

Seorang tentara menodongkan senapan. Pelipis kiriku dikecup oleh mulut besi, dan dinginnya membekukan segala: laju darah, usia muda, dan pemberontakan, bahkan bumi pun seperti berhenti berputar.
Keberadaan waktu hanya ditandai oleh gemeretak bangkai oto yang terbakar, menjelma langkah malaikat maut yang menarik jaring berisi ratusan nyawa.
Di sampingku, berderet kawan seperjuangan berlutut sambil meratapi Ibu Pertiwi, menunggu giliran. Tak ada keraguan, tak ada rasa malu, yang ada hanyalah rindu―setidaknya, itu yang kurapal, walau hanya langit bermantel kepul asap mesiu yang mendengarnya.
Ada Ibu, Bapak, dan Adik.
Jepang baru datang dan mengusir Tuan Besar. Kali Jagir, sebagai cermin arus kehidupan kami, kehilangan kebijaksanaannya saat tak lagi memantulkan hijau yang permai, berganti pekatnya darah. Udara berduri, menusuk hidung dan tenggorokan. Pekerjaan raib, makanan sulit didapat, dan kulit kehilangan sandaran pada otot dan daging, membuat semua orang tampak seperti ranting kering yang tak sanggup menopang daun.
Bapak berjuang mati-matian dengan berjualan sirih, pinang, kapur, dan jambe, dibantu oleh ibu dan adik. Tingkah polos adik yang suka meniru laku burung mampu mengusir teror hari esok dari wajah manusia-manusia yang tak lagi punya alasan untuk bangun dari tidur malam, meski hanya sekejap. Dan, biasanya, dalam kesekejapan itulah timbul hasrat mereka untuk nginang, dan bercengkerama sejenak dalam ketidakpastian. Kadang, saat hasil dagangan tak bisa membeli beras atau singkong, aku dan bapak mancing di kali sampai malam, berharap ikan gabus bisa menopang tubuh kami sampai besok.
Kami makan di ruang tengah, duduk selonjor beralaskan tikar, sebelum nanti jadi tempat tidur bersama. Kami berbincang tentang apa pun, seringnya cerita waktu ibu dan bapak bertemu dulu, cerita yang sudah kami dengar ratusan kali. Tiap sampai tengah jalan, ibu melempar komentar remeh demi menutupi usaha gagalnya menghapus rona di pipi, seperti,
“Sudah, cepat habiskan, nanti tiwulnya dimakan setan.”
Bapak selalu berhasil mencairkan suasana, “Ya biar, mungkin setannya kelaparan, kasihan,” atau semacam itu, dan malam memberi jaminan akan mimpi indah.
Hari-hari kelam pendudukan, buat kami, serupa badai di kaki langit: guntur dan kilat menyalak di halaman, tapi amuknya tak benar-benar nyata. Rengek tetangga dan handai taulan tentang kekejaman dan kesemena-menaan terdengar seperti mitos di balik bedeng persegi beratap seng pinggir kali yang kami bagi dengan kodok, biawak, dan tikus sebagai tempat tinggal, dan kami bersyukur untuk itu.
Namun, tangan takdir tak bisa ditampik, dan petaka merangsek masuk ke jantung kehidupanku. Tak tanggung-tanggung, jari-jari tak kasat mata itu tak hanya merampas satu, tapi tiga sekaligus. Anehnya, ia datang saat biang badai telah beranjak pergi, menyerah pada jamur raksasa, dan kami sudah punya serdadu sendiri, juga bendera untuk dihormati.
Semua dimulai di satu sore hari Kamis. Dalam naungan kumandang azan maghrib, aku dapat kabar kalau adikku raib tanpa bekas. Para tetangga bersaksi kalau dia berlari kencang mengejar sesuatu dengan semangat, entah anak kucing atau layang-layang, ke arah rawa tenggara kampung; lainnya berkata kalau adikku terbang memakai kain jarit, berlagak bak bidadari atau burung dara; lainnya lagi berkata kalau dia berjalan ke kali di ujung timur bersama para tetangga, hendak menonton kemunculan buaya putih; semua penjelasan gagal mengembalikan pelita di mata Ibu.
Besoknya, hujan pertama jatuh setelah sebelas bulan absen, menyebar wangi pandan bercampur melati―dua tanaman kesukaan adik―yang tak kunjung luntur hingga dua puluh delapan hari, tepat ketika kami berhenti melakukan pencarian, tepat ketika Kali Jagir jadi pucat kelabu, dipenuhi air mata.
Bapak berhenti bangun pagi dan berjualan. Api dalam dadanya padam, mendinginkan darah, menghijaukan sulur-sulur nadi; satu-satunya yang hidup hanyalah kakinya. Bapak melangkah, seolah memberi maklumat bahwa dia tak menyerah. Bapak bergerak, walau itu seperti bukan kehendaknya sendiri. Bapak seperti tidur sepanjang waktu, dan di dalam mimpinya, dia sedang berziarah ke kuburan suci yang belum ada. Kalau Bapak hanyut dalam mimpi, Ibu berusaha membawa mimpinya ke dunia nyata.
Awalnya Ibu menemui seorang ulama dan bersujud lima belas menit tiap dua jam sekali. Di lain hari Ibu menyambangi dukun, berselimut asap dupa dan membisikkan mantra pada jin di sisinya, atau di bawah pohon beringin. Tak lama, bicara dengan dupa dan tulang ayam menggantikan zikir.
Tiap kali aku pulang mancing atau dari gugus perjuangan, Ibu menyipitkan mata saat menatapku, mengarahkan sangkaan yang dia dengar dari asap, dari dengung tongeret, atau dari anyir dan amis Kali Jagir yang berwarna keunguan, menebar atmosfer tipis yang mengelus bulu roma.
Di malam-malam saat aku masih terjaga, Ibu enggan tidur, duduk bersila di hadapan sesembahan dengan mata kering dan cekung yang semakin menjorok ke dalam. Dengan mata itu pula Ibu mengubur kehangatan rumah ke dasar kali, memperlakukannya sebagai tumbal pertukaran untuk kedatangan Adik. Seolah semua itu belum cukup, Ibu mulai melakukan ritual baru: memakan tanah basah di sekitaran rumah, dan membiarkan ikan bakar yang aku saji membusuk dan jadi santapan kucing, lalat, atau biawak.
Sebulan sebelas hari setelah kepergian Adik, Bapak menemukan situs bagi lawatan sucinya, dan Ibu berhasil membangun altar sakral dari dimensi lain, altar yang aku tak punya tempat di sana, dan aku kebingungan mencari definisi baru untuk pulang.
Bagiku, rentetan peristiwa itu berjalan lambat tapi tak tergapai, sesuatu yang muskil kupahami, seperti dunia yang muncul dari efek raksi lem kuning.
Lalu ada Gatot dan Tokek.
Tiap sore, aku dan anak sekitar berlari menuju lapangan balai desa. Di sana kami berdiri di luar pagar, menyaksikan penurunan Hinomaru[1]―bukan hendak menyesap patriotisme demi perang Asia Timur Raya, atau mensyukuri kedatangan Saudara Tua sebagai juru selamat, tapi berburu permen kacang usai upacara. Hadiah itu diberikan bagi siapa saja yang bisa menyanyikan Kimigayo[2], dan aku melakukannya dengan lantang bak prajurit tulen, lengkap dengan gerak jalan di tempat. Sebagian anak coba mengikuti, sebagian lagi membenci, dan Gatot dan Tokek berada di kelompok kedua.
Mereka datang waktu aku sedang mencari bekicot, sebab permen selalu kuberikan ke Adik, mereka berusaha merebut darinya, dan tangis Adik, yang berjarak sebelas lompatan engklek, membuatku melepas lauk makan malam. Seperti kerasukan setan kuning, aku menerjang si Tokek yang berbadan dua kali lebih besar.
Awalnya mereka berdua terkejut, tapi hasil akhir sudah jelas bahkan sebelum pertengkaran itu dimulai: aku babak belur dan kencing di celana. Kalau saja Adik tidak segera mengadu ke ibu, bisa jadi ampas singkong dan jambu tadi siang akan ikut keluar. Besoknya kami bertemu lagi di pertigaan sebelum balai desa. Air kencing sudah di ujung, kaki seperti menapak tanah gembur, tapi uluran tangan mereka mengembalikan ritme detak jantungku. Aku rasa, aksiku menyentuh sesuatu di lubuk jiwa mereka, meski itu tak pernah mereka akui. Sejak saat itu kami selalu berkelana bersama, menyisir area-area terlarang agar punya cerita untuk dibagi saat pulang ke rumah, yang dalam kasusku, seringkali berhadiah cubitan dan titik biru di kulit.
Selain balap keong dan memanjat pohon jambu, bermain perang-perangan di pinggir hutan atau gedung kosong jadi rutinitas kami. Bersembunyi di balik semak, memilah ranting atau dahan terbaik untuk senapan, dan menembaki serdadu Jepang dengan peluru khayal berhasil memenuhi dada kami dengan bunyi genderang, semacam pelepasan asing layaknya lompat ke kali dari jembatan. Tokek separuh tuli, rusuk Gatot retak, dan aku demam empat hari empat malam saat kami tertangkap basah tidaklah membuat kami berhenti melakukannya lagi.
Berbilang tahun kemudian irama itu mengabur, dan lamat-lamat menghilang. Setan kuning telah pergi. Bagi orang lain, tak ada lagi kesengsaraan dan kemelaratan; bagi kami, tak ada lagi cerita untuk dibagi. Apalagi, buatku, tragedi menjadi cerita baru yang tak tahu harus dibagi kepada siapa, sebuah instrumen pengurai kenaifan penuh warna menjadi monokrom―tak seharusnya anak kecil mengalami kehilangan sedemikian besar.
Kalau Bapak dan Ibu saja bisa berkurang menjadi dirinya sendiri, apalagi aku?
Kadang aku berharap seandainya bisa bertukar peran, alangkah lebih baik kalau akulah yang mengejar layang-layang itu, atau terbang serupa burung, atau bersemangat menonton buaya putih, dan tak harus menyaksikan rumah membeku dan membusuk, yang sering membangunkanku dari lelap sepanjang malam dengan keringat di sekujur tubuh.
Tak lama, biang badai lain datang. Momok tua bermantel baru hendak mengambil kembali haknya. Gaung genderang itu terdengar lagi, samar. Berselang-seling dengan bisikan klenik saat mengantar Ibu atau mencari Bapak saat tak pulang dua hari, aku menerima ajakan Gatot dan Tokek ke sebuah rumah gelap dan reyot dengan lumut menjalari dindingnya, milik seorang Cina yang diangkut oleh serdadu Jepang dan tak pernah kembali.
Di dalam, berlangsung sebuah pertemuan para pemuda dan orang tua yang bicara lantang meski berada di ruangan yang sama. Dari sana, aku dapat gelar pertamaku, yaitu “Bung”. Buat kopi, jadi pengawas, ambil dan bawa kabel, adalah tugas yang kulaksanakan dengan penuh semangat, sampai rentetan tembakan, geraman tank, dan lubang-lubang di dada menggores sketsa kasar rumah baru―sesuatu yang, akhirnya, aku tahu bernama Indonesia.
Pengiriman kawat radio menggantikan tugas remeh. Kepala tim berusia lima belas tahun, berjarak tiga tahun dari kami. Meski begitu, dia terlihat bak seorang kapten dengan perbawa melebihi Bima.
Satu waktu, di rimbunnya hutan Lakarsantri, kami terperangkap, dan dia mengajukan diri menjadi umpan agar kami bisa menyelinap dan mengantarkan pesan ke barisan cadangan di batas selatan. Kami tak pernah melihatnya lagi setelah itu. Pekik terakhirnya sebelum melesat pergi membuat tubuhku terjaga dan penuh energi bak memakan setengah lusin belimbing wuluh. Pekik itu juga yang terus kami kumandangkan sebagai pengingat akan keberaniannya, dan sejurus kemudian menjadi mantra yang semakin mempercepat tabuhan genderang.
Belum begitu paham bagaimana rupa rumah baruku, panggilan ke medan lain seperti menjanjikan makna baru bagi pulang. Hanya ada Ibu dan Kali Jagir di sini; keduanya tak lagi kukenali, serupa mimpi di siang bolong yang terlalu gamang diingat. Entah kenapa, aku merasa bahwa mengusir setan putih dan kroco-kroconya akan memberi cerita baru di antara tiwul kering, nyamuk, dan suara kodok; dan, semoga, aroma pandan dan melati tak lagi mengundang air mata.
Terakhir, ada Marni.
Kami baru saja keluar dari tepi desa Bajulan, Nganjuk. Sembilan hari tinggal di perbukitan, keinginan bertemu Panglima Besar belum kesampaian karena ada pesan yang harus segera dikirim. Tanpa ada kepala tim, kami bertiga bergerak dinamis: kadang berkelompok, kadang berjalan sendiri-sendiri menembus lebat hutan dan kebun. Seperti ajag, kami bisa menemukan satu sama lain di satu titik meski tak pernah kami rencanakan sebelumnya lewat bau. Aku yakin mereka yang menemukanku, bukan sebaliknya, karena waktu itu pun celanaku masih sering basah saat mendengar pekik atau kata-kata asing yang seperti diucap oleh orang sumbing.
Memasuki batas keresidenan Madiun, kami bertemu markas kelompok lain. Seperti markas-markas sebelumnya, bukan hanya ada laki-laki di sana, tapi juga ibu dan anak; yang satu menenteng senjata, satunya lagi mencari tebu, singkong, atau ubi. Rehat barang dua atau tiga malam kami di sana terganggu oleh patroli tentara musuh dan, nyaris tanpa perlawanan berarti, kami kocar-kacir menembus hutan.
Usai berlari semalam suntuk, paru-paruku serasa rontok dan kaki berubah jadi singkong rebus, dan akhirnya terlelap di bawah pokok jati. Paginya aku baru sadar ada beberapa orang lain yang bernasib sama, dan Marni salah satunya, terpisah dengan orang tua dan saudaranya. Selama lima purnama setelahnya, dengan lecet dan lepuh di kaki akibat menerjang bukit dan hutan yang tiada habisnya, aku menemukan penghiburan pada seorang Marni, membuatku lupa akan nasib dua begundal itu.
Sesampainya di Gunungkidul, kami diterima di sebuah tangsi pinggir hutan. Marni, yang dua tahun lebih tua, selalu menarikku dalam kesenyapan. Mata lindap, kulit cokelat penuh debu, dan raut tak berdayanya memberi irama lain pada tabuhan genderang. Bila datang waktunya makan, aku selalu berbagi dengannya, dan bercerita apa pun yang bisa kuceritakan. Dia diam, menatap kosong pada kaki gunung, atau pucuk pepohonan, tapi aku yakin dia menyimak―tak tahu kenapa, tapi aku sangat yakin. Mungkin karena aura hijau permai di tiap geraknya, atau raut wajah yang tenang nan dalam, mengingatkanku pada arus yang setia menyerap kelindan nasib. Semua perhatianku tak pernah berbalas, bahkan sekadar senyum pun tidak, tapi itu bukan masalah. Kenyataan bahwa dia memilih tidur di sampingku, terlepas dari adanya tangsi perempuan yang lebih baik kondisinya, sudah cukup memberi irama tabuh.
Delapan belas hari setelahnya, Tokek datang membawa kabar buruk: tubuh bagian atas Gatot hancur seperti tahu, terkena letusan mortir di batas kota. Aku kembali dipeluk aroma pandan dan melati, melahirkan gigil, dan tubuh basah oleh jejak mimpi buruk di malam-malam laknat. Seandainya saja aku bersama mereka di sana, mungkin ceritanya akan lain, mungkin Gatot bisa kuselamatkan, atau mungkin layang-layang itu bisa aku tangkap, mungkin Bapak tidak pergi ke antah berantah, mungkin Ibu masih merona di pipi, mungkin … dan mungkin …
Rangkaian kemungkinan di kepala enggan berhenti, terus berkobar oleh api penyesalan, menghanguskan kulit genderang. Didera tamparan kedua oleh jari-jari itu, aku bersandar pada kesunyian. Tubuhku tertindih langit, dan aku tak berani menatapnya.
Saat itulah, saat aku menyalahkan Ibu Pertiwi atas semuanya, Marni datang membawa suaranya. Ucapannya samar, tapi ada kehangatan mengekor setelahnya, serupa bara unggun di pagi hari. Aku diam, nyaman, dan menekur sampai gelap. Malamnya, aku serasa kembali ke rumah saat altar itu berdiri, yang memotong lelap meski tak sampai bangun, sebelum tangan Marni menggenggam tanganku dan pagi mengusir bayang-bayang hitam dalam sekejap.
Genggaman itu kembali bersenandung tiap kami menyendiri. Kesunyian menjelma nyanyian senyap yang nyaring, menumpang angin lembah yang membuat tajuk pepohonan menari-nari. Sesekali, mata kami bertemu, lalu tersenyum, sambil menerka-nerka maksud dunia dalam bahasa masing-masing. Bintang muncul di antara terik dan awan, lebih semarak dan indah ketimbang malam. Nyanyian itu masih tetap tinggal walau genggaman terlepas: saat mencari kayu bakar, saat ke sungai, atau saat aku ikut mendengar kabar dari medan perang di tangsi komando.
Di antara pepohonan, semak, dan prajurit yang terluka, aku melihat mata lindap itu mengalir tenang membelah kota asal, kota yang aku tinggalkan untuk menjadi tujuan, tapi Tokek, sekali lagi, membawa kabar buruk.
Kali ini aku ingat ucapan Marni: “Kamu siap mati demi orang mati?”
Aliran itu beriak, merubah hijau permainya ke warna yang belum punya nama, “Atau kamu berani hidup demi yang belum mati?”
Selangkanganku basah, tak berani membalas ucapannya. Aku hanya melangkah pergi.
Tokek memberiku pisau lapangan berkarat. Meski nanti kami tidak benar-benar berhadapan dengan musuh, tapi tak ada ruginya membawa senjata. Nama Gatot yang keluar dari bibir monyong Tokek menghalau keinginanku untuk balik badan. Kakiku tersuntik energi dari pekik laskar dan terpompa ke dada, lalu menabuh genderang yang terdengar begitu akrab. Kata pulang kini mulai berbentuk; sedikit bergradasi, sedikit berkabut, tapi lebih tampak ketimbang sebelumnya, meski ada rasa pahit di ujungnya. Bukan, bukan pahit, tapi ada semacam lipatan takdir yang memberi kejutan saat aku menyingkapnya.
Aku berhenti dan menoleh. Tak ada Marni di sana. Mimpi buruk seperti merayap di punggung, ingin segera tampil walau aku masih terjaga. Langit masih menindih, tapi aku berani menatapnya, berharap ada malaikat yang turun dan membimbingku ke jalan menuju pulang tanpa harus masuk ke neraka. Tapi aku bukan rasul, bukan nabi, dan langit masih angkuh seperti biasa. Pekik itu menyadarkanku, dan demi memompa darah ke seluruh tubuh, aku mengikuti, “Merdeka!”
Mengenang kenangan yang berkelebat bak kilatan badai, aku berusaha mengubahnya menjadi kenyataan dan berusaha mengucap selamat tinggal pada semua:
Aku melihat Bapak menyeret kakinya demi sebuah pencerahan. Aku melihat Ibu dalam belenggu mantra lanun dan dipaksa memakan tanah hitam dan basah. Aku melihat adikku terbang dengan kedua sayap mungil di punggungnya dan gelak imut di wajahnya. Aku melihat Gatot berlari menghindar dari kejaran musuh sambil tertawa keras, seolah berhasil menemukan jawaban dari segala pertanyaan. Aku juga melihat Marni, dengan mata lindap dan malu, menunggu sebuah kepastian pada gunung dan hutan. Semua terlihat nyata di depan mata, tapi ucapan itu tak pernah bisa melompati bibirku, yang kering dan lembab, yang bergetar dan tertelan.
Ketika suara-suara berhenti menjadi suara, dan semua gerak semesta tak lagi menjalani fungsinya, dan todongan moncong senapan bersiap-siap di kepala, aku bersimpuh memejamkan mata, berharap gelap ini tidak berlangsung selamanya, dan aku bisa pulang.
[1] Bendera Jepang
[2] Lagu kebangsaan Jepang
Rici Swanjaya lahir di Surabaya pada bulan Maret 1986. Gemar membaca sejak kecil, dan semasa kuliah mulai masuk ke ranah sastra, baik lokal maupun internasional. Dari sana, hasrat menulis fiksi mulai lahir dan tumbuh.
Menerbitkan novel berjudul “Awal Musim Kemarau” (Interlude Yogyakarta, 2019) dan “Burung Tanpa Kaki” (Penerbit JBS, 2025). Selama pandemi mencoba merambah ke naskah film, dan menghasilkan film pendek pertama berjudul “Koboi Berak” di tahun 2021. Menulis naskah film pendek lain seperti “Nyai Core” (Boomcraft Production) dan “Affection” (Mufis) di tahun 2023. Menginisiasi Kelas Mengarang Surabaya, bekerja sama dengan C2O Library & Collective di tahun 2023.
Sekarang masih bergelut di dunia penulisan, apa pun bentuknya.