereka sering kali mengomentari pertikaian antara tokoh utama protagonis dan tokoh utama antagonis. Kehadiran mereka memang bukan penentu jalan cerita dan sekadar tim hore saja, tetapi sukses mewakili penonton yang geregetan seperti saya. Hihi.

Dracin pun tidak dapat dipisahkan dari yang namanya patriarki. Sebuah sistem sosial yang menggambarkan laki-laki sebagai pemegang atau dominasi utama dari kekuasaan, politik, pengambilan keputusan, bahkan penguasaan harta. Jika saja membicarakan Dracin dengan genre kolosal kerajaan, maka lumrah seorang raja/kaisar adalah pemegang kendali utama di istana dan semua wilayah kerajaan. Begitu pula dalam dracin berlatar perkantoran, sosok CEO biasanya menjadi tokoh yang paling dominan.

Dracin yang berlatar keluarga sederhana pun sering menampilkan dominasi tokoh laki-laki. Akibatnya, tokoh perempuan atau anggota keluarga lain kerap menjadi pihak yang dirugikan. Misalnya, dracin pendek berjudul “Transmigrasi Bareng Bestie Gaspol Operasi Kabur dan Cerai”.

Tokoh utamanya adalah Rong Ying yang menikah dengan Han Minghuan, putra pertama keluarga Han. Sahabatnya, Shen Seng, menikah dengan Han Xuyan, putra kedua. Sementara itu, tokoh antagonis Bai Zhiqing menikah dengan Han Wenwang, putra ketiga yang menjadi anak kesayangan keluarga.

Han Wenwang digambarkan sebagai anak paling cerdas sehingga kedua kakaknya harus bekerja keras demi membiayai pendidikannya. Perlakuan orang tua terhadap ketiga anaknya pun berbeda. Agak keterlaluan juga melihat pembedaan untuk anak kandung dalam hal makanan, terutama melihat tayangan Han Minghuan dan Han Xuyan yang terharu karena diberikan istri-istrinya telur rebus. Telur rebus ini menurut mereka hanya diberikan untuk Han Wenwang yang nantinya menjadi kebanggaan keluarga.

Patriarki dalam cerita ini semakin terlihat melalui keputusan si ayah. Meskipun istrinya memperlakukan anak-anak mereka secara tidak adil, keputusan akhir tetap berada di tangan kepala keluarga. Ketika Han Minghuan dan Han Xuyan meminta izin untuk hidup terpisah, si ayah langsung menolak. Sebab jika mereka keluar dari rumah, tidak ada lagi yang akan membiayai sekolah Han Wenwang. Sabar ya anak pertama :’)

Selain itu, pendidikan laki-laki selalu diprioritaskan dibandingkan perempuan. Rong Ying berkali-kali diremehkan ketika ingin mengikuti ujian guru hanya karena ia seorang perempuan. Untungnya, seperti kebanyakan tokoh utama dracin, Rong Ying mampu membuktikan kemampuannya dan meraih kesuksesan.

Rekomendasi berikutnya adalah “Reinkarnasi Balas Dendam, Hancurkan Putri Palsu”. Saya suka dracin ini karena aksi balas dendam yang memuaskan.

Qin Lan sejak lahir tertukar dengan bayi lain bernama Qin Shuyou. Selama 18 tahun, Lanlan hidup menderita bersama keluarga angkatnya di desa. Sebaliknya, Shuyou menikmati kehidupan berkecukupan sebagai putri keluarga Qin.

Setelah meninggal akibat dibunuh keluarganya sendiri karena fitnah Shuyou, Lanlan terlahir kembali. Ia kembali ke keluarga kandungnya dengan membawa seluruh ingatan masa lalu.

Ironisnya, kepulangannya tidak disambut hangat. Sang ibu bahkan tidak memeluknya, sementara kakak laki-lakinya langsung menamparnya tanpa mencari tahu keadaan yang sebenarnya.

Lanlan kemudian menunjukkan surat keterangan dokter yang menjelaskan trauma berat yang ia alami. Barulah sang ibu tersadar, menampar balik putra sulungnya, lalu memaksanya meminta maaf kepada Lanlan.

Konflik semakin memanas ketika Shuyou tetap bersikap seolah-olah dialah putri kandung keluarga Qin. Berbeda dengan tokoh utama dracin pada umumnya yang sering menangis atau mengalah, Lanlan justru langsung membalas perlakuan buruk Shuyou. Tamparan demi tamparan membuat penonton merasa puas karena tokoh utama tidak mudah ditindas.

Sikap patriarki dalam cerita ini juga terlihat dari keputusan sang ayah. Jabatan manajer perusahaan diberikan kepada Shuyou, sedangkan Qin Lan ditempatkan sebagai staf administrasi. Posisi tersebut membuat Shuyou semakin semena-mena. Namun, Qin Lan terus melawan hingga seluruh kebohongan Shuyou akhirnya terbongkar.

Pada akhir cerita, Qin Lan mendapatkan kembali kasih sayang orang tua dan kakak laki-lakinya yang selama ini dirampas oleh kebohongan Shuyou.

Dracin terakhir sekaligus yang paling membuat emosi berjudul “He Flirted with Another to Make Her Jealous” atau “Dia Menggoda Orang Lain Supaya Dia Cemburu”

Cerita ini berpusat pada Sishi yang kehilangan ibunya. Setelah itu, ia mengetahui bahwa ayahnya berselingkuh dengan adik kandung mendiang ibunya sendiri. Ketika mengetahui perselingkuhan tersebut, sang bibi justru menganiaya Sishi hingga kehilangan pendengaran di telinga kirinya.

Masalah semakin menjadi waktu terjadi kebakaran besar. Sishi dituduh tidak menyelamatkan suaminya, Sin Shen, padahal kenyataannya ia juga berusaha menyelamatkan sang suami.

Kesalahpahaman itu dimanfaatkan oleh tokoh antagonis untuk merebut perhatian Sin Shen. Bukannya mencari kebenaran, Sin Shen justru sengaja bersikap mesra dengan perempuan lain demi menguji rasa cinta Sishi.

Yang paling membuat saya geregetan adalah ancaman perceraian yang sudah dilontarkan sebanyak 99 kali, tetapi selalu dibatalkan. Ancaman itu terasa seperti permainan psikologis yang melelahkan bagi Sishi, atau bagi saya.

Barulah ketika ancaman perceraian yang ke-100 benar-benar disetujui, Sin Shen panik dan menyadari bahwa ia akan kehilangan istrinya. Setelah seluruh kebohongan antagonis terbongkar, Sin Shen berusaha mendapatkan kembali hati Sishi. Sayangnya, semuanya sudah terlambat.

Tokoh laki-laki merasa memiliki kuasa untuk memperlakukan pasangannya sesuka hati. Ketika perempuan akhirnya memilih pergi, barulah ia merasa menjadi korban yang paling menderita.

Untungnya, akhir cerita memberikan kepuasan bagi penonton. Sishi menemukan kebahagiaan bersama orang lain, sedangkan Sin Shen harus menjalani hidup dalam penyesalan.

Dracin merupakan tontonan yang saat ini paling banyak diminati. Banyak pelajaran berharga yang bisa didapatkan setelah menyaksikannya, kalau kita bisa bijak membaca fenomena tersebut tentu saja, terutama menyangkut patriarki dan ketidakadilan.

Melalui kisah-kisah tersebut, penonton diajak melihat bahwa laki-laki dan perempuan memiliki kedudukan yang sama. Perempuan juga berhak mengejar pendidikan, pekerjaan, serta mimpi yang mereka inginkan. Ketidakadilan yang masih sering terjadi di masyarakat seharusnya menjadi pengingat bahwa kesetaraan bukan sekadar tema dalam drama, melainkan nilai yang perlu diwujudkan dalam kehidupan nyata.

 

Bukunya yang sudah terbit diantanya Akar Kuning Nenek, Lima Sekawan, dan Sebelum Air Itu Berubah Wangi. Karyanya banyak dimuat di media online dan beberapa antologi bersama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!