I


Judul                           : Iaku, Buku Puisi

Penulis                         : Ari Kpin

Cetakan                       : September, 2018

Penerbit                       : Rumput Merah

ISBN                           : 978-602-60309-3-1

Jumlah Halaman          : 112 halaman + iv

“Memainkan not yang salah bukanlah hal yang fatal. Bermain tanpa hasrat, itu baru tak termaafkan.” Begitu kata Ludwig Van Beethoven, seorang komposer dari Jerman.

Seperti yang diketahui, sekarang di Indonesia tidak banyak penyair yang menonjol dengan cara pembawaan pembacaan puisinya. Yari Jomantara atau akrab disapa Ari Kpin muncul sebagai seorang sosok kharismatik yang dalam setiap penampilannya membawakan puisi dengan hasrat tersendiri agar maknanya bisa sampai kepada pendengar, lewat tampilan musik yang apik, yakni musikalisasi puisi. Ia mengakrabkan puisinya lewat musikalisasi.

Dalam buku kumpulan puisinya, Ari Kpin menulis 99 puisi dengan tema yang beragam, seperti percintaan, politik, alam, pertaubatan, kenangan, pengalaman hidup, dan kematian. Ia mampu membuat pembaca masuk kedalam imaji-imaji yang Ia coba hadirkan. Walaupun ada beberapa imaji yang dihadirkan tak sesederhana milik Sapardi. Ada beberapa diksi yang membuat imaji kita harus berpikir jauh untuk menemukan maknanya.

lewat cermin yang terpasang di dinding/ ia pandangi bayangannya sendiri/ sosok lelah dan menua/ sosokku

(“Iaku”, Ari Kpin)

“Iaku” merupakan salah satu puisi Ari Kpin yang berjudul tak biasa, diantara “Ayarkuosin”, “Ajiawa”, “Sestet Fa”, “Jah”, “Sepentina Jarjos”, “Ang” dan “Stanza GoCeng”, yang kemudian dijadikannya judul buku kumpulan puisinya. Hal menarik dalam puisi tersebut adalah adanya permainan sudut pandang yang tak wajar dipakai, yang menjadikan maknanya lebih mengena. Pada penggalan puisi di atas, seolah penyair menceritakan seseorang yang bukan dirinya karena memakai kata ganti Ia. Namun ternyata orang yang diceritakannya itu adalah dirinya sendiri karena diikuti larik sosoku.

Aku hanya ingin mengecup barusuhmu/ Bukan bibirmu/ Namun kau malah menggrimiskan kata-kata/ Meski muruhpuy tapi peureus/ Lalu aku nyiwit ceuli saeutik/ Sebab kulihat/ Hari gerimis masih ada poyannya/

(“Aku Hanya Ingin Mengecup” Ari Kpin)

Ari Kpin memiliki gaya khas dalam penulisan puisinya, karena tidak sedikit puisi yang ditulisnya disisipi diksi bahasa Sunda seperti, “Fragmen Nyamuk”, “Aku Hanya Ingin Mengecup”, “Iaku”, dan “Kuseduh Senyummu”. Puisinya seolah mengingatkan pembaca agar tetap melestarikan bahasa daerah, yang semakin bertambahnya waktu mengalami pergeseran dalam eksistensinya. Seolah mengajak kepada penyair, sastrawan dan musisi daerah agar membantu melestarikan bahasanya. Pembaca tidak perlu khawatir, untuk memaknai puisinya, terdapat catatan kaki yang memuat arti dari diksi bahasa Sunda yang disajikan.

Jika ditilik jeli terdapat pembalikan larik dalam puisinya Ari Kpin yang disebut sajak gema. Seperti pada puisi “Pengakuan Seorang Perempuan Terhadap Perempuan Lainnya”. Selain itu tersusun beberapa nama dan kalimat dalam pusinya Ari Kpin yang jika dibaca secara vertikal. Ia memainkan huruf kapital pada awal bait puisinya. Seperti puisi “Ajiawa” tersusun FADLAN FAIZ NURBAYAN, “Daun Kata” tersusun KARTINI FUJI ASTUSI dan pada puisi “Hari Baru Tanpamu” tersusun GIGIKU SUDAH MANDI HARI INI.

Puisi yang berhasil adalah puisi yang memiliki makna ganda (multitafsir). Dalam buku kumpulan puisi Iaku, di dalamnya terdapat kemultitafsiran makna.

Tak kau terima bungamu dibandingkan/ Kau pun akan marah/ Bila ia dilecehkan/

(“Raflesia, Ini Bukan Puisi”, Ari Kpin)

Berikut merupakan penggalan puisi yang berjudul “Raflesia, Ini bukan Puisi”. Didalamnya terdapat kemultitafsiran makna, yang bisa saja raflesia itu adalah bunga, disisi lain raflesia itu mengibaratkan seorang perempuan.

Bisa dikatakan buku ini berhasil membuat pembaca terkecoh akan makna yang tersirat di setiap puisinya. Ari Kpin berhasil mencurahkan segala kegundahan tentang kehidupan menggunakan perumpamaan yang tak biasa dan dengan sudut pandangnya yang berbeda. Jika pembaca ingin benar-benar mengetahu makna yang sebenarnya, maka mereka harus membedah puisi ini dengan menggunakan pisau analisis yang cocok. Seperti kata seorang penulis Indonesia, Deassy M. Destiani: “Dengan melihat, aku tahu. Dengan mendengar, aku mengerti. Dengan menjalani, aku paham.” ***(Paskal A.S Al-Habib)

Profil Penulis

Paskal A.S Al-Habib
Paskal A.S Al-Habib
Mahasiswa semester 7 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UPI. Dalam bidang kepenulisan, pernah menjabat sebagai sekretaris jenderal BSO Literat HIMA SATRASIA FPBS UPI.