Menggugat Euforia Prematur Pascasidang

Pintu ruang ujian terbuka. Seorang mahasiswa melangkah keluar dengan wajah lelah yang dipaksakan tersenyum. Belum sempat ia menarik napas panjang, belasan temannya sudah menyergap bak Paparazzi. Selamat (sebut nama), buket bunga seharga ratusan ribu dijejalkan ke pelukan, dan puncaknya: sebuah selempang berwarna bertuliskan nama lengkap beserta embel-embel “S.Pd.” dikalungkan dengan penuh kebanggaan. Ruang lorong atau halaman kampus mendadak riuh, berubah menjadi panggung perayaan kelulusan mini.

Jepret! Foto diunggah ke Instagram dengan takarir: “Selamat Officially S.Pd!”

Pemandangan ini sudah menjadi semacam ritual wajib di hampir seluruh kampus di Indonesia. Namun, jika kita mau sedikit menyingkap layar panggung euforia tersebut, ada sebuah ironi yang menggelitik atau mari sebut saja konyol.

Di dalam tas mahasiswa yang sedang tersenyum lebar dengan selempang gelar baru itu, tersimpan draf skripsi yang babak belur. Halamannya penuh dengan coretan tinta merah, catatan metodologi yang harus dirombak, teori yang harus ditambahkan, hingga kesimpulan yang dinilai penguji masih jauh dari kata layak.

Lalu, apa tepatnya yang sedang dirayakan dengan gelar yang bahkan belum sah secara de jure maupun de facto itu?

 

Dalih Self-Reward yang Kebablasan

Tentu, akan selalu ada tameng pembelaan dari para penganut budaya ini. Bisa jadi, ada yang nyeletuk,

“Ya wajar dong selebrasi untuk dirayakan, kan ini bentuk apresiasi diri!”

Taruhlah Anda adalah golongan mahasiswa yang alhamdulillah keluar ruangan tanpa revisi berarti, atau paling banter cuma revisi minor—sekadar typo dan urusan teknis remeh-temeh lainnya. Jika rasa lega itu akhirnya mendorong Anda untuk menormalisasi kesenangan dengan perayaan meriah semacam itu, it’s okay, tidak apa-apa. Saya juga sangat menyadari betapa melegakannya momen tersebut.

Ada tapinya. Itu terjadi di Anda, tidak di mahasiswa lainnya.

Mungkin mari pakai saya sendiri saja sebagai contoh biar gampang dan tidak ada pihak yang tersinggung penuh—nanti malah teriak asu di belakang. Haha.

Semisal saya keluar dari ruang sidang dengan vonis revisi mayor atau catatan rombakan bab yang segunung, jujur saja, dengan berjuta perasaan yang berkecamuk di hati, sepertinya saya tidak perlu memikirkan terlalu jauh untuk merayakannya ramai-ramai dengan spanduk dan selempang gelar. Perayaan secuil saja sudah cukup, yang penting hati gembira karena interogasi di ruang jagal sudah terlewati.

Terkait fenomena membenarkan perayaan semu ini, fisikawan Richard Feynman memberikan peringatan tajam

“Prinsip pertama adalah Anda tidak boleh membodohi diri sendiri—dan Andalah orang yang paling mudah dibodohi.”

Memakai selempang gelar saat skripsi masih berantakan adalah bentuk paling nyata dari membodohi diri sendiri. Gelar itu adalah produk akhir dari sebuah pertanggungjawaban ilmiah yang utuh, bukan sekadar souvenir karena telah berani menampakkan batang hidung di ruang sidang.

Yang pasti, saya masuk dalam golongan yang tidak akan melakukan hal tersebut: memakai selempang gelar sebelum semuanya benar-benar sah dan tuntas.

 

Meromantisasi Beban, Mengaburkan Realitas

Teman-teman yang datang membawa selempang dan spanduk selamat, entah sadar atau tidak, sedang menjerumuskan si mahasiswa ke dalam ilusi penyelesaian. Sambutan meriah itu menciptakan perasaan “I’m done”, padahal kenyataannya ia baru saja melangkah ke fase yang sering kali jauh lebih berdarah-darah: fase revisi.

Dalam dunia kepenulisan, sastrawan Ernest Hemingway memiliki pemeo yang sangat brutal namun jujur

“The first draft of anything is shit.”

Skripsi yang baru keluar dari ruang ujian, betapapun tebalnya, pada dasarnya adalah draf kasar yang baru saja dikuliti kekurangannya oleh penguji. Di sini letak bahayanya.

Banyak mahasiswa yang akhirnya terlena oleh perayaan prematur ini. Setelah mabuk kepayang dikalungi selempang dan mendapat ratusan ucapan selamat, motivasi untuk memoles draf kasar itu malah terjun bebas. Rasa urgensi hilang karena otak terlanjur menerima dopamin seolah-olah tugas akhir sudah final.

Akibatnya, revisi mangkrak dan mahasiswa yang kemarin fotonya berseliweran dengan selempang S.Pd., hari ini harus kucing-kucingan dengan dosen pembimbing karena revisian tak kunjung dikerjakan.

 

Pergeseran Makna: Memuja Simbol

Budaya ini sebenarnya adalah simtom dari penyakit kultural yang lebih besar yang memperlihatkan performatifnya kehidupan akademik kita saat ini. Fenomena “mabuk gelar” ini mengingatkan saya pada kritik pedas Mochtar Lubis dalam pidato yang diikrarkan pada 1977 dalam Manusia Indonesia.

Dalam risalahnya, Lubis secara tajam membedah watak buruk manusia Indonesia yang berjiwa feodal. Menurutnya, kita adalah masyarakat yang gila hormat dan gila gelar. Lebih suka memuja simbol status sosial ketimbang menghargai kualitas atau substansi dari sebuah pencapaian.

Kritik yang usianya nyaris setengah abad itu nyatanya masih berdenyut kencang di lorong-lorong kampus kita hari ini. Selempang gelar itu tak ubahnya jubah feodal gaya baru. Esensi dari ujian hasil atau ujian skripsi telah direduksi menjadi sekadar milestone estetik untuk konten media sosial. Proses begadang meriset jurnal, menyusun metodologi, hingga perdebatan intelektual di dalam ruang sidang, semuanya kalah penting dibandingkan pertanyaan,

Nanti keluar sidang, teman-teman bakal ngasih kejutan apa, ya?”

Memberikan selamat kepada teman yang baru selesai ujian adalah bentuk dukungan emosional yang wajar. Namun melabeli mereka dengan gelar sarjana ketika mereka masih memiliki tanggungan ilmiah adalah sebuah absurditas. Itu tidak ubahnya merayakan kemenangan sebelum peluit panjang ditiup, sementara tim lawan baru saja mencetak gol balasan.

Sudah saatnya kita mendudukkan kembali porsi perayaan ini pada tempatnya. Ucapkanlah selamat atas keberanian teman kita menghadapi penguji. Traktir mereka makan karena sudah memeras otak, tapi simpan dulu selempang gelar dan aneh-aneh itu. Biarkan ia tetap membumi dan sadar bahwa ada coretan penguji yang masih harus dijawab dengan kerja keras.

Gelar sarjana pendidikan itu terlalu berharga untuk disematkan secara prematur hanya demi memenuhi hasrat pamer yang dangkal. Toh, gelar itu tidak akan lari asalkan revisinya segera dikerjakan, bukan sekadar dipeluk bersama buket bunga.

Mahasiswa S1 TBINDO UIN Kediri. Seorang pecinta kopi hitam tanpa gula, penikmat sastra, dan suka kamu. Instagram @fahrzal.ensiklopedia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!