Akhirnya Utami pergi tanpa pamit. Aku mencarinya ke seluruh bagian kota busuk ini karena tidak yakin gadis itu dapat menahan godaan bunuh diri. Dengan menumpang mobil butut pinjaman dari seorang teman, kutelusuri bagian-bagian kota yang selama ini tidak pernah kulewati.

Aku tidak terlalu yakin melakukan ini, tetapi sebagai laki-laki yang mengakibatkan dia datang ke kota ini dan berharap mendapatkanku sebagai suaminya, aku rasa akulah yang akan dimintai lebih banyak keterangan di kantor polisi jika saja Utami nanti bunuh diri. Dan bagiku, semua itu sangat kubenci. Pasalnya, Utami kemari bukan karena upaya menggoda yang kuperbuat, melainkan dorongan kedua orang tua kami. Inilah alasanku selalu membenci perjodohan.

Keterpaksaan ini menjadi siksaan tersendiri di kepalaku. Selama nyaris dua jam, di seluruh pojok-pojok tergelap, mobil yang kutumpangi berasa menyusut setiap detik, dan aku membayangkan bangku kemudi ini lama-lama dapat membuatku mati terjepit.

“Jika saja itu bisa terjadi, aku lebih suka mati terjepit ketimbang harus menemukan Utami mati tergantung di suatu pohon atau tiang jembatan!” pikirku seketika. Aku tahu itu agak kasar, tapi memang itulah yang dapat kuharapkan terjadi.

Tentu saja, aku masih menyayangi nyawaku sendiri dan tidak mungkin bunuh diri. Jika saja aku dapat hidup berpuluh-puluh tahun lagi, akan kuserahkan segalanya, asal tak ada kejadian mengerikan seperti menemukan jasad wanita yang kutolak secara halus hingga nekat menghabisi dirinya sendiri. Jika saja boleh berharap, yang terbaik yang bisa kuharapkan adalah Utami tidak perlu mati dan aku dapat melanjutkan kehidupanku seperti biasa.

Sayangnya, aku harus benar-benar memastikan apakah Utami memang tidak mati? Di kota busuk ini dia tidak punya seorang pun kenalan. Itu memang benar diakui secara langsung tepat sesampai dia di apartemenku kemarin pagi. Dan dari segala cerita ibuku yang sangat senang melihat betapa manis dan lembut kelakuan Utami, sehingga nyaris tak sabar agar kami segera dikawinkan, kutahu kalau Utami tidak pernah bepergian ke mana-mana. Ia bahkan tidak punya terlalu banyak teman di rumahnya.

“Gadis rumahan begitu itu yang Ibu suka!” kata ibuku suatu ketika. Aku tidak suka kenyataan ini, tapi toh tidak dapat membantah ucapan orang tua.

Aku jadi ingat kejadian beberapa tahun lalu, ketika seorang teman dijodohkan oleh orang tuanya, tetapi setelah setahun menikah, kehidupan rumah tangganya malah kacau. Dulu saja ketika awal-awal saling mengenal, si perempuan terlihat begitu anggun dan enak didengar, tapi lama-lama boroknya terbongkar juga. Dan aku merasa apa yang kini terjadi dalam perjodohanku, sifatnya tidak terlalu berbeda dengan apa yang temanku itu alami.

Tentu, aku tidak dapat membuktikan apakah dugaanku benar. Aku tidak tahu secara pasti apakah Utami jenis gadis yang suka cari muka di depan calon mertua idaman, atau apakah memang secara genetik dia terlahir sebagai perempuan lemah lembut dan enak didengar tutur katanya?

Pada dasarnya, aku hanya merasa tidak ada reaksi tertentu di dadaku, yang bisa kusebut cinta. Aku tidak jatuh cinta, dan kalau ini terjadi, aku tidak sanggup menyetujui apa pun yang dapat membawaku ke kursi pelaminan. Barangkali di suatu tempat, jika tanpa sengaja kutemui perempuan asing dan seketika itu juga aku bisa jatuh cinta, dapat saja kubayangkan aku menikah dengan wanita asing ini, sekalipun aku tidak pernah tahu asal-usulnya.

Memang begitulah diriku. Tidak ada cinta, sama artinya tidak ada pernikahan. Aku tidak ingin di masa yang akan datang tumbuh penyesalan karena soal begini. Sekalipun Utami tidak sejelek yang teman-temanku dapat pikirkan, aku tidak dapat menerimanya, hanya karena tidak ada perasaan itu.

Hanya saja, setelah mengerti prinsipku, Utami yang datang dengan harapan penuh itu, malah kabur dan kini terancam celaka di kota besar yang busuk. Dia jelas tidak tahu jalan pulang, dan kemungkinan bunuh diri itu akan selalu ada. Aku tidak sembarangan menilai seseorang dapat memutuskan sesuatu sekrusial itu, kalau bukan ucapan Utami sesaat sebelum dia lari meninggalkan apartemenku:

“Tahu begini, sebaiknya Utami mati saja!”

Aku tidak akan mencarinya dengan panik jika tidak ada kalimat itu. Barangkali aku tetap mencarinya, tetapi tidak sepanik ini, jika saja tidak disebut-sebut kata ‘mati’ di sana. Dan yang terjadi malah sebaliknya. Aku tahu aku harus berkejaran dengan waktu. Meski kondisiku sendiri sangat stress dan mengira mobil yang kutumpangi ini bakal menjepit tubuhku sampai mati, aku tetap harus menemukan Utami dan mengantarnya ke bandara agar bisa pulang ke rumah orang tuanya.

Keadaan Utami yang tak mengenal siapa-siapa di kota busuk ini memungkinkan beberapa peluang. Pertama, dia bisa tewas bunuh diri. Kedua, beberapa penjahat sangat mungkin melukainya. Aku kenal titik-titik rawan bajingan di beberapa tempat, yang aku harap tidak dilewati Utami dalam kesedihannya. Orang yang sedih sudah tidak mampu berpikir jernih, dan biasanya akan lari ke sarang harimau tanpa menyadari bahaya telah mengintai. Aku takut itulah yang Utami alami.

“Semoga saja kamu tidak ke tempat-tempat begitu, Utami, meski pikiranmu cukup terganggu dengan harapan yang tidak dapat kuberikan!” batinku berulang kali.

Setelah beberapa jam berikutnya, nyaris subuh, baru kutemukan Utami tergeletak tak berdaya di gang samping sebuah toko jamu. Aku takut setengah mati, karena boleh jadi dia memang bunuh diri dengan menenggak sesuatu, atau malah mati setelah diserbu perampok yang tidak hanya merebut harta bendanya, tetapi juga keperawanannya.

Aku agak lega ketika Utami membuka mata dan menepis tanganku, seraya berkata, “Pergi saja dari hidupku!” Aku agak lega mengetahui dia masih hidup dan dapat berbuat sekasar itu padaku. Okelah, aku pantas menerima itu, karena perjodohan ini semestinya tidak kulawan, jika mengingat hubungan baik antara orang tuaku dengan orang tua si Utami.

Begitu perempuan itu bangkit, aku mencoba mengarahkannya ke mobil butut yang kuparkir di bawah sebatang pohon mangga. Utami menolak naik mobilku, dan mengaku dapat pulang seorang diri menuju bandara.

“Tapi, kamu tidak tahu jalan!” kataku dengan gelisah.

“Wah, memangnya peduli apa kamu dengan saya? Kita sudah tidak mungkin kawin, bukan? Sebaiknya pulang dan cari perempuan lain yang kamu suka!”

Karena tidak yakin Utami dapat pergi dengan selamat sampai ke bandara, aku pun memutuskan meninggalkan mobil pinjamanku tadi, dan berjalan sejauh yang dapat dia tempuh. Aku rela melakukan ini demi terhindar dari masalah pelik. Mendadak saja aku tersadar akan sesuatu. Aku terus mengikuti ke mana langkah Utami ini bukan karena aku benar-benar cemas padanya, melainkan adalah agar aku terbebas dari tuduhan yang mungkin saja mengataiku sebagai lelaki tidak bertanggung jawab karena membiarkan si perempuan yang tidak dia cintai berkeliaran sampai celaka di kota asing. Fakta ini jelas membuatku tertekan.

Sampai di pojok jalan, di bawah tiang lampu merah, Utami berhenti dan melihatku dengan tatapan tajam. Dia bilang, aku harus meninggalkannya sendiri. Aku bilang, tidak bisa seperti itu.

“Lalu, mau kamu apa?”

“Saya antar dirimu ke bandara, dan saya akan pergi selamanya dari hidupmu!”

“Salah! Yang seharusnya berkata ‘saya akan pergi selamanya dari hidupmu‘ itu ya saya!” bantahnya dengan mata merah membara.

Aku perhatikan beberapa pejalan kaki memandangi kami dengan cara yang sangat tidak sopan. Akhirnya kutarik lengan Utami dengan sedikit memaksa, dan berharap dia tidak berteriak atau melawan. Syukurlah dia menurut. Setiba di mobil, Utami menurut juga ketika kuminta duduk di bangku depan, tepat di sampingku.

Setelah sekian menit mobil butut ini melaju, dengan tenang perempuan itu berkata, “Seandainya … seandainya saja, ya. Seandainya kita berada dalam posisi ini, tetapi suatu saat nanti, yang mana kita telah benar-benar menikah, apa yang kamu bisa bayangkan?”

“Saya tidak dapat membayangkan apa pun.”

“Bayangkan saja!”

Aku diam beberapa saat, dan menjawab, “Saya bayangkan kita bertengkar hebat di mobil ini, dan mungkin kendaraan yang kita tumpangi menabrak halte di depan sana.”

Utami meringis sinis saat kutunjuk sebuah halte yang hanya diduduki oleh seorang gadis kuliahan. Gadis itu tampak kurus kering dan entah menanti bus atau sekadar diam dan menyendiri karena tersangkut masalah asmara dengan pacarnya. Itu bukan urusan kami.

“Ada lagi?”

“Saya bayangkan kamu atau saya berteriak tentang perceraian, lalu kita berdebat soal siapa yang berhak merawat anak kita.”

Utami tampak puas, dan terlihat jauh lebih tenang dari semula. Setelah itu kami tak lagi bicara. Setiba di bandara, aku tak menduga ada kalimat terakhir dari gadis cantik itu, yang menyatakan betapa ia tak pernah benar-benar menyukaiku.

“Perjodohan ini juga tidak kuinginkan. Aku hanya sedikit menyesal tidak membuat hati ibu kita senang.”

“Aku juga,” kataku.

Setelah Utami berpaling, aku kembali ke apartemen dengan pemikiran yang malah jauh terbalik dari beberapa minggu sebelumnya. Penyesalan karena tidak bisa membuat hati ibu senang datang tepat setelah gadis yang dijodohkan denganku benar-benar pergi. Tentu, aku tidak berharap Utami kembali, tetapi aku berharap, jika saja jodohku datang dengan cara begini, semoga saja Tuhan menyediakan seseorang yang dapat menggugah perasaanku. Aku rasa itulah satu-satunya cara agar ibu dapat memberiku restu dan mau memaafkanku. Semoga saja. [ ]

Profil Penulis

Ken Hanggara
Ken Hanggara
lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991. Menulis puisi, cerpen, novel, dan skenario FTV. Karyanya terbit di berbagai media. Bukunya: Museum Anomali (Unsa Press, 2016), Babi-Babi Tak Bisa Memanjat (Basabasi, 2017), Negeri yang Dilanda Huru-Hara (Basabasi, 2018), dan Dosa di Hutan Terlarang (Basabasi, 2018).